Suara-Suara yang Aku Dengar Bukanlah Suara-Suara yang Aku Rindu

Mungkin kamu pernah merasa seperti ini: ingin mendengar sesuatu tapi kamu tidak tahu apa yang ingin kamu dengar sampai kamu mendengar sesuatu lalu berkata “Ya, inilah yang mau aku dengar.” lalu setelahnya kamu merasa puas, lega. Terbebaskan. Terselamatkan.

Aku mengalaminya hari ini.

Aku ingin mendengar sesuatu. Maka aku banyak berjalan belakangan ini. Aku berjalan sebentar kemudian berhenti tiba-tiba. Memperhatikan dan mendengarkan apapun yang menarik perhatian. Menguping pembicaraan orang-orang. Aku ingin mendengar sesuatu yang begitu dirindukan oleh telingaku juga sukmaku. Ada kekosongan yang minta diisi di dalam sini.

Pagi menjelang siang. Aku berjalan sebentar lalu berhenti tiba-tiba. Aku berhenti ketika melewati gerobak tukang sayur yang sedang dikerubuti ibu-ibu rumah tangga.

“Hari ini masak apa, Bu Yayuk?”

“Masak sayur lodeh, Bu Monik. Ayahnya anak-anak kangen sayur lodeh buatan saya. Katanya rindu jaman pacaran dulu. Bu Monik tahu warung Rahayu di daerah Gajahmada, kan?”

“Tahu, Bu Yayuk.”

“Dulu kami sering makan di sana. Sayur lodehnya enak. Suami saya sering ajak saya makan di sana. Lama-lama saya jengah juga. Masa iya, saya nggak bisa masak makanan kesukaan suami saya. Sejak itu saya belajar masak sayur lodeh. Niatnya supaya suami lebih sering makan di rumah. Alhamdulillah, sekarang suami saya  malah ketagihan sayur lodeh buatan saya.”

Ibu-ibu yang mendengarkan turut tertawa cekikikan. Aku tersenyum. Mereka menyadari keberadaanku. Aku kembali tersenyum dan segera pergi sebelum mereka bertanya macam-macam. Lagipula bukan pembicaraan ibu-ibu seperti itu yang aku rindukan.

Aku berjalan lagi. Mencari suara-suara lain selain hembus angin dan suara napasku sendiri. Di ujung gang, aku berjalan melewati pangkalan ojek yang lumayan sepi. Hanya ada tiga tukang ojek yang sedang duduk santai menunggu penumpang.

“Gua denger dari Joni, Lu lagi butuh duit? Buat apa?”

“Iya, Gun. Lu liat sendiri, anak gua cuma dua tapi yang satu lulus SMA, yang satu lulus SMP. Pusing gua, kagak ada guit bakal sekolah mereka.”

“Makanya, bikin anak tuh pake perencanaan. Jangan asal jadi.”

Aku tidak berhenti untuk mendengarkan mereka. Suara mereka terdengar jelas dan lagi-lagi bukan suara seperti itu yang ingin aku dengar. Telingaku masih kosong. Jiwaku apalagi.

Suara seperti apa yang aku cari? Aku tidak tahu. Aku berjalan dan terus berjalan.

Langit cerah. Matahari terik. Aku berjalan sambil menyeka keringat yang membasahi dahiku. Belum lama berjalan, hujan turun. Deras. Aku berlari menuju halte bus terdekat. Di sana sudah banyak orang bertujuan sama. Berteduh. Di sampingku, dua perempuan muda terdengar bimbang.

“Hujannya nggak begitu deras. Sepertinya kita akan lama di sini.”

“Nggak apa-apa, Mbak. Aku belum mau pulang.”

“Nggak boleh, Yul. Kamu harus segera pulang. Bapak ibu pasti nyariin.”

“Ah, baru tiga hari. Mana mungkin mereka nyariin aku. Biar hilang sebulan, juga mereka nggak peduli. Yang mereka pedulikan hanya bekerja, bekerja, bekerja. Uang, uang, uang. Mereka hidup seolah-olah aku nggak ada.”

“Hush, kamu nggak boleh ngomong gitu. Mereka itu orangtua kamu…”

“Orangtua kamu juga, Mbak. Kamu, sih enak. Sudah menikah. Ikut suami. Jadi nggak tau gimana rasanya jadi aku. Di rumah sendirian. Bukan anak kesayangan. Coba lah sekali-sekali kamu nginap di rumah. Rasain yang aku rasain. Kamu pasti akan berpikir sama dengan aku. Mereka nggak peduli sama aku.”

Perempuan yang dipanggil ‘mbak’ diam saja. Ia sempat menangkap mataku yang sedang memperhatikan mereka. Aku segera menghindari tatapannya sambil berharap hujan segera reda.

Dua puluh menit aku berdiri gugup. Tepat di menit ke dua puluh, hujan benar-benar reda. Sepeda motor yang berteduh di depan ruko-ruko kosong di seberang jalan, mulai bergerak lagi. Lalu lintas agak tersendat jika hujan begini. Entah kenapa.

