#30HariLagukuBercerita – Jangan Ada Perpisahan Lagi

Ya Tuhan.

Dia pergi lagi. Tidak ada bedanya dengan senja yang kadang ada, namun lebih sering tidak ada.

Hidup sejahtera itu memang tidak mudah. Untuk bisa memiliki uang demi memenuhi kebutuhan hidup, harus ada yang dikorbankan. Waktu kami berdua. Waktu kami bertiga. Dan waktu mereka berdua. Dia dan bayi kami yang masih dalam kandunganku.

Pergi dinas ke luar kota sebenarnya bukan hal yang baru bagi kami berdua. Pekerjaanku dulu juga sangat memungkinkan aku pergi dinas ke luar kantor, ke luar kota bahkan ke luar negeri sesekali. Dulu, aku masih bisa terima bila kami sama-sama sibuk dan tidak ada waktu untuk bersama di akhir pekan. Tapi sekarang, ketika kami sudah menikah dan aku memutuskan untuk berhenti bekerja, aku tidak lagi melihat perpisahan kami sebagai sesuatu yang wajar. Mungkin karena aku sedang hamil, maka aku merasa ingin lebih diperhatikan. Diperhatikan secara langsung olehnya. Seperti sinar matahari yang langsung memeluk sebagian dunia. Hangatnya terasa.

Ya Tuhan.

Berbicara lewat telepon itu rasanya sungguh tidak sama. Sangat jauh berbeda dengan ketika aku berbicara secara langsung. Seharusnya ada tangan yang memilin-milin rambutku atau mengusap-usap punggungku ketika kami menceritakan kegiatan kami seharian ini. Seharusnya ada tatapan mata yang sayu, sendu tetapi mampu menyampaikan rasa sayang juga rindu, ketika aku menyuapkan sendok demi sendok makan malamku. Dan akan ada yang marah jika aku tidak menghabiskan makananku.

Namun, terpujilah teknologi yang memungkinkan aku berbicara dengannya lewat telepon ketika kami saling berjauhan seperti sekarang. Ini sudah menjadi semacam kewajiban. Sama halnya dengan berbicara dengan-Mu. Dan biasanya itu membuatku tenang.

Dan entah kenapa, tiba-tiba aku teringat ketika dia mengatakan bahwa jalanan kota seindah apapun tetaplah terkesan sepi tanpa ada aku. Seharusnya memang begitu. Jalan-jalan kota merupakan masa lalu dan masa depan kami. Kami sering menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di halte yang sepi. Memandangi orang-orang dan kendaraan yang lalu lalang. Menebak-nebak perasaan orang-orang dari ekspresi wajahnya. Menertawai hal-hal sederhana yang mengusik mata.

Tuhan, maafkan aku karena berkali-kali berbohong dan menggodanya dengan mengatakan bahwa bayi kami merindukan usapannya. Aku sering mengatakan bahwa bayi kami bereaksi maksimal setiap kali dia menelepon. Yang benar adalah, aku tidak bisa memastikan apakah kerinduanku merupakan kerinduan bayi kami juga. Harapanku supaya dia segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang. Tapi sepertinya itu tidak begitu berhasil. Buktinya, sampai sekarang dia masih di sana. Lain kali, aku harus mencari alasan yang lebih baik.

Tuhan, memberi pesan mengenai menjaga diri dengan baik, selalu aku lakukan. Dan dia selalu mengiyakan pesan itu. Tapi aku tahu, dia sering melewatkan makan siang dan itu sering membuatku kesal. Maka, aku harus meminta kepada-Mu. Tolong jaga dia dengan baik. Terutama ketika aku tidak ada di sampingnya. Lindungi dia dimanapun dia berada. Lindungi dia dalam kegiatan apapun yang sedang dilakukannya. Jangan biarkan dia merasa bingung karena pekerjaan yang rumit. Karena setiap kali dia merasa bingung, dia harus mencari aku sebagai pegangan. Sebagai pemberi semangat untuk mengembalikan fokusnya ke pekerjaan dan menemukan solusi dari setiap permasalahan. Aku hanya ingin dia pulang dengan selamat sehingga kami bisa merayakan rindu dengan pelukan hangat.

Dan setelahnya, Tuhan, tolong jangan ada lagi perpisahan yang menyebalkan seperti ini.

*terinspirasi dari lagu Dear God yang dipopulerkan oleh A7X

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s