Sekolah Milik Semua

Mereka menyebutnya sekolah, meskipun area tersebut hanya berisi sebuah ruangan yang berdinding triplek dan berlantai tanah. Tanpa meja untuk meletakkan buku tulis yang cuma satu. Tanpa kursi untuk menghindar dari tanah basah setiap habis hujan.

Saat ini, di ruang kelas tersebut ada belasan anak berusia antara tujuh hingga sebelas tahun yang berkumpul. Duduk melingkar dan pandangan mereka tertuju pada sebuah papan tulis yang masih kosong. Sudah tiga jam mereka di sini, menunggu kedatangan guru mereka satu-satunya.

Dua jam kemudian, mereka membubarkan diri. Untuk ketiga kalinya, mereka mendapati bahwa harapan hanyalah sebuah kesia-siaan. Ini kali ketiga guru mereka tidak datang, artinya sudah tiga minggu mereka tidak mendapat pendidikan. Ada gurat kecewa dalam raut wajah mereka. Mungkin sang guru menyerah dan tidak mau lagi menempuh satu jam perjalanan ke dalam perumahan penduduk untuk berbagi pengetahuan.

***

“Woi!”

Tepukan penuh semangat itu datang dari Kania. Sudah menjadi ciri khas Kania, setiap kali datang pasti membawa kejutan berupa tepukan di bahu kiri. Aku tidak mendengar suara langkah kakinya datang. Sepertinya karena aku memusatkan konsentrasi pada majalah yang sedang terbuka di hadapanku.

“Kai, coba liat artikel ini. Kasian banget deh. Aku kira, di Indonesia semua daerah udah maju. Aku kira semua orang udah sekolah. Ya walaupun sekolah mereka nggak bagus-bagus banget, minimal ada sekolah di daerah mereka.”

“Hei, kemana aja kamu, Lis?” Kania menghinaku, bercanda.

“Lah, emang kamu tau tentang situasi macam gini?”

“Ya tau lah. Pergaulan aku kan lebih luas dari sekolah, les Bahasa Inggris dan les renang.”

Satu lagi kalimat hinaan yang dijadikan candaan oleh Kania. Aku memilih untuk tidak meladeni candaannya. Pikiranku sedang terpusat pada artikel itu. Aku merasa gelisah dan ingin melakukan sesuatu.

“Udah deh, aku lagi serius nih. Kamu tau nggak, lokasi di artikel ini di mana? Kayaknya nggak jauh dari sini deh.”

“Tau.”

***

“Bu, aku mau ke tempat yang ada di artikel ini ya.” aku menunjukkan majalah yang tadi aku baca kepada ibu. Ibu membaca sekilas isi artikel itu.

“Mau apa, Nak? Ibu sedang sibuk, nggak bisa mengantar kamu ke sana.”

“Mau ngajar mereka, Bu. Kasian, guru mereka satu-satunya udah nggak mau ngajar lagi.”

Ibu agak terkejut. Matanya membesar, senyumnya menghilang. Tapi, tidak lama kemudian ia tersenyum.

“Kalau hari Minggu, ibu akan antar kamu. Ajak Kania juga ya.”

Aku tersenyum bahagia lalu buru-buru mencium pipi ibu. “Makasi, Bu.”

Hari Minggu pun tiba. Sebelum ke lokasi yang kami maksud, ibu singgah di sebuah toko perlengkapan sekolah. Ibu bilang, untuk belajar, anak-anak harus punya buku tulis, pensil dan penghapus. Sekali lagi, aku tersenyum bahagia lalu buru-buru mencium pipi ibu.

Dengan semangat aku dan Kania memilih buku tulis bergambar kartun yang lucu, pensil dan penghapus yang jumlahnya cukup untuk anak-anak itu. Ketika tiba di sana, kami mengatakan maksud kami kepada kepala lingkungan dan langsung menuju ke ruang kelas yang mereka sebut sekolah.

Satu persatu mereka datang dengan pakaian seadanya, tanpa seragam seperti yang biasa aku pakai. Tanpa alas kaki, tidak seperti aku yang sedang memakai sepatu kulit. Dan mereka hanya membawa sebuah buku tulis lusuh yang sudah pernah basah terkena air lalu dikeringkan di bawah sinar matahari. Tidak seperti buku tulisku yang selalu baru bahkan sebelum habis halaman terakhir.

Aku terharu. Melihat mereka aku jadi bersyukur. Aku janji, aku akan sering-sering meminta ibu untuk mengantarku kesini. Aku akan belajar bersama mereka. Membuat mereka merasakan yang namanya sekolah dan proses belajar yang sebenarnya. Dan yang paling penting mereka harus bisa membaca dan berhitung.

 

*Nggak ada ide. ==” Akhirnya nulis ini berdasarkan liputan di TransTV tadi siang tentang daerah terpencil yang nggak punya sekolah. Kata liputannya, meskipun udah merdeka selama 67 tahun, tapi kenyataannya Indonesia belum merdeka dalam hal pendidikan.

*Inti ceritanya sih, perubahan (ke sifatnya positif) bisa dibikin oleh siapapun. Yang penting ada niat dan benar-benar mau melakukannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s