#15HariNgeblogFF – Jangan Kemana-mana, di Hatiku Saja

(cerita sebelumnya)

Udara pagi memasuki rumah seiring pintu yang terbuka lebar. Aku berjalan pelan menuju halaman tempat surat kabar tergeletak. Anggi sedang di kebun samping merapikan tanaman-tanaman koleksinya.

“Kopi kamu di beranda ya, Mas”

Aku berjalan mendekati Anggi alih-alih menuju beranda untuk menikmati kopi pagiku. Memeluknya dari belakang dan memikirkan alasan-alasan yang dulu membuatku memutuskan untuk menikahinya. Wajah ayu. Anak dari keluarga baik-baik. Berpendidikan. Sabar. Calon ibu yang baik. Setidaknya itulah yang aku simpulkan dari perkenalan kami. Orang tuanya menerima saja lamaranku tanpa mempermasalahkan pekerjaanku yang belum tetap. Mereka percaya bahwa menikah adalah pintu rejeki. Dan masing-masing keluarga sudah memiliki rejekinya sendiri. Tiga bulan setelah perkenalan kami, pernikahan pun digelar.

Anggi berbalik dan melepaskan pelukanku. “Kopinya diminum dulu. Kamu kan nggak suka kopi dingin.”

“Yang penting cinta kamu kepadaku tidak dingin, Nggi.”

Cinta?

Cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda. Orang bijak pernah berkata bahwa kamu bisa memilih dengan siapa kamu menikah namun kamu tidak bisa memilih kepada siapa cintamu akan berlabuh. Itu bernama takdir. Lalu, mengingat takdir cintaku yang telah tiada, mungkin aku harus belajar mencintai Anggi dengan sungguh-sungguh.

“Hari ini kita, jalan-jalan yuk, Nggi.”

Anggi tampak terkejut. Ia segera meneguk teh hijaunya dan cepat-cepat melihatku.

“Kamu baik-baik aja, Mas?”

Aku tertawa. Kami tertawa. Anggi heran dengan ajakanku yang tiba-tiba. Biasanya aku lebih memilih menghabiskan hari libur di kantor. Tapi kali ini berbeda.

“Ya sudah, ayo siap-siap.”

Anggi segera bergegas masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, aku mendengar aktivitasnya di kamar mandi. Aku tersenyum dalam hati. Semoga Anggi senang dengan kejutanku, kataku. Benar saja. Pada sesapan terakhir kopi pagiku. Anggi datang dengan dandanan rapi dan wajah malu-malu sambil menunjukkan sebuah kartu.

“Apa ini, Mas?”

Aku merasa menang. Kejutan kecilku membuat Anggi tersenyum.

“Baju baru ini buat kamu. Tahun yang baru pun. Kamu boleh pergi ke manapun, tapi tempat tinggalmu cuma satu. Di sini. Di hatiku. Selamat ulang tahun pernikahan, Nggi.

Elang”

*

Melupakan Sisca bukanlah hal yang mudah. Meski kami tak sempat memadu kasih namun mengenal dia sebagai rekan kerja merupakan hal yang patut aku syukuri. Meskipun kini Sisca sudah menghadap Yang Kuasa, namun bagiku ia tak boleh kemana-mana. Ia harus tetap di sini. Di hatiku saja.

*TAMAT*

#13HariNegblogFF Hari ke-11

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s