Buatkan Aku Sebuah Puisi

Kecupan ringan di keningku mendarat lebih cepat daripada iluminasi cahaya surya di jendela kamarku. Mata masih kupejamkan tetapi aku bisa merasakan aroma tubuh Kelana ada di dekatku. Aku menebak bahwa ia sedang berlutut di samping tempat tidur lalu memandangi aku yang dipikirnya masih terlelap. Aromanya memudar, langkah kakinya terdengar menjauh, lalu pintu ditutup dengan perlahan.

Aku membuka mata. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah langit-langit kamar. Ada sebentuk hati yang terbuat dari susunan bintang yang bisa menyala dalam gelap. Kapan Kelana mengerjakannya? Ada perasaan hangat yang menjalari dadaku tiba-tiba.

Sudah seharusnya Kelana meminta maaf. Ia tidak akan merasa tenang menjalani hari bila aku masih belum menunjukkan sikap bersahabat.

Aku mendekati jendela. Membuka tirai sedikit hanya untuk menyapa matahari. Ia membalas sapaanku dengan senyum yang super lebar. Aku menjadi bersemangat dan membuka tirai lebih lebar. Mataku berhenti pada sebuah kotak berwarna emas, sebesar kotak jam tangan. Duduk sendirian di ujung jendela dengan tutupnya sedikit terbuka menghadap matahari. Aku mengambil dan membukanya. Ada mawar putih tanpa tangkai di sana. Tanpa tangkai artinya tanpa duri. Aku mengambil mawar tersebut dan menciumnya. Aromanya membawaku pada ingatan ketika aku dan Kelana berlibur ke Lombok. Waktu itu, ribuan kelopak mawar putih memenuhi kamar kami. Aromanya aroma kedamaian.

Kelana ceroboh. Menempatkan mawar pada sebuah kotak. Tanpa tangkai, tanpa air. Bagaimana mawar itu bisa bertahan lama.

Aku kembali. Duduk di samping tempat tidur dan mengambil handphone dari laci kemudian mengaktifkannya satu persatu. Ini adalah hari Sabtu. Seharusnya tidak ada yang mencariku. Tapi ternyata aku salah. Ada tiga bunyi berturut-turut yang menandakan masuknya tiga pesan.

*kiss
Good Morning, Sunshine.
Sarapan, yuk.

Ajakan sesederhana ini tidak mungkin berhasil membawaku ke meja dapur. Kelana sangat tahu itu.

Roses are red, violets are blue
Please, get off that bed, and end my lonely view

Kelana selalu menang dalam baris seperti ini. Aku berjalan menuju dapur sambil membaca pesan ketiga.

Slowly, My Dear.
Smile.
Enjoy every step you take.
I love you.

Setelah menuruni tangga, aku melewati ruang keluarga. Aku berhenti seketika. Video pernikahan kami diputar. Suara Bryan Adams merdu dan syahdu sedang menyanyikan I’ll Always Be Right There. Senjata pamungkas Kelana setiap kali melakukan kesalahan. Godaan untuk marah lebih lama akan runtuh seketika.

Kelana datang mendekat, kerepotan dengan nampan yang dibawanya. Sepotong roti gandum, omelet keju, segelas air putih, segelas susu hangat dan setangkai mawar di sebuah vas bunga mini.

“Istriku harus sarapan. Biarpun sedang marah,  istri dan anakku harus tetap sehat.” katanya sambil mengelus lembut perutku lalu memelukku, “Maaf ya, semalam aku pulang terlambat.”

“Maaf diterima, tetapi dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Buatkan aku sebuah puisi.”

Seperti sudah tahu aku akan meminta puisi sebagai imbalan, Kelana melepaskan pelukannya. Mengambil sesuatu dari kantong celananya. Selembar kertas yang katanya berisi puisi. Lalu ia tersenyum penuh kemenangan. Aku pun tersenyum penuh kesenangan.

Advertisements

2 thoughts on “Buatkan Aku Sebuah Puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s