Kilas Balik Mantan

“Hah?! Sampe sekarang kamu belum nikah? Kamu, kan udah 23. Kalo kelamaan single, kamu bisa jadi perawan tua.”

“Ya ampun, Re. Intan baru 23 bukan 33. Kamu nggak usah histeris gitu dong.”

“Iya nih. Nggak usah histeris gitu ah.”

Rere, Maya, Dinda dan aku. Empat sekawan yang menamai diri kami dengan sebutan Girls on Fire. Kenapa Girls on Fire? Karena kami adalah empat-empatnya perempuan –di antara seluruh teman seangkatan, yang bersedia mempermalukan diri mengikuti lomba menari dalam rangka ulang tahun sekolah. Mulanya, karena Rere mendapat tantangan dari para lelaki yang tidak percaya bahwa ia mampu berprestasi. Rere yang gengsinya tinggi merasa tidak terima dianggap tidak mampu. Ia mengiyakan tantangan para lelaki itu. Tidak mau tampil sendirian, Rere lalu mengajak Maya dan Dinda ikut serta. Maya setuju. Dinda tidak setuju, kecuali aku ikut serta. Aku dan Dinda telah lebih dulu berteman akrab. Kami tidak hanya tinggal bersebelahan tetapi juga sudah berteman sejak di bangku TK.

Seperti yang kami duga, semuanya berjalan tidak terlalu baik. Waktu latihan yang terbatas, bakat menari yang sama sekali tidak ada pada diri kami, ditambah cekcok yang terjadi setiap kali latihan. Semua orang merasa ingin didengar. Dengan persiapan yang seadanya, kami pun tampil diakhiri riuh tawa yang membuat wajah kami memerah seperti udang rebus. Dada kami terbakar rasa malu. Girls on Fire mulai eksis sejak itu.

Kejadian memalukan tersebut menyisakan satu hal positif. Sejak itu kami menjadi sahabat baik. Rere, Maya, Dinda dan aku. Tidak ada satu haripun di sekolah yang kami lewatkan tanpa duduk bersama-sama di kantin. Entah untuk membicarakan guru yang menyebalkan atau sekadar mengomentari penampilan anak lainnya. Tawa canda menemani kebersamaan kami. Semakin lama, kami mengenal satu sama lain dengan lebih baik.

Enam tahun kemudian, hari ini, kami berkumpul lagi. Di sini, di kafe favoritku. Rere baru saja kembali dari bulan madu bersama suaminya yang pengusaha meubel. Sebelumnya ia kuliah di Surabaya mengikuti orangtuanya yang dipindahtugaskan. Sejak itu, kami belum bertemu lagi. Maya memilih untuk kuliah sambil bekerja. Katanya untuk meringankan beban orang tuanya. Maklum saja, selain Maya, dua kakaknya pun masih di bangku kuliah. Mengharuskan keluarga mereka memutar otak demi masa depan anak-anak yang lebih baik. Kesibukan Maya membuat kami tak bisa seing-sering bertemu. Dinda dan aku masih tinggal bersebelahan. Kami kuliah di kampus yang sama. Berbeda fakultas. Kami masih sering bertemu. Bahkan Dinda sering menginap di rumahku. Begitu pun sebaliknya.

Sekarang semuanya sedikit berubah. Kami tidak lagi membicarakan tentang guru-guru yang menyebalkan atau penampilan anak baru. Kami lebih sibuk bercerita tentang atasan atau rekan kerja yang menyebalkan juga intrik-intrik dalam hubungan pacaran orang-orang dewasa. Termasuk cerita tentang para lelaki yang dulu pernah mengisi hati kami. Ya, para mantan.

Kami kerap tertawa setiap kali mendengar Rere membicarakan mantan pacarnya yang berduit pas-pasan. Rere adalah anak orang kaya. Ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya kekurangan uang saat hendak berbelanja di mall.

“Kalian bayangin aja. Nggak punya uang tapi ngajakkin gue jalan ke mall. Seolah dia nggak tahu kalau setiap kali ke mall gue pasti belanja. Sebenarnya dia nggak salah juga sih. Bukan gue yang minta dibayarin, tapi dia yang awalnya maksa mau beliin gue sesuatu. Tapi begitu lihat harga barangnya, dia senyum malu dan berbisik bilang uangnya nggak cukup. Untungnya gue bukan orang jahat. Gue nggak mau ciptain drama yang bikin dia ngerasa nggak enak hati. Akhirnya gue ledekin dia. Becanda. Trus, gue bayar sendiri barang yang tadinya mau dia beliin buat gue.”

