#15HariNgeblogFF – Cintaku Mentok di Kamu

(cerita sebelumnya)

 

Memperhatikan orang secara diam-diam bukanlah hal yang mudah. Seringkali aku harus tetap terlihat profesional ketika aku kedapatan mencuri-curi pandang ke arahnya. Elang. Memendam rasa penasaran pun sama. Aku diharuskan bersabar agar bisa mengobati rasa penasaranku dengan cara yang elegan. Misalnya begini, setelah berbulan-bulan menjadi seorang pemuja rahasia, akhirnya aku memberanikan diri menarik Elang untuk bekerja denganku di proyek  ini. Alasannya sederhana saja. Tunggu, tunggu. Berbicara mengenai alasan, maka aku mempunyai dua alasan untuk dua hal yang berbeda. Pertama, alasan mengapa aku menjadikan Elang sebagai rekan kerja. Yaitu karena aku ingin mengenal dia lebih dekat. Modus? Mungkin. Kedua, alasan kenapa aku tertarik untuk memperhatikannya. Yaitu karena pembawaannya yang sedikit misterius. Semacam membuatku penasaran tanpa ia sengaja.

Dan ia benar-benar salah telah mempermainkan rasa penasaranku. Karena sekali aku dibuat penasaran, maka aku tidak akan berhenti sampai rasa tersebut terpuaskan. Efeknya? Elang akan –atau mungkin sudah, merasa sedikit kalang kabut. Sesekali ia akan memandang lekat cincin yang melingkar di jari manisnya dan aku secara bergantian. Anggi. Sisca. Anggi. Sisca. Anggi. Sisca. Mungkin seperti itu yang sedang ia renungkan. Memilih antara istrinya atau aku. Jangan menghakimiku. Aku hanya sedang memperjuangkan kebahagiaan. Sama seperti kalian.

Aku akui bahwa cincin yang ia kenakan, merupakan sebuah halangan yang sangat sulit untuk aku atasi. Tetapi aku menyerahkan sebagian kesulitan itu kepada Tuhan. You know, sebagian alasan dari terwujudnya suatu pernikahan –juga kebahagiaan, adalah karena takdir. Sebagian lagi karena hak prerogatif si pelaku dalam mengambil keputusan. Maka dari itu, sejak mengenal dan merasakan ketertarikan fisik terhadap Elang, aku mulai mendekatkan diri kepada Tuhan. Aku berdoa agar Ia sedikit membelokkan takdir pernikahan Elang. Tuhan paham bahwa sudah waktunya aku berbahagia dan mendapatkan apa yang aku inginkan sehingga Ia membantuku dalam banyak hal. Termasuk keberadaanku di Semarang saat ini. Bersama Elang yang masih terheran-heran dengan kejutan kecil yang aku buat.

Isn’t it cool? Membuat kejutan manis untuk mendapat sebuah pelukan tiba-tiba yang tak berani aku mulai? Oh, aku merasa berhasil. Besar kepala. Lalu merasa memiliki Elang. Mengenai cincin di jari manisnya, aku tak lagi peduli.

Sore ini Semarang mendung. Tapi hatiku tidak. Aku berbahagia ketika Elang melarang adiknya datang menjemput. Artinya kami akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersama. Menjenguk ibu Elang yang katanya sedang sakit? Nanti saja, setelah urusan kami selesai.

Beberapa jam bersama adalah sesuatu yang aku syukuri. Meskipun aku harus menahan sakit akibat tusukan-tusukan kecil di dada, Elang tidak boleh tahu. Aku tidak sedang sakit tapi aku harus menahan sakit. Rumit? Cinta memang begitu. Membuat segalanya terlihat baik-baik saja, padahal di balik itu tersimpan cerita duka yang tak dapat dilihat oleh semua orang. And I have to deal with it. Tak masalah.  Sekali lagi, sebagian dari pernikahan, juga kebahagiaan, disebabkan oleh takdir. Aku sangat paham.

Bagi Elang pun sama. kebahagiaan yang begini singkat harus dia syukuri. Tidak mudah mencari-cari alasan untuk tidak pulang ke rumah. Terlihat jelas dari sorot matanya. Ada rasa geregetan yang melintas di sana. Mungkin ia lebih ingin bersamaku daripada pulang ke rumah. Mungkin. Dan saat perpisahan ini pun tiba. Aku harus kembali ke Jakarta, sedangkan Elang harus pulang ke rumah orang tuanya. Aku mengucapkan salam perpisahan dengan sebuah pelukan yang terencana. Sambil berbisik lalu mengakui sesuatu.

“Cintaku mentok di kamu, Lang. Tapi tubuhku mentok di Voodoo.”

“Voodoo?”

Aku mengarahkan pandangan kepada Anggi yang berdiri di dekat pintu lobi stasiun. Elang mengikuti arah pandangku. Ia tampak terkejut. Dan Anggi tampak tak berusaha menyembunyikan diri.

Aku segera berlalu sebelum Elang menyadari kepergianku. Sambil meringis menahan sakit di dada, sekali lagi aku melirik ke arah mereka. Elang yang berusaha mengejarku namun terhalang petugas stasiun sehingga tidak dapat masuk ke peron dan Anggi yang lekat menatapku dengan tatapan kemenangan disertai boneka voodoo yang ia genggam erat. Ah, siapa yang peduli dengan menang kalah. Toh dalam hatiku, tetap akulah pemenangnya. Memenangi cinta Elang meski tak bisa memilikinya. Elang itu seperti piala. Terkadang seorang pemenang tidak memerlukan piala sebagai simbol kemenangan. Bukan begitu?

Aku ambruk di kursi kereta menuju Jakarta. Selain Elang, lampu-lampu di gerbong tiga adalah hal terakhir yang aku lihat. Setelahnya, pandanganku gelap. Selamanya.

*

#13HariNgeblogFF Hari ke-7

Advertisements

2 thoughts on “#15HariNgeblogFF – Cintaku Mentok di Kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s