#15HariNgeblogFF – Untuk Kamu, Apa Sih yang Tidak boleh?

(cerita sebelumnya)

 

Setelah Sisca kembali ke Jakarta, aku mengajak Anggi berbicara empat mata. Orang-orang di stasiun melihatku dengan pandangan heran karena aku menarik tangan Anggi dengan paksa. Beberapa kali ia harus berlari kecil untuk mengimbangi jalanku yang cenderung cepat. Sesekali ia tersandung hingga hampir jatuh karena tidak sempat menghindari lubang kecil di tengah jalan.

“Apa ini?” kataku sambil mengambil paksa boneka yang sedari tadi ia genggam erat. Boneka itu terbuat dari karung goni yang berisi kapas dengan jahitan seadanya. Di bagian dada tertancap jarum yang menembus hingga ke punggung boneka. Aku mencabut jarum tersebut dengan segera.

“Bukan apa-apa.” jawab Anggi cepat sambil berusaha merebut kembali boneka yang ada ditanganku. Aku menghalanginya. Ia berusaha sekali lagi namun aku gagalkan.

“Sisca kamu apakan?” kataku dengan nada tinggi.

Anggi diam saja. Aku tak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Bahkan aku heran bagaimana bisa ia mengenal dukun dan ritual mistis semacam ini. Aku pikir ia adalah wanita modern dan berpikiran logis. Tak ada tempat di kepalanya untuk hal-hal berbau mistis.

“Sisca kamu apakan, Nggi?” tanyaku lagi. Bahkan kali ini aku bertanya sambil menggoyang-goyangkan bahunya. Ia masih menunduk. Aku mengangkat dagunya agar ia menatapku namun ia tetap memalingkan pandangannya dari aku.

“Kita ke Jakarta sekarang. Kamu harus minta maaf sama Sisca.” aku hendak menariknya masuk ke dalam stasiun sampai aku mendengar perkataannya.

“Sisca udah mati, Mas.”

“Kamu jangan sembarangan bicara, Nggi.”

“Tapi Sisca udah mati, Mas.” katanya lagi sambil menghentakkan lengannya hingga genggaman tanganku lepas.

“Sisca tidak mungkin mati!” aku menampar Anggi cukup keras hingga meninggalkan rona merah di pipinya. Ia meringis kesakitan lalu airmata membasahi pipinya begitu saja. Aku terdiam memikirkan apa yang barusaja aku lakukan. Mengapa aku begitu marah ketika mendengar Sisca telah meninggal dunia. Toh berita itu belum tentu benar.

Anggi menjauhi aku lalu ia duduk di kursi kosong di lobi stasiun. Aku mendekatinya dan menenangkan diri. Orang-orang lalu lalang seperti biasanya. Beberapa dari mereka memperhatikan kami tetapi lebih banyak yang mengabaikan kami. Aku menggenggam tangan Anggi dan menghapus sisa-sisa airmata di pipinya.

“Nggi, maafkan aku. Aku tidak sengaja.”

“Nggak apa-apa, Mas. Aku udah tahu kamu bakal marah kalo tahu tentang ini. Aku yang salah kok.”

“Benar, Nggi, kamu mau memaafkan aku?” aku mencium tangannya.

“Aku cinta kamu, Mas. Aku akan lakuin apa aja untuk mempertahankan pernikahan kita.”

“Sekalipun dengan cara seperti ini?” tanyaku sambil menunjuk boneka tadi.

“Nggak boleh?” Anggi menantangku tapi kali ini dengan tatapan hangat yang dulu membuat aku jatuh cinta.

“Boleh, Nggi. Untuk kamu, apa sih yang tidak boleh?” aku mengembalikan boneka tersebut kepada Anggi.

Kami berpelukan meski sebagian pikiranku masih mengkhawatirkan Sisca. Terutama ketika aku melihat Anggi menusukkan jarum ke dada boneka itu berkali-kali. Sisca, aku harus mencari tahu kabarmu sesegera mungkin.

*

#13HariNgeblogFF Hari ke-8

Advertisements

8 thoughts on “#15HariNgeblogFF – Untuk Kamu, Apa Sih yang Tidak boleh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s