“Ada ya, cowok yang sok kaya kayak gitu?!” tanya Maya heran.

“Ada!” aku, Dinda dan Rere menjawab serentak. Lalu kami tertawa bersamaan setelahnya. “Tapi dia cowok baik kok.” lanjut Rere sambil tersenyum.

“Itu belum seberapa, Re. Aku pernah punya cowok yang nggak tahu diri beneran.” Maya memulai cerita. Aku, Rere dan Dinda mendekatkan diri ke arahnya.

“Kalian pernah denger istilah achluophobia?” Maya tersenyum penuh misteri.

“Achluophobia? Apan tuh?” Rere bertanya dengan semangat 45.

“Phobia gelap.”

“Mantan Lo takut gelap?? Hahaha… Cowok macam apa tuh?!” Rere tertawa seolah-olah cerita Maya lebih lucu daripada cerita yang dibawakan stand-up-comedian paling ternama. Sementara aku dan Dinda hanya tersenyum. Menurut kami, phobia seperti itu masih wajar.

“Parahnya lagi, mantan gue itu preman bok. Preman, kan nongkrongnya di tempat-tempat gelap, ya nggak? Nah ini, preman takut gelap. Kalian bayangin aja sendiri. Hahaha…”

“Preman siang bolong!” ledek Rere.

“Tatonya dong. Di lengan, di kaki, di punggung, bahkan di dada. Gambar tengkorak, band-band rock lawas, gambar sayap malaikat. Ngeriiii…” Maya dan Rere tertawa tanpa henti sementara aku dan Dinda hanya tersenyum.

“Aku rasa mantan kamu menyembunyikan phobianya dengan menjadi preman dan memenuhi tubuhnya dengan tato. Itu membuat dia terlihat macho dan orang-orang tidak akan sadar akan phobia yang dia derita.” Dinda membuka suara.

“Kamu bener, Din. Aku juga mikir hal yang sama. Namanya aja cowok. Gengsingnya segede Gunung Pangrango. Nggak mau terlihat lemah apalagi di depan cewek-cewek. Ya nggak?”

Maya dan Rere berhenti tertawa lalu mengangguk setuju.

“Eh, Din, seinget Gue, Lo pernah cerita tentang mantan Lo yang tiba-tiba pergi begitu tau bokap Lo polisi. Iya? Siapa itu namanya? Mmm…” Rere mencoba mengingat-ingat nama mantan kekasih Dinda. Jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan kecepatan tinggi.

“Rendi.” jawabku dan Dinda bersamaan. Kami saling berpandangan lalu giliran kami tertawa sementara giliran Maya dan Rere saling berpandangan dengan tatapan heran.

“Dan sampai sekarang, aku nggak ngerti alasan Rendi takut polisi.” Dinda melanjutkan tertawa.

“Mungkin dia trauma karena pernah kena tilang.”

“Atau karena sebenarnya dia preman?”

“Anggota geng motor?”

“Tukang tawuran?”

“Bandar narkoba?”

“Hush. Rendi itu bukan kriminal.” Dinda menghentikan ledekan teman-temannya yang lebih sudah mengarah ke hal-hal yang tidak baik.

“Ciee., belain mantan.” aku menggoda Dinda.

“Ciee., CLBK.” Dinda balik menggodaku. Dan itu mengundang rasa penasaran Maya dan Rere. Habislah aku. Kini aku tidak dapat mengelak dari keharusan untuk bercerita tentang Danis.

Danis adalah pria ketiga dalam hidupku. Hubungan yang paling singkat namun paling dalam. Aku bilang paling dalam karena untuk pertama kalinya aku memiliki kekasih yang sama-sama menyukai travelling. Bahkan aku bertemu dengannya ketika aku melakukan solo travelling ke Bali. Kami bertemu secara tidak sengaja di pantai Dreamland ketika aku sibuk memotret dan dia sibuk mengkhayal. Awalnya aku hanya iseng mengambil fotonya dari kejauhan. Sial untukku karena sepertinya dia merasa kalau sedang diperhatikan. Dia memandangku lama. Aku kikuk tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu aku berjalan menjauh hendak melarikan diri. Aku merasa dia mengejarku. Aku mempercepat langkahku. Dia berlari lebih cepat dari aku. Dia menepuk bahuku. Dengan napas ngos-ngosan dia membuka pembicaraan.

