Menjelang Pagi

Menjelang pagi, bintang memperlihatkan nyala paling terang. Sebelum mati di langit kelabu sebagai perindu paling bimbang. Menjelang pagi, matahari bersiap-siap terbang. Sebagai penguasa semesta paling raya, lantang.

Menjelang pagi, sepasang bintang mengintip dari balik matamu. Di bawah selimut yang melindungi kita dari hembus udara beku. Kamu bertanya, “pukul berapa?”. Aku menjawab, “empat tiga puluh sembilan.”. Lalu sepasang bintang itu menghilang lagi di balik matamu. Senyummu ranum, lenganmu jarum, menembus bawah punggungku lalu menarikku
mendekat, tubuhmu harum.

Menjelang pagi, radio memutarkan lagu kesayangan kita. Kicau nuri mengetuk jendela untuk meminta perhatian dari luar sana. Kamu bersenandung, aku ikut-ikutan. Kamu tertawa-tawa, aku ikut-ikutan. Kamu menceritakan mimpimu dengan bisik pelan, aku ikut-ikutan. “Pagi ini akan menjadi kenangan paling lekang.” katamu.

***

Menjelang pagi, aku membiarkan jendela terbuka. Angin mengantarkan embun suka-suka. Pagi ini tanpa lagu kesayangan, hanya nuri dengan kicau samar-samar. Di balik selimut, ada hangat pura-pura, berasal dari senyum yang terpaksa. Kamu diam. Aku ikut-ikutan. Dan melalui kenangan yang lekang, aku belajar merelakan.

Bahwa di pelukan Langit, kamu telah menjadi kejora paling tenang.

Advertisements

One thought on “Menjelang Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s