Berlari Pulang

Oktober 1998

Di rumah, semuanya teratur. Diatur tepatnya. Oleh bapak. Setiap pukul lima pagi, kami semua harus sudah bangun. Tempat tidur harus sudah dalam keadaan rapi. Ibu bertugas memasak, aku harus membantu. Adik-adikku bertugas merapikan ruang tamu, ruang keluarga dan kamar mandi. Bapak bertugas merapikan beranda, halaman depan dan halaman belakang. Setelah semua tugas selesai, kami harus segera bersiap-siap untuk sekolah. Mandi, memakai seragam, menyiapkan tas dan segala keperluan termasuk bekal makan siang dan botol air minum.

Pukul 6.30 kami harus sudah duduk di meja makan. Sarapan akan dilakukan bersama seluruh anggota keluarga. Terlambat sedetik, maka kami harus berangkat sekolah berjalan kaki. Tidak ada jok belakang sepeda motor bagi anak-anak yang terlambat.

Hari ini, hari sial. Kamis yang menyebalkan. Aku tidak berhasil menemukan buku gambar besar yang aku simpan entah di mana dan hari ini ada pelajaran menggambar. Aku sempat bimbang. Bila aku teruskan mencari buku gambar maka aku pasti terlambat sarapan dan harus berjalan kaki ke sekolah. Tetapi bila aku langsung ke meja makan untuk sarapan maka aku akan mendapat hukuman di sekolah karena tidak membawa buku gambar.

Akhirnya aku putuskan untuk membongkar rak buku di kamar dan aku berhasil menemukan buku gambar itu setelah 20 menit. Akibatnya, aku berakhir di jalanan. Menyusuri setapak demi setapak jalan raya menuju sekolah. Ya, aku terlambat tiba di meja makan untuk sarapan.

Berjalan kaki ke sekolah artinya terlambat tiba di sekolah. Sekolah memang dapat ditempuh dalam 10 menit dengan sepeda motor. Tetapi bila berjalan kaki, aku perlu 30 menit, 20 menit jika aku berlari.

Di tengah perjalanan, ketika aku berlari dengan keringat yang sudah membasahi sebagian seragamku, ibu muncul di sampingku. Ia baru saja mengantarkan adikku sekolah dan kembali menyusuri jalanan ini untuk mencariku.

“Ayo, naik. Ibu antar kamu ke sekolah. Tapi, jangan bilang-bilang sama bapak ya.” katanya sambil tersenyum.

“Makasih, Bu.” aku tersenyum girang lalu lompat ke jok belakang sepeda motornya.

 

***

Oktober 2006

Dari dulu, ibu selalu begitu. Sebisa mungkin membela dan membantu anak-anaknya di depan bapak. Beberapa bantuan tentu saja tanpa sepengetahuan bapak. Sebaliknya, ibu akan membela bapak di depan anak-anaknya. Itu juga tanpa sepengetahuan bapak.

Sampai sekarang pun masih. Setiap kali bapak menelepon menanyakan kabar dan menanyakan tabunganku, aku selalu menjawab dengan jujur. Kejujuran adalah juga kunci kesuksesan, kata bapak. Lalu setiap kali aku berkata dengan jujur bahwa aku tidak memiliki tabungan, bapak akan mulai dengan nasehatnya. Bapak bilang, “Hidup di rantauan harus memiliki tabungan yang cukup. Untuk berjaga-jaga bila tiba-tiba ada keperluan yang tidak terduga.”

Tidak lama kemudian, aku akan mendengar suara ibu menjadi suara latar nasehat bapak.

“Bapak mulai lagi. Hidup di Jakarta itu mahal, Pak. Mana bisa Genta nabung dengan gaji pas-pasan begitu.”

Lalu bapak akan menjawab ibu, “Ah, ibu selalu membela Genta. Kerja di Jakarta, gajinya pasti banyak, Bu. Kalau Genta nggak punya tabungan, dia pasti menghabiskannya untuk hal-hal nggak penting. Apa dia nggak punya rencana pengeluaran? Apa dia sudah lupa caranya hidup disiplin, termasuk disiplin tentang keuangan?”

Aku di seberang sini, hanya tersenyum. Rindu. Tiba-tiba ingin berada di dekat mereka. Menikmati pertengkaran kecil mereka yang disebabkan olehku. Pertengkaran kecil yang sebenarnya tidak perlu terjadi bila aku mau sedikit berbohong tentang memiliki tabungan. Membenarkan ibu bahwa hidup di Jakarta itu mahal. Membenarkan bapak bahwa terkadang aku membeli hal-hal tidak penting. Jakarta memang terlalu penuh berisi godaan yang menyebabkan pegawai kelas menengah sepertiku menjadi konsumtif. Membeli gengsi, tepatnya.

 

***

Oktober 2012

Aku masih hidup disiplin. Ajaran bapak tentang yang satu itu masih membekas bahkan sudah tertanam sebagai karakter. Setiap kali aku membuat rencana untuk tujuan tertentu, aku disiplin mengikuti rencana tersebut. Rencana adalah induk ayam dan aku anak ayam yang memiliki kebutuhan untuk mengikuti kemana induknya berjalan. Bila tidak, aku akan bingung, ya seperti anak ayam kehilangan induk.

Disiplin, dan kejujuran, itulah yang akhirnya membawa aku berhasil dalam bisnis yang sudah dua tahun terakhir aku jalani. Berhenti menjadi pegawai, aku mengerahkan seluruh tenaga dan sisa-sisa uang yang aku miliki untuk membuka sebuah usaha percetakan di Bali.

Aku pulang. Setelah bertahun-tahun bergelut dengan kehidupan ibu kota, aku memutuskan untuk kembali dan memulai segalanya dari awal. Rinduku kepada mereka tidak perlu ditahan-tahan lagi, karena setiap kali aku rindu aku tinggal pulang ke rumah. Kantor dan rumah hanya berjarak 10 menit jika aku tempuh dengan sepeda motor, 30 menit dengan berjalan kaki, 20 menit bila aku berlari.

Tiba-tiba, bapak menelepon ketika aku masih di kantor, bapak masih suka memberi nasehat tentang disiplin dan kejujuran.
Lalu aku masih akan mendengar suara ibu sebagai suara latar. “Iya, Pak. Genta sudah tahu itu. Bapak lihat, kan. Usahanya perlahan-lahan maju dan semakin lama semakin baik. Bapak kalau mau ngasih nasehat, kasih nasehat yang lain saja. Misalnya, bagaimana caranya mencari istri yang baik.”

Aku kaget mendengar ibu berkata seperti itu. Memang belum terpikir olehku untuk menikah, tapi perkataan ibu barusan adalah sebuah kode. Aku tersenyum. Rindu. Tiba-tiba ingin melihat mereka yang pasti sedang tersenyum-senyum karena membicarakan tentang pernikahan.

Aku ingin pulang, kali ini dengan berlari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s