“Kalau kamu minta ijin memotretku, aku akan memasang pose paling oke.” katanya sambil memamerkan giginya yang putih bersih dan berderet rapi.

Aku tidak tahu harus merespons apa. Yang keluar dari mulutku hanya, “He eh.”

“Apa kamu selalu begini? Mengambil foto orang diam-diam lalu melarikan diri?”

“Hah?”

Aku membelalakkan mata. Aku kaget karena Danis benar. Aku memang suka mengambil foto orang secara diam-diam lalu pergi. Aku suka melihat berbagai ekspresi wajah dan menebak-nebak apa yang sedang mereka pikirkan. Tidak ada alasan khusus. It’s just for fun. Sebelumnya tidak ada orang yang seberani Danis. Mendekatiku dan meminta penjelasan tentang tindakanku ini.

“Kenalkan, aku Danis. Kamu siapa?”

“Eh, aku.. Aku sendirian.” kataku setengah menggumam.

“Apa? Aku tidak mendengarmu.”

“Eh, aku Intan.” aku menjawabnya dengan keras. Dan Danis tersenyum lagi.

Begitulah. Aku kikuk setengah mati karena ketahuan sedang mengamati orang secara diam-diam. Sejak itu, aku dan Danis tidak pernah melewatkan satu hari tanpa bersama. Setelah satu minggu, kami bahkan memutuskan untuk kembali ke Jakarta bersama-sama.

Setelahnya, hubungan kami berlanjut. Kami travelling ke Lombok, Krakatau, Karimun Jawa, Bunaken bersama-sama. Kami menikmati kebersamaan kami. Tak ada kekurangan-kekurangan yang menjadi masalah besar bagi kami. Segalanya terasa sempurna sampai aku diajak Danis bertemu kedua orangtuanya. Aku baru tahu sesuatu.

Danis adalah pria bebas dan merdeka dalam segala hal dan keputusan, tapi tidak untuk urusan jodoh dan pernikahan. Aku baru tahu belakangan bahwa kedua orang tuanya masih sangat otoriter. Dan kolot. Setelah hampir dua tahun kami bersama, Danis tidak berani mengambil keputusan untuk menentang kedua orangtuanya. Tiga bulan yang lalu, akhirnya Danis menikah dengan perempuan pilihan keluarga.

“Hmm..” Rere memasang wajah prihatin sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Maya tidak berkata apa-apa. Dinda, yang duduk paling dekat denganku, memelukku dengan sebelah tangannya.

Aku menahan tangis. Airmataku sudah cukup banyak yang terbuang sia-sia untuk Danis. Tidak akan ada setetes pun airmataku yang jatuh lagi karena dia.

“Anggap aja Danis nggak mau jadi anak durhaka. Bukankah itu bagus bagi dia.” Dinda mencoba mencairkan suasana dengan memberi pendapat.

“Bagus buat dia, tapi nggak bagus buat Intan. Jaman udah serba digital tapi pemikiran masih jaman purba!” Rere terdengar galak.

“Danis itu cemen. Emang nggak cocok buat kamu, Ntan. Lupain aja.” Maya tak mau kalah.

Tubuhku gemetar. Jika aku tidak segera menarik napas panjang dan memenuhi paru-paruku, aku akan menangis. Maka aku segera menarik napas panjang. Menghembuskannya perlahan. Aku ulangi beberapa kali.

“Tapi Danis nggak cinta sama istrinya.” aku takjub dengan kata-kataku. Terdengar putus asa dan masih sangat berharap. Dalam sekejap, aku membenci diriku sendiri.

“Emangnya Lo bisa berbuat apa? Mendatangi Danis dan meminta dia ninggalin istrinya untuk nikahin Lo? Nggak kan?”

Dalam hati aku berkata, “Bisa jadi.”

“Cowok kayak Danis nggak pantas diinget-inget. Udah lupain aja.” Maya mendukung Rere.

“Dengan melupakan Danis, artinya kamu lebih sayang diri kamu sendiri, Ntan. Diri kamu sendiri jauh lebih berharga dari sepuluh Danis sekalipun.” Dinda ikut-ikutan mendukung Rere dan Maya.

