Imbalan

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya. Ia mengedipkan mata berkali-kali untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Ibu?”

“Rino?”

Mereka lalu saling berpelukan. Melepaskan rindu yang sudah berdiam dalam dada mereka cukup lama. Tangisan mereka pecah membentuk aliran serupa sungai di pipi mereka yang kasar.

“Ibu, apa kabar?”

“Ibu baik-baik saja, Nak. Kamu apa kabar? Gimana kamu bisa sampai di sini?”

“Saya juga baik, Bu. Berkat bantuan Pak Wardiman, saya bisa sampai di sini. Ibu harus berterima kasih sama beliau.”

Rino tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Senyumnya mengembang diselingi tawa kecil sesekali.

“Pak Wardiman? Pak Wardiman yang tukang pos senior di desa kita itu?”

“Iya, Bu. Beliau yang menjelaskan saya arah ke rumah ibu ini. Beliau kan pernah lama tinggal di Jakarta.”

“Oh, iya. Kamu datang sendiri? Adik kamu mana? Rasti?”

“Mm.. Anu.. Rasti.. Nggak bisa ikut, Bu. Rasti sibuk kuliah. Iya, Rasti sibuk kuliah.”

Rino menjawab pertanyaan ibunya dengan terbata-bata seperti menyembunyikan sesuatu.

“Ya sudah, yang penting kamu sudah sampai di sini dengan selamat. Besok-besok, kamu harus ajak adikmu main ke sini. Ke rumah ibu yang baru. Lebih besar untuk kita tinggal bersama.”

“I..iya, Bu. Nanti kita jemput Rasti di desa.”

Rino memperbaiki ekspresi wajahnya. Agar ibunya tak curiga. Pak Wardiman yang ia maksud telah berbaik hati mengantarkan surat yang ditujukan untuk Rino dari ibunya. Surat yang di dalamnya berisi alamat rumah ibunya yang baru. Hal itu sudah ditunggu Rino sejak lama dan Pak Wardiman memanfaatkan keadaan itu. Ia meminta imbalan atas jasanya kepada Rino meskipun mengantar surat sudah merupakan tugasnya. Apa imbalannya?

***

“Imbalannya pasti duit.”

“Belum tentu. Imbalannya pasti Rasti.”

“Sabarr.. Bisa jadi imbalannya hal-hal lain.”

Fitri, Nini dan Imah terus berdebat. Mereka tak sabar menunggu kelanjutan sinetron favorit mereka tayang setelah iklan lalu melihat tebakan siapa yang benar.

-selesai-

(Words: 328 | tulisan ini untuk beranicerita.com)

banner-BC#06

Advertisements

13 thoughts on “Imbalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s