JULAIKAH

Namanya Julaikah. Gadis keturunan Arab berhidung runcing dan berkulit putih. Kegemarannya adalah menulis puisi. Bapaknya seorang kepala desa. Dan dia adalah bunga desa. Kecantikannya tidak hanya terkenal di seantero desa tempat tinggalnya, tetapi sudah meluas hingga ke desa sebelah. Yang datang melamarnya tidak tanggung-tanggung. Pegawai pemerintah yang baru dinaikkan pangkatnya, mahasiswa yang baru lulus kuliah dan mendapat pekerjaan tetap, para pemilik perusahaan besar, bahkan pejabat di pemerintah pusat.

Julaikah tidak pernah tahu bagaimana pria-pria ini bisa sampai ke rumahnya dan terpikir untuk melamarnya. Dia bahkan belum pernah bertemu para pelamar ini sebelumnya. Yang paling mengherankan, bapaknya pernah memaksanya menikah dengan seorang duda beranak tiga hanya karena pria tersebut berjanji akan membangun sebuah sekolah dasar di desa tempat ia tinggal.

Julaikah menolak. Ia kabur di hari pernikahannya. Bapaknya kalang kabut dan harus menanggung malu sendirian. Julaikah berpikir, biar saja bapak menahan malu untuk sementara waktu, setelah kehebohan ini mereda, ia akan kembali dan menjalani hidup seperti biasa.

Kenyataannya, Julaikah masih di sini. Di sebuah rumah kontrakan di pinggiran Jakarta yang ia anggap sebagai rumah barunya. Bersama sebentuk khayalan yang tidak ia biarkan mati terlalu cepat. Julaikah baru menyadari, bahwa khayalan adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa merasa bebas. Bebas dari segala permasalahan.

Khayalannya terbagi dua. Kadang sama besar, kadang tidak sama besar. Satu bagian berisi Rendra. Sedangkan bagian yang lain berisi Cendana. Mereka adalah lelaki yang beberapa bulan ini mengisi puisi-puisinya. Bertemu pertama kali di sebuah toko buku tempat Julaikah bekerja. Pertemuan selanjutnya, di toko buku yang sama. Para lelaki ini datang setiap hari tanpa alasan yang jelas. Membaca buku-buku acak. Dulu, ketika pertama kali datang, mereka membaca kumpulan buku sastra, hari berikutnya filsafat, hari berikutnya majalah otomotif, hari berikutnya hukum, siang tadi mereka kembali dan membaca acak komik-komik.

Dari gerak-gerik mereka, terlihat jelas bahwa mereka sedang berusaha mencuri perhatian Julaikah. Toko buku tempat Julaikah bekerja bukanlah toko buku besar. Hanya tiga orang pegawai yang berjaga di setiap shift-nya. Tidak ada rak yang terlalu tinggi. Setiap orang yang datang tidak bisa menyembunyikan wajah mereka dari orang lain yang ada di sana. Setiap orang yang datang tidak bisa menyembunyikan maksud kedatangan yang jelas-jelas terpatri di wajah mereka.

Rendra dan Cendana, setiap kali datang, selalu berusaha mencuri pandang ke arah Julaikah yang sedang sibuk melayani pelanggan lain. Firman, teman kerja Julaikah pernah memergoki Rendra sedang memandang Julaikah yang sedang berjalan ke arah gudang. Firman bilang kepada Julaikah, β€œAda yang tertarik denganmu.”

Julaikah hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Dalam hati, Julaikah kegirangan dan berkhayal mengenai memiliki Rendra sebagai kekasih. Kebiasaannya mengkhayal, dimulai dari sini.

Waktu yang ditunggu pun tiba. Suatu hari, Rendra memberanikan diri menyapa Julaikah dan mengajaknya berkenalan. Tidak tanggung-tanggung, Rendra langsung mengajak Julaikah makan malam dan rela menunggu Julaikah menyelesaikan shift hariannya. Setelahnya, pintu pertemanan pun terbuka lebar. Rendra terus berusaha menunjukkan ketertarikannya. Julaikah masih jual mahal.

Di lain pihak, Cendana pun memberanikan diri menyapa Julaikah. Cendana mengajak Julaikah berkenalan dengan lebih sederhana. Hanya bertanya nama dan kegemaran masing-masing. Setelah itu, Cendana menghilang selama beberapa hari. Membuat Julaikah merasakan yang namanya rindu. Cendana begitu berkarisma. Sedikit bicara. Namun tatapan matanya serupa kunci. Julaikah seolah-olah tidak bisa melepaskan pandangannya dari Cendana.

Malam ini, dalam khayalannya yang terbagi dua, Julaikah dibuat bingung. Kedua pria ini sangat menarik. Menumbuhkan perasaan-perasaan yang selama ini ia tahan. Rindu kepada keluarga pun seperti terkubur oleh perasaan bahagia yang menyelimutinya. Rencananya untuk segera pulang, urung.

Julaikah berkhayal mengenai menjadikan Rendra sebagai kekasihnya kala siang, sedangkan Cendana ia jadikan kekasihnya kala malam. Bersama Rendra, ia bisa bertualang ke dunia baru yang belum ia tahu. Puisi-puisinya akan memiliki atmosfir yang berbeda karena kehadiran Rendra. Bersama Cendana, malamnya akan lebih berwarna. Tidak sekadar gelap bertabur bintang atau cahaya bulan. Cendana mungkin bisa menambah pelangi di ujung mata Julaikah. Pelangi yang terlihat karena sikap Cendana yang tulus berisi perhatian. Julaikah akan terharu dibuatnya.

Khayalannya semakin menjadi-jadi. Sedangkan Julaikah semakin tidak mengenali diri sendiri. Khayalannya menguasai hidup Julaikah. Setiap siang, ia akan menulis puisi tentang ia dan Rendra, seolah-olah apa yang ia tulis benar-benar terjadi. Pekerjaannya mulai kacau. Pribadinya yang menyenangkan berubah menjadi pendiam. Setiap malam, ia akan menulis puisi di beranda belakang rumahnya lalu berbicara seolah-olah Cendana ada di sana menemaninya.

Julaikah hidup dalam khayalannya. Rendra dan Cendana perlahan mulai berlalu dari hadapannya.

Yang kemudian terjadi adalah Julaikah berhenti bekerja. Mengurung diri di kamar hanya untuk menulis puisi. Bersama Rendra dan Cendana dalam khayalannya. Tidak akan berhenti menulis sampai ia merasa pegal sendiri. Rendra sering datang, begitu pula Cendana. Tentu saja, maksud Julaikah, mereka datang dalam khayal. Tempat Julaikah hidup sekarang.

Kondisi tubuhnya menurun. Julaikah tidak menyadarinya. Ia tidak peka akan tubuhnya sendiri. Yang terpenting adalah ia bisa menyelesaikan puisinya berdasarkan kejadian yang seolah-olah ia alami.

Julaikah mengakhiri hidupnya dalam lautan kertas. Dengan pena di tangan, ia merasa sebagai serdadu yang sedang berperang. Berusaha menang melawan kenyataan yang ia anggap sebagai penjajah. Buktinya, ia berhasil menang. Mengalahkan realita dan terus menghidupi Rendra dan Cendana dalam khayalan.

Puisi terakhirnya bahkan belum tuntas. Baru tiga baris, ditulis dalam tinta emas. Lalu napasnya berhembus pelan. Habis.

Pungguk-pungguk tidak lagi merindukan bulan

Bulan-bulan tidak lagi bulat sempurna,

Aku tidak lagi ada

 

Advertisements

6 thoughts on “JULAIKAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s