Tentang #PuisiHore

Sudah sekian lama berlalu dan saya baru membuat riviu. Ragu adalah yang membuat saya takut. Atau sebaliknya, takut yang membuat saya ragu. Takut salah berkata-kata. Ragu karena saya bukan siapa-siapa.

Namun, ucapan terima kasih patut saya sampaikan kepada penggagas event #PuisiHore. Karena pada event ini saya belajar membuat soneta, membuat puisi akrostik (dengan sedikit pemaksaan kata di sana-sini), belajar menerjemahkan lukisan dan menuangkannya dalam satu dua baris puisi.

Ucapan terima kasih lainnya saya sampaikan karena pada event ini, nama saya bisa bersanding dengan master-master puisi di Twitter. Meskipun belum bisa membuat puisi sebagus mereka, tapi saya (boleh kan) merasa bangga(?). πŸ™‚

Lalu apresiasi terbesar terhadap event #PuisiHore saya sampaikan karena event ini adalah event pertama yang membuat saya (akhirnya) menuliskan sesuatu tentang ibu. Terharu. Karena saya selalu merasa kesulitan menyusun serakan kata untuk menggambarkan ibu atau kejadian-kejadian terkait beliau.

Selebihnya, seperti biasa, setiap kali mengikuti event menulis serupa ini, saya merasa bahwa tulisan pertama saya adalah yang paling bagus (menurut penilaian saya sendiri). Semakin lama, semakin kurang bagus. Entah kenapa.

Untuk itu, kiranya para penggagas event #PuisiHore bersedia menyebutkan satu judul puisi saya yang paling kalian suka. Silakan pilih yang paling bagus di antara yang tidak bagus. πŸ™‚

Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih ya!

— Semarang, 291212

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s