#15HariNgeblogFF – Setitik Noda Merah

Setitik noda merah di langit senja adalah pemandangan yang kita sepakati sebagai yang paling indah. Ya, kita menyebut matahari sebagai noda. Mengotori langit senja yang jingganya sudah sempurna. Mungkin matahari seharusnya tidak ada di sana. Ia cukup bersembunyi di balik awan.

Senja kali ini kamu entah di mana. Membuat aku terkapar begitu merana. Apakah kamu ingat atau sedang pura-pura lupa? Bahwa ketiadaanmu membuat aku menjadi tak nyata. Langit sore yang kita sebut sakral, tiba-tiba menjadi berhala yang disembah sekumpulan pagan tanpa nama. Dan aku salah satu anggotanya. Tanpa kamu, yang aku lakukan hanyalah dosa.

Matahari semakin menodai. Semakin tak mau pergi apalagi setelah mendapati aku sedang sendiri. Bukan, bukan karena ingin menemani. Sebaliknya, ia justru menyeringai. Ngeri. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Setitik noda merah yang terpantul di permukaan danau. Aku menggoyang-goyangkan kaki untuk memunculkan beriak. Sebentar kemudian, ia menghilang. Sebentar kemudian, muncul lagi.

Aku masih menunggu kamu. Sambil duduk manis di dermaga tua pinggir danau. Sambil menghitung berapa kali aku menggoyang-goyangkan kaki. Sambil menghitung berapa kali matahari pergi lalu muncul lagi. Sambil mengingat-ingat janji kita untuk bertemu di sini. Senja ini.

19 Oktober 2012. Pukul delapan belas lewat tiga puluh sembilan menit. Aku tak mungkin keliru. Karena aku tidak terburu-buru. Karena semua angka memiliki makna tertentu. Sembilan belas puisi harus kita hadiahkan kepada satu sama lain. Sepuluh diantaranya harus berbau rindu. Delapan belas jam adalah lama perjalanan dari kotaku menuju danau ini. Sedangkan tiga puluh sembilan menit adalah waktu yang kamu perkenankan untukku menunggu. Lebih dari itu, aku harus pergi, katamu. Janji ini kita buat sembilan tahun yang lalu.

Tetapi aku ingkar. Untungnya aku ingkar. Karena, meskipun samar, aku bisa merasakan kedatanganmu. Aku bergegas. Berbalik tapi tak melihat kamu. Aku berlari ke segala arah. Mencari kamu tanpa kenal lelah. Hampir saja aku terjatuh. Tapi sebelum wajahku menyentuh lantai kayu di dermaga tua pinggir danau, kamu menangkap tubuhku. Dan aku melihat kamu. Akhirnya.

***

Kamu. Wajah yang sama sekali tak bertambah tua. Tetapi begitu pucat. Tanpa ekspresi. Tanpa senyum. Tanpa kehangatan. Dan matamu. Aku tak menemukan diriku di dalamnya. Hanya ada kegelapan. Kamu tak lagi bersahabat.

Lalu kamu menyeringai. Dan terlihatlah setitik noda merah di ujung bibirmu. Aneh. Yang aku rasakan justru ngeri. Seperti seringai matahari sore tadi. Dalam sekejap mata, bibirmu sudah di leherku. Tanganmu erat memeluk pinggangku.

Perlahan tapi pasti, taringmu menekan, menembus kulitku. Aku bisa merasakan setitik demi setitik noda merah meninggalkan tubuhku –darah. Aku mulai memahami apa yang terjadi. Sementara itu, aku meyakini diri sendiri. Bila aku harus berganti wujud agar bisa terus bersamamu, aku rela. Mungkin karena aku sudah terlalu cinta. Ah ya, cinta. Satu-satunya hal yang tak pernah kita sepakati sejak dulu.

Malam ini, aku mati. Kamu abadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s