Perihal Apa Kabar

Aku tidak pernah lagi menghitung sudah berapa lama kita tak bertemu. Sebