#30HariLagukuBercerita – Andai Aku Bisa

Tubuhmu memang sedang menjejak bumi yang ada didekatku. Kakimu menekan, menginjak pasir pantai yang berusaha membebaskan diri, malas berdesakan satu sama lain. Tubuhmu memang ada dihadapanku. Tapi toh tak akan lama. Dipunggungmu, sudah kau pikul masa depanmu. Dihatimu, sudah terduduk di atas singgasana, seorang wanita yang terus memanggilmu untuk kembali pulang. Kau sudah tak bisa menghindar. Beberapa waktu yang lalu, kau memang mengabaikan panggilan itu. Mengabaikannya seolah-olah kau tahu bahwa ia akan datang lagi lain waktu. Sama seperti kupu-kupu yang kerap datang mengetuk pintu rumah kita tanpa diminta. Beberapa waktu yang lalu kau mengabaikan panggilan itu dan lebih memperhatikan suaraku yang memanggilmu. Tak peduli apapun yang sedang kau lakukan, kau akan datang, menghampiri sang pemilik suara. Aku ingat, kau pernah meninggalkan layang-layang kesayanganmu yang sedang menantang angin di ketinggian sana karena mendengar suaraku memanggilmu dari tengah laut. Kau merelakan layang-layangmu terbang entah kemana bersama angin. Kau mengkhawatirkan aku yang sendirian ditengah laut. Kau pikir, aku akan tenggelam. Hey, mengapa kau jadi panik begitu? Mengapa kau tiba-tiba lupa kalau aku pandai berenang? Waktu itu, kau hanya tertawa. Menertawakan kebodohanmu sendiri. Lalu kau bilang, kalau kau tak punya hati untuk menyakitiku. Menurutmu, dengan tidak memenuhi panggilanku sama artinya dengan menyakitiku.

***

Mulutmu komat-kamit mengucapkan kalimat-kalimat ditelingaku. Apa, sih, yang sebenarnya ingin kau sampaikan? Mengapa kau jadi cerewet begini? Aku menolak mendengarkan karena ini pasti menjadi kalimat terakhirmu buatku. Aku malas memaksakan telingaku menelan kata-katamu. Aku lebih tertarik untuk mengalihkan pandanganku pada ombak di belakangmu yang berusaha menyentuhmu. Mengapai-gapai putus asa. Ombak-ombak itu tak berhasil menyentuhmu ketika akhirnya mereka menitipkan sentuhan kepada angin laut yang segera mendarat. Lalu, memang ada angin yang berhembus pelan dari belakangmu. Menyentuh, mengayunkan baju putihmu yang memang ringan, mengacaukan rambutmu yang memang mulai memanjang. Angin yang sama juga menerpa wajahku mengingatkan tentang kepergianmu yang segera menjelang. Mulutmu masih mengucapkan kata-kata perpisahan. Aku segera tahu kalau kau tak menangkap pesan angin agar kau tetap tinggal. Maka aku, dalam sekelebat pandang, menitipkan pesan kepada angin untuk disampaikan kepada awan. Mau bagaimana lagi? Kau tetap tak tergerak untuk tak pergi. Kata-kata perpisahan masih terus mengembara di udara mencari celah untuk memasuki pendengaranku.

***

Kita berdiri berhadapan. Matamu memang sedang menatap mataku membuatku mendongak karena kau sedikit lebih tinggi. Walaupun aku dengan berani memandang balik ke dalam matamu, tapi aku merasa kalah.

Aku merasa kalah karena kebersamaan kita tak bisa lebih lama. Kebersamaan kita hanya mampu mencatatkan dirinya pada lingkaran tahun pohon-pohon yang kita peluk untuk mempertemukan tangan kita. Pada saat yang bersamaan, kebersamaan kita tak bisa lebih lama dari kesenangan rerumputan yang selalu dikecup mesra oleh embun pagi yang tak pernah sama di setiap musim. Kita memang tak terlalu lama bersama, sampai-sampai aku masih ingat betapa malangnya lagu-lagu kesayangan kita yang harus tertarik sembunyi dari peredaran karena kalah populer dari lagu-lagu baru yang lebih mencuri perhatian.

Tidak bisa lebih lama sampai-sampai kau melepaskan genggaman tanganku dan mundur selangkah. Lagi-lagi aku merasa kalah. Tapi untunglah, kali ini angin adalah penyampai pesan yang baik karena bersamaan dengan jatuhan air mataku, seketika itu juga awan menurunkan hujan untuk menyamarkannya. Lihatlah.! Hujan ini turun, juga untuk menahanmu pergi. Semakin lama semakin lebat agar kau kembali ke rumah kita untuk berteduh. Agar kau mengalami lagi melihat piringan hitamku yang sempat tersedu-sedu menuntut giliran untuk didengarkan karena kau selalu ingin menikmati musik yang sama dan aku tak ingin merusak kesenanganmu.

***

Tapi, kali ini kau benar-benar mengabaikan panggilan ombak, panggilan angin, panggilan hujan, panggilanku. Kau terus berjalan semakin jauh. Mataku melihatmu semakin lama semakin mengecil, kemudian menjadi setitik putih dan menghilang.

Tinggalah aku sendiri. Terduduk kesepian memandang jejakmu di pasir pantai yang dihapus dengan cepat oleh hujan. Aku terduduk lama, dan mulai membenahi perasaanku. Aku tidak kalah. Aku tidak boleh merasa kalah. Karena walaupun kau pernah bilang kalau kau tak punya hati untuk mencintaiku, tapi aku senang karena kau masih punya hati untuk menginggalkan jejakmu dalam tubuhku. Ya, aku belum kalah.

*Terjemahan bebas dari lagu Andai Aku Bisa yang dipopulerkan oleh Chrisye…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s