Langit cerah. Matahari terik. Aku berjalan lagi. Lalu berhenti di sebuah kios kecil untuk membeli air mineral. Dekat lampu merah. Ada anak kecil yang mungkin lelah mengamen. Usianya sekitar tujuh. Botol air mineral yang berisik kerikil tergeletak begitu saja di sampingnya.

“Kakak mau kemana?” Suaranya mengejutkanku.

Aku diam saja. Tidak menghiraukan pertanyaannya. Aku sedang tidak ingin berbasa-basi.

“Kakak mau pergi kemana? Ke surga nggak, Kak?” Lagi-lagi ia membuatku terkejut, kali ini karena pertanyaannya. “Aku boleh ikut nggak, Kak? Aku mau ketemu ibu. Semua orang bilang kalau ibu ada di surga. Surga itu di mana sih, Kak? Jauh nggak?”

Aku menatap anak itu lekat. Tubuhnya kurus. Pakaiannya lusuh. Rambutnya berantakan dan berdebu. Aku ingin mengabaikannya tapi gagal. Suaranya menarik telingaku untuk mendengar lebih banyak. Pembicaraan tentang ibu dan surga menggelitik jiwaku.

“Kamu sudah makan? Surga itu jauh. Kalau mau ke sana, kamu harus menyiapkan tenaga.”

Ia menggeleng lemah. Aku mengajaknya ke warung terdekat lalu membelikannya makanan. Tidak, tidak. Aku menemaninya makan.

“Aku nggak pernah makan ini.” Ia menunjuk sepotong rendang berwarna pekat. “Enak nggak, Kak?”

Aku mengangguk, tersenyum.

“Makan yang banyak ya.”

Kami berhenti makan setelah butir terakhir nasi di piring masing-masing berpindah ke mulut kami. Anak itu masih saja berbicara, kadang bernyanyi. Suaranya menarik. Merdu. Telingaku senang. Aku merasa ringan. Melayang.

Kami berjalan berdua. Ia memainkan botol air mineral berisi kerikil sambil bernyanyi. Persis seperti ketika dia mengamen. Di perempatan besar, kami berhenti. Lampu lalu lintas mati. Kendaraan saling membunyikan klakson agar tidak didahului.

“Sekarang kita ke mana, Kak?”

“Terserah kamu. Kamu mau lewat mana?”

“Ke surga?”

“Iya, ke surga bisa lewat mana saja. Sama saja. Suka-suka kamu.”

“Aku mau ke sana.” Anak itu menunjuk lurus ke depan. “Kak, nyeberangnya dari sini aja. Aku nggak mau naik tangga itu. Tinggi. Takut.”

“Lewat tangga itu lebih aman. Mau kakak gendong?”

Anak itu menggeleng. Aku menyerah. Kasihan. Aku menuruti maunya menyeberang tanpa melewati jembatan penyeberangan. Aku menggenggam tangannya dengan erat. Orang-orang memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Aku ragu-ragu untuk melangkah maju.

“Ayo, Kak. Kita nyeberang sekarang. Supaya cepat sampai di surga.”

Aku belum menjelaskan bahwa surga bukan di seberang, bahkan bukan di dunia ini.

“Ayo, Kak. Nyeberang sekarang.”

Ia menarik-narik lengan bajuku. Aku mengambil ancang-ancang. Aku menaikkan satu tangan sebagai pertanda agar orang-orang memperlambat laju kendaraannya. Baru tiga langkah, tiba-tiba…

Brukk

Tabrakan! Aku berhenti di tempat. Semuanya berjalan dalam adegan lambat. Aku bisa mendengar kepak sayap sekelompok merpati di dekatku. Aku mendengar embus angin mengenai wajahku dengan lembut. Aku melihat di sekitarku penuh pepohonan hijau dan bunga-bunga bermekaran. Aliran air bergemericik menimbulkan nada. Suara alam seperti itu disukai telingaku. Suara alam seperti itu yang selama ini dicari-cari jiwaku.

Aku tersentak. Aku masih menggenggam erat tangan anak itu. Orang-orang mulai berkerumun di lokasi kejadian beberapa meter dari tempatku berdiri. Aku dan anak itu saling pandang.

“Darah!”

Seru kami bersamaan. Ada darah mengalir dari hidungnya. Ada darah mengalir dari betisnya. Ada darah mengalir dari kepalaku. Ada darah mengalir dari perutku. Kami tertawa lalu berlari menuju kerumunan orang-orang. Sirine ambulans terdengar mendekat. Dari balik kerumunan yang tidak bisa aku tembus, aku mencuri dengar percakapan dua orang.

“Surga sudah dekat ya, Kak? Aku bisa merasa aku akan ketemu ibu. Aku senang.”

“Kita sudah sampai.”

*

 

Tulisan ini untuk menjawab tantangan menulis bertema #nguping dari Jia Effendie di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s