Kata Bapak

Lapangan ini biasanya kosong. Rumputnya kuning dan tanahnya retak-retak. Bahkan anak-anak pun tidak mau bermain bola di sana. Terlalu penuh debu, kata mereka. Namun, beberapa hari ini lapangan ini berubah semarak. Bunyi musik tak henti menghentak, tawa anak-anak yang terbahak-bahak bahkan nyala terang lampu-lampu yang seolah tak berjarak. Aku yang sedang dalam perjalanan pulang pun tergoda untuk singgah dan melihat-lihat kemeriahan yang mereka tawarkan.

Pasar malam. Hiburan murah meriah yang mengundang semua kalangan untuk bergabung. Siapa sangka keluarga Hartono yang rumahnya menyerupai istana pun terlihat datang bersama istri dan kedua anaknya. Kalau keluarga Sukirman yang sehari-hari pekerjaannya memulung sampah plastik tidak perlu dipertanyakan. Karena keluarga mereka tidak mungkin jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, maka setiap kali ada pasar malam seperti ini, mereka pasti ada.

Komidi putar dan permainan lainnya tak pernah sepi. Selalu saja ada orang-orang tua yang mengantri karena rengekan anak-anak mereka. Lapak-lapak baju, celana, tas, sepatu, kaos kaki, peralatan rumah tangga dan makanan pun tak luput dari serbuan pengunjung. Maklum, pasar malam seperti ini sudah bertahun-tahun tidak diadakan. Pasar malam terakhir berakhir ricuh. Ada pemuda-pemuda yang berkelahi entah karena apa. Yang jelas, mereka dalam keadaan mabuk waktu itu.

Di sudut yang agak terpisah, ada lapak yang lumayan bagus. Aku mendekat. “Tukar telapak tangan kamu dengan masa depan yang cerah. Berani?” Begitu kata spanduk yang ternyata adalah milik seorang peramal. Aku berhenti memperhatikan orang-orang di sekeliling pasar malam dan ikut mengantri menunggu giliran untuk diramal. Aneh. Sejak kapan aku percaya ramalan? Yang aku tahu, Tuhan tidak mungkin membocorkan rahasia. Ia seharusnya bisa dipercaya. Masa depanku hanya Tuhan yang tahu. Itu pun berdasarkan keluh kesah yang aku ceritakan. Kepadaku Tuhan tidak mau membicarakan masa depan apalagi kepada seorang peramal di sebuah pasar malam.

“Sudah bosan kerja ya?”, kata peramal itu ketika aku duduk di hadapannya. Dia bahkan belum melihat telapak tanganku. Aku bahkan belum memperkenalkan diri dan menceritakan tentang pekerjaanku.

“Keliatan dari raut wajah kamu.”, katanya melanjutkan. Mungkin selain sebagai peramal lelaki ini juga ahli membaca raut muka. Seperti para ahli yang sering memberikan komentar di acara gosip setiap kali ada artis yang diduga berbohong ketika memberikan klarifikasi.

“Kalau bosan kerja, kenapa nggak mengundurkan diri saja?”

“Belum dapat pekerjaan yang lain.”, akhirnya aku menjawab pertanyaannya. Dia meminum kopinya seteguk.

“Kan bisa buka usaha. Bukannya kamu di pemasaran? Berarti pintar dagang dong.”

Oke, ini agak aneh. Aku tersenyum kikuk. Mulai percaya bahwa laki-laki di hadapanku ini benar-benar cenayang. Tidak hanya bisa membaca masa depan, tetapi juga masa lalu dan masa sekarang. Aku merasa ditelanjangi. Sungguh tidak nyaman.

“Menurut bapak begitu? Sebaiknya saya berdagang daripada menjadi pegawai?”

“Iya. Coba liat telapak tangan kamu.”

Ia hanya melihat sekilas. Tapi sepertinya sudah tahu segalanya.

“Kamu lebih baik berdagang. Paling bagus di bidang makanan. Kamu tidak perlu membuat sendiri makanan yang kamu jual. Beli saja dari orang lain. Lalu jual.”

Sampai di sini, tukang ramal ini lebih mirip konsultan keuangan daripada tukang ramal. Lebih menyerupai psikolog juga. Rancu. Atau mungkin dia memang lulusan fakultas psikologi sebelum akhirnya sadar akan potensinya dan memutuskan untuk menjadi peramal. Entahlah.

