Kejutan

Ayah dan ibu sudah lama tidak terlihat mesra.

Biasanya mereka menonton televisi berdua sambil saling bergandengan tangan, tanpa malu-malu di depanku. Aku hanya tersenyum dan mengagumi keakraban mereka. Tapi beberapa hari ini aku kehilangan momen tersebut. Ayah menonton televisi sendirian, tanpa ibu. Sedangkan ibu lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Aku tidak pernah melihat mereka beradu mulut apalagi bertengkar. Aku pikir mereka hanya sedang mengalami surut dalam hubungan. Mungkin seperti aku dan pacarku, sesekali.

Sore ini, ayah mejemputku dari sekolah. Ibu sedang bekerja seperti biasa. Pada perjalanan pulang ayah singgah di toko bunga dan membeli seikat besar bunga mawar putih. Kesukaan ibu, juga kesukaanku. Aku bertanya apa yang sedang direncanakan ayah. Ayah diam saja. Hanya tersenyum. Setelah itu, ayah kembali memarkirkan mobilnya di depan toko kue langganan keluarga kami. Ayah membeli tiramisu. Kesukaan ibu, juga kesukaanku. Aku bertanya pada ayah, akan ada perayaan apa. Ayah diam saja. Hanya tersenyum.

Aku berusaha mengingat kalau-kalau hari ini adalah hari penting. Ulang tahun ibu, bukan. Ulang tahun ayah, bukan. Ulang tahunku, bukan. Ulang tahun pernikahan mereka, juga bukan. Aku menyerah maka aku membiarkan saja khayalanku yang bekerja. Aku bayangkan bahwa ayah sedang menyiapkan kejutan untuk ibu. Mungkin untuk mengembalikan kemesraan mereka. Aku tersenyum membayangkan malam nanti ibu terkejut, terharu, menangis dan memeluk ayah. Kemudian ayah akan meminta maaf dan mereka kembali berpelukan lama. Melihat itu, aku akan tersenyum bahagia.

Malamnya, sampai aku pamit untuk berangkat les, ayah belum juga mulai mempersiapkan kejutannya. Ibu belum pulang. Mungkin lembur seperti biasa. Aku berdoa, semoga aku tidak melewatkan momen penting seperti yang aku khayalkan siang tadi.

Ketika aku tiba di rumah, mobil ibu sudah ada di garasi, artinya ibu sudah pulang. Agak gelap. Kenapa lampu-lampu sudah padam pada jam-jam ini? Apa aku melewatkan momen penting yang aku khayalkan tadi siang? Ponselku bergetar. Ternyata ada pesan dari ayah. Katanya, mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah nenek. Tiba-tiba ibu minta diantar ke sana.

Aku membuka pintu depan, langsung menuju kamar dan menyalakan lampu. Aku ingin segera tidur saja.
Tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang. Laki-laki yang langsung menutup mulutku agar aku tidak berteriak. Kenyataannya aku tetap berusaha berteriak walaupun tidak menghasilkan suara apa-apa, aku meronta-ronta berusaha melepaskan diri atau setidaknya aku bisa membalikkan badan untuk melihat siapa laki-laki itu. Laki-laki itu mempererat pelukannya sambil sesekali menciumi kepalaku. Aku mengigit tangan yang menutup mulutku lalu laki-laki itu berteriak. Teriakan itu. Ayah.

***

Kelopak-kelopak mawar putih bertebaran di atas kasurku. Di tengah-tengahnya tiramisu tergeletak manis menggodaku. Ayah melonggarkan pelukannya dan berusaha membuat aku tenang. Aku masih menangis dan menunggu penjelasan. “Kamu bukan anak kandungku dan aku mencintai kamu, Lestari.”, katanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s