Untuk sejenak, suasana yang tadinya penuh tawa, menjadi hening tanpa suara. Aku menyesap habis minumanku. Tanpa sadar, mereka juga melakukan hal yang sama.

“Beberapa waktu yang lalu, Danis nelepon aku lagi. Ngajak ketemuan.” aku membuka suara.

“Apa?!” ekspresi kaget itu keluar dari mulut mereka secara serentak.

“Danis ngajakkin ketemuan. Dia bilang mau balikan lagi.”

“Memangnya dia cerai?”

“Melarikan diri dari istrinya?”

“Trus, orang tuanya gimana?”

Pertanyaan mereka yang bertubi-tubi membuat aku bingung.

“Nggak. Danis nggak cerai. Tapi dia bilang, dia mau menceraikan istrinya demi aku. Menurut kalian?” aku tidak setuju dengan ide Danis. Aku menceritakan ini kepada mereka untuk mencari dukungan agar aku tidak mengatakan iya pada Danis. Aku berharap jawaban mereka sesuai dengan harapanku.

“No no no no…”

“Iya, aku setuju sama Rere. Lupain Danis. LU-PA-IN!”

“Kalau kamu bilang iya, artinya kamu menghancurkan rumah tangga orang dan itu tidak baik.”

Aku tersenyum. Rere, Maya dan Dinda heran melihatku tersenyum.

“Lo sehat, Ntan?”

“Hahahaha.. Aku nggak pernah merasa sebaik ini. Sebenarnya aku masih bisa berpikir jernih dan membuat keputusan yang benar. Barusan kalian menguatkan keputusanku. Makasih, Teman-teman. Aku tahu Danis emang nggak pantes buat aku.”

Mereka menunjukkan kelegaan lalu beranjak dari kursi masing-masing untuk mendekatiku. Kami berpelukan dan tersenyum lagi. Suasana yang tadi sempat hening, kembali menghangat. Gosip-gosip mengenai atasan, rekan kerja hingga gosip artis-artis mulai terdengar lagi mengiringi kebersamaan kami. Aku lega. Mereka kembali tertawa. Dari cerita singkat kami tentang mantan masing-masing, aku membuat satu kesimpulan.
Teman ternyata jauh lebih baik dari mantan.

Kami memesan minuman lagi. Lalu menyambut kebahagiaan yang sering datang tanpa diduga. “Ya, teman-temanku jauh lebih baik dari mantan-mantanku. Jauh lebih baik.” aku mengulang-ulang kalimat itu dalam hati. Aku akan mengingat kata-kata itu, mungkin sampai aku mati. Atau sampai Danis mati? Ah, entahlah.

-sekian-

==============================================

Oke, jadi cerpen di atas adalah cerpen yang saya ikutkan dalam lomba menulis cerpen yang diadakan oleh Penerbit DivaPress bertema #KisahSangMantan, yang ternyata tidak menjadi salah satu yang terpilih.

Lalu bagaimana komentar kalian setelah membaca cerpen (gagal) tadi?
a. Yeah, gitu deh.
b. Apaan sih, nih? Nggak jelas beud.
c. Hmm.. Lumayanlah.

😀 😀 😀

Advertisements

8 thoughts on “Kilas Balik Mantan

  1. Putra Zaman says:

    gak kepilih jadi pemenang bukan berarti cerpen ini gak bagus, cerpen ini cuma kurang menarik perhatian juri, padahal overall udah bagus kok 🙂

  2. acturindra says:

    Keren! Biasanya aku jatuh hati sama tulisan seseorang lebih dulu, baru jatuh hati sama penulisnya. Kayaknya kalau ini kebalikannya deh. Etapi aku sedih, penulisnya bilang ini cerpen gagal. Padahal tak ada satupun karya yang lahir dari imajinasi jadi sesuatu yang gagal. Yang ada hanya -seperti yang dikatakan putra zaman- cuma kurang menarik perhatian. Itu saja. Semangat, Dewi!!

  3. justjustomat says:

    gak menang itu bukan berarti gak bagus mbak’e. #halah.sok tua aku# 😀
    Manda suka kok ceritanya, cara berceritanya mengalir halus banget dan menyeluruh. Mudah dipahami. Manda belum bisa tuh bikin cerita ngalir mulus kayak aer gituh.hahaha
    Seperti yg pernah Manda bilang, selalu suka sama cara Mbak memilih kata dalam merangkai kata. hehehe 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s