Aku yang sepanjang perjalanan pulang tadi memang sedang bimbang, menjadi semakin bimbang. Bapak sedang sakit. Ia perlu berobat dan biayanya tidak murah. Pekerjaanku sekarang adalah yang bisa menjadi sumber keuangan terbesar. Ibu? Saudara-sauddaraku? Entah di mana. Aku hanya berdua dengan bapak. Keinginanku untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku sekarang, sudah terpikirkan sejak setahun yang lalu. Lalu aku lupakan sejak sebulan yang lalu, sejak bapak mulai sering batuk-batuk dan harus sering berobat. Namun kebimbangan itu masih tetap ada.

Dalam kondisi seperti ini, seharusnya aku tidak mendengarkan pendapat orang lain. Apalagi pendapat dari orang yang tidak aku kenal seperti lelaki ini. Seharusnya aku membuat keputusan sendiri dan berpikir sendiri, seperti biasanya.

“Nggak usah terlalu banyak yang dipikirkan. Atau kalau kamu bingung, coba tuliskan poin positif dan poin negatif dari masing-masing pilihan. Hitung bobotnya. Misalkan nilai positifnya lima dan negatifnya empat, lupakan yang empat.”

“Tanpa kebimbangan pun, hidup kamu sudah rumit. Jadi sebisa mungkin, kamu harus menyederhanakan beberapa hal. Misalnya ya ini.”

Ia berjalan ke belakangku, memanggil asistennya untuk mengantarkan aku keluar.

“Malam ini, sekian dulu. Kalau kamu percaya kata-kataku, segera lakukan. Kalau tidak, silakan terus merasa bimbang. Keputusan ada di tangan kamu.”

Ia tersenyum lalu duduk membelakangiku. Pengusiran secara halus. Aku pergi diantarkan keluar oleh asistennya.

Keluar dari lapak sederhana itu, aku sudah melupakan nyala terang dan tawa riuh orang-orang. Aku kembali tenggelam dalam pikiranku tentang keputusan yang harus segera aku ambil. Sepanjang perjalanan aku mencari-cari pertanda alam. Isyarat yang mungkin Tuhan titipkan kepada angin dan pepohonan.

“Baru pulang?”, bapak menyapaku dari kegelapan ruang tamu yang menyelimutinya ketika aku tiba di rumah..

“Sudah, Pak. Bapak bikin kaget saja. Kenapa gelap-gelapan begini?”, aku berjalan mencari saklar lampu di dekat pintu kamarnya.

“Malam sudah seharusnya gelap. Manusia saja yang tidak mau menerima keadaan dan berusaha melawan alam.”

“Bukan melawan alam, Pak.”, aku berjalan ke dapur untuk mengambil minuman. “Mereka hanya jenius sehingga berhasil menciptakan alat penerangan. Itu namanya teknologi. Ditujukan untuk membantu manusia. Mempermudah hidup manusia. Kalau nggak ada teknologi, bapak nggak akan bisa nonton siaran berita.”

Sebenarnya pernyataan bapak itu tidak perlu dibantah. Bapak juga mengatakannya sebagai basa-basi, bukan sebagai sesuatu yang memerlukan perdebatan serius. Aku rasa mengeluhkan hal-hal kecil sudah menjadi kebiasaan bapak belakangan ini.

“Besok saya lembur ya, Pak. Bapak nggak apa-apa kan saya tinggal sendirian sampai malam?”

“Ngapain kamu lembur? Bukannya kamu sudah cukup lelah bekerja sesuai jamnya?”

“Iya, tapi honornya lumayan. Bisa buat biaya berobat Bapak minggu depan.”

“Nggak usah lembur. Bapak sudah sehat kok. Tidak perlu ke rumah sakit lagi.”

Sesaat setelah berkata begitu, bapak malah batuk keras.

“Tuh kan. Apanya yang sudah sembuh. Pokoknya besok saya lembur. Bapak istirahat saja lebih awal. Tidak perlu menunggu saya pulang”

Bapak merengut. Artinya aku tidak boleh lembur. Kalau yang ini, bapak benar-benar tidak ingin dibantah. Dan kali ini aku benar-benar ingin membantah. Bapak bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Aku menyiapkan air hangat dan menyusulnya ke kamar. Membantu bapak minum obat dan menemani bapak sampai bapak tertidur pulas.

Keesokan harinya, aku berangkat pagi. Bapak belum bangun, tetapi aku tetap pamit. Rencananya, aku akan pulang saat jam istirahat siang untuk memastikan bahwa bapak sudah makan dan minum obat. Tetapi pekerjaannku tidak mengijinkan aku untuk pulang. Akhirnya aku hanya bisa menelepon bapak.
Sorenya, aku menelepon bapak sekali lagi. Mengingatkan bahwa aku akan lembur dan bapak tidak usah menunggu. Bapak tidak berkata apa-apa lalu menutup telepon. Aku merasa bersalah dan meminta maaf lalu kembali melanjutkan pekerjaanku.

Perasaanku tidak tenang. Mungkin karena membantah bapak. Sesegera mungkin aku selesaikan pekerjaanku. Bergegas pulang dengan taksi, bukan metromini. Yang aku inginkan adalah segera tiba dirumah.

Di depan rumah, aku disambut keramaian. Aku segera mencari tahu. Ada bapak tergeletak di trotoar jalan. Pingsan. Kata mereka ambulans akan segera tiba. Tapi aku tidak mau menunggu ambulans. Aku meminta tolong orang-orang yang ada untuk mengangkat bapak ke dalam taxi yang tadi aku tumpangi. Untungnya taksi tersebut belum pergi jauh karena terhalang kemacetan.

Untungnya bapak tidak apa-apa. Hanya kelelahan. Begitu sadar, aku bertanya apa yang ia lakukan di luar rumah. Ia bilang, ia mau ke kantorku. Bertemu denganku untk terakhir kalinya, pamit.

“Bapak mau kemana? Bapak nggak boleh kemana-mana.”

“Bapak sudah dipanggil Tuhan berkali-kali. KataNya, hanya dengan kepergian Bapak, kamu bisa meraih sukses.
Selama Bapak masih hidup, hidup kamu tidak akan menjadi lebih baik. Bapak terlalu merepotkan.”

“Bapak jangan mengada-ada. Bagaimana mungkin bapak merepotkan, aku kan anak bapak. Sudah menjadi tanggung jawabku merawat bapak.”

Bapak mengabaikan kata-kataku. “Sesudah ini, kamu berhenti saja kerja. Lebih baik buka usaha sendiri. Kamu kan pandai menawarkan barang. Kamu bisa jadi pedagang yang sukses.”

Bapak terus berbicara. Kata-katanya mengingatkan aku kepada peramal di pasar malam waktu itu. Kata-katanya persis sama.

“Kamu tidak perlu memproduksi sendiri barang dagangan kamu. Beli saja dari orang lalu jual.”

Bapak memalingkan pandangannya ke langit-langit kamar. Air mata menetes dari ujung matanya mengalir menuju telinganya.

“Bapak mau lihat kamu sukses dari atas sana. Makanya kamu harus segera bertindak. Ambil keputusan. Jangan bimbang.”

Bapak memejamkan matanya. Semoga hanya tertidur karena kelelahan. Nafasnya masih tedengar pelan.

“Hidup ini sudah rumit. Nggak usah terlalu banyak pertimbangan. Sederhanakan beberapa hal. Misalnya ya ini. Bapak pasti selalu mendoakan kamu.”

Setelah mengatakan itu, bapak menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dan aku hanya bisa menangis sambil terus menggenggam tangannya. Mungkin bapak benar. Aku harus memutuskan sesuatu tanpa banyak pertimbangan.

Namun, yang paling menyedihkan dari semua ini adalah mengapa bapak harus pergi agar aku bisa sukses? Apakah ini harga yang harus aku bayar? Apakah sebuah keputusan harus memiliki konsekuensi yang begini menyakitkan? Entahlah. Kali ini, keputusanku sudah bulat. Aku tidak boleh membantah bapak.

Advertisements

2 thoughts on “Kata Bapak

  1. Teguh Puja says:

    Dari satu cerita, kadang kita bisa mendapatkan banyak pelajaran yang menarik. 😀

    Ah, cerita ini dikemas dengan sangat baik. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s