Aku dan Bintang

“Apa yang kamu sukai dari angkasa?”

“Langit maksud kamu?”

“Angkasa.”

“Ah, sama saja.”

Percakapan seperti itu selalu menjadi alasan kami berdebat. Rein bilang angkasa adalah udara sedang langit adalah ruangnya. Mereka berbeda. Aku bilang langit adalah angkasa. Angkasa adalah langit. Mereka merujuk pada hal yang sama.

“Aku suka langit karena di sana ada awan. Aku bisa membayangkan apa saja dari segumpal awan. Aku bahkan bisa membayangkan wajahmu yang merah padam karena dimarahi ayahmu.”, aku tertawa. Rein diam saja. “Aku suka langit karena di sana ada bintang. Aku bisa bercerita apa saja pada bintang. Aku bisa meminta apa saja pada bintang.”

“Kamu pikir bintang bisa mengabulkan permohonanmu?”, Rein mencibir alasanku.

“Tentu saja. Memangnya siapa lagi yang bisa mengabulkan permohonanku? Kamu?”, kataku sengit sambil membalikkan badan. Memunggunginya.

“Mungkin.”

DEG.

Waktu itu aku memang belum menyukai Rein Adrian. Menyukai yang aku maksud adalah jatuh cinta. Kami memang tinggal bersebelahan. Orang tua kami berteman baik sejak keluarga Rein pindah ke lingkungan tempat kami tinggal sekarang. Aku berteman dengannya sejak ia dan keluarganya pertama kali bertamu ke rumah kami. Siapa sangka, kami mempunyai banyak kesamaan. Karenanya kami menjadi teman akrab.

Sore itu, ketika kami berdebat tentang langit dan angkasa untuk pertama kalinya, kami sedang berada di taman kota. Di tengahnya, terdapat tanah lapang tanpa pepohonan. Darisana, kami bisa memandang langit sepuasnya, seluas mata kami mampu memandang.

“Memangnya apa yang kamu minta kepada bintang?”, Rein bertanya suatu kali.

“Permintaan kepada bintang, tidak boleh diberitahukan kepada orang lain. Bintang bisa saja cemburu dan tidak mengabulkan permintaanku.”

“Bagaimana bintang bisa cemburu bila ia tidak tahu bahwa kamu sudah memberitahuku sebuah permintaan?”

“Bintang tahu segalanya. Aku tidak diperbolehkan untuk berbohong apalagi berkhianat.”

“Ah, kamu terlalu lugu. Bintang tidak sejahat itu. Yang aku tahu bintang itu baik. Bintang juga suka jika kita memiliki banyak teman yang bisa dipercaya untuk menjaga rahasia.”

“Kamu tahu apa tentang bintang?”

“Aku juga sering meminta sesuatu kepada bintang. Kadang permintaanku aku ungkapkan juga kepada ibu, tapi bintang tetap mengabulkan permintaanku.”

“Benarkah?”

“Tentu saja.”

Aku memberitahu Rein sebuah permintaan yang aku minta kepada bintang. Keesokan harinya, Minggu pagi, Rein sudah mengetuk pintu rumahku. Bersama kedua orangtuanya, Rein meminta ijin kepada kedua orangtuaku agar aku diijinkan untuk ikut pergi bersama mereka. Rein dan kedua orang tuanya kompak tidak mau memberitahu kemana mereka akan pergi. Aku penasaran tetapi memilih untuk tidak memaksa mereka agar memberitahuku. Tidak lama kemudian, kami tiba di pantai berpasir putih dengan ombak yang tenang. Bintang mengabulkan permintaanku untuk melihat pantai melalui Rein.

Aku memelihara pikiran seperti itu selama bertahun-tahun, bahwa bintang tetap mengabulkan permintaanku meskipun aku telah berkhianat. Sampai aku menyadari bahwa bukan bintang yang mengabulkan permintaanku, tetapi Rein. Ketika itu, aku sedang terbaring di rumah sakit. Hampir mati. Rein yang sedang menemaniku, sementara kedua orang tuaku sedang berbicara dengan dokter yang menanganiku. Rein pikir aku sedang tidak sadarkan diri, lalu dia berbicara padaku seolah-olah aku akan menjawab setiap pertanyaannya. Rein menceritakan semuanya. Sampai detail. Tidak hanya mengenai yang dia lakukan tetapi juga apa yang dia pikirkan. Suaranya penuh semangat, tapi dibuat-buat. Aku bisa merasakan perasaan sedih yang mengiringi setiap kalimatnya.

Aku juga pernah meminta ini kepada bintang. Aku mau bintang memberitahuku perasaan yang sebenarnya sedang dirasakan Rein. Rein itu kadang tidak jujur, aku kesal. Dia berlagak seolah-olah semuanya baik-baik saja padahal dia sedang tidak baik. Untuk permintaan ini, bintang mengabulkannya.

Rein punya rahasia. Dia mengira aku tidak tahu apa-apa tentang dia dan bintang. Aku juga punya rahasia, Rein tidak tahu bahwa ada sesuatu antara aku dan bintang.

***

Sekarang, aku sedang berada di sebuah taman tempat kami pertama kali berdebat. Aku sedang memandang langit seluas yang aku mampu. Aku sedang membayangkan wajah Rein pada segumpal awan putih. Wajah Rein dengan ekspresi serius. Mungkin ia sedang menyerapahi kemacetan yang membuat ia belum tiba di sini.

Hari ini aku akan mengatakan semua yang aku tahu. Aku akan mengungkapkan apa yang aku rasakan. Rein tidak boleh membodohiku lagi. Ia juga harus mengungkapkan perasaannya. Bagaimana mungkin aku bisa pergi tanpa kejelasan.

Satu jam telah berlalu dari waktu yang telah kami sepakati. Sedikit putus asa, aku memutuskan untuk menuliskan saja apa yang ingin aku ungkapkan. Bila Rein tidak juga tiba satu jam ke depan, maka aku akan menitipkan surat yang aku tulis. Mungkin pada seorang gadis kecil yang sedang bermain di sekitar sini.
Menit-menit terakhir, aku masih berharap. Sekali lagi aku meminta kepada bintang agar aku bisa bertemu Rein. Sekali ini saja. Semoga bintang masih berbaik hati. Atau, semoga Rein masih berbaik hati.

Kali ini bintang tidak mengabulkan permintaanku.

Baiklah, semoga gadis kecil ini menyampaikan suratku pada orang yang tepat.

Aku pergi.

Advertisements

4 thoughts on “Aku dan Bintang

  1. Teguh Puja says:

    Setiap benda yang ada di angkasa punya daya tariknya sendiri. Dan disini kamu mengeskplorasi keindahan dan keistimewaan bintang. 😉

    Kisah yang manis; dan juga pahit. Melebur menjadi satu.

      • Teguh Puja says:

        Untuk pemilihan diksi sudah sangat pas, Dew. Dan juga cerita yang dihadirkan cukup membuat pembaca mudah membuat gambarannya sendiri mengenai setiap adegan yang ditampilkan.

        Semoga di kesempatan selanjutnya, pengemasan cerita dan kekuatan tulisan kamu bisa lebih dieksplorasi lagi. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s