33

Aku tak pernah berada dalam situasi yang begini menegangkan. Bayi di gendongan seorang ibu yang berdiri di sebelahku tiba-tiba menangis. Lift nomor 33 yang sudah penuh manusia, semakin terasa sesak. Belasan orang yang tidak saling kenal mulai memandang curiga kepada satu sama lain. Aku memandang curiga pria berkacamata, pria berkacamata memandang curiga ibu-ibu muda, ibu-ibu muda memandang curiga office boy. Begitu seterusnya.

Tidak merasa bersalah, akupun melemparkan tatapan “Bukan aku!” ke arah orang-orang yang menatapku. Aku menahan napas sambil memainkan ponsel untuk mengalihkan perhatian.

Ting!

Pintu lift terbuka. Aku segera menyeruak kerumunan untuk merebut udara demi paru-paruku. Dalam hati aku mengumpat kesal, “Sial. Siapa, sih yang barusan kentut di dalam lift?!”

Advertisements

One thought on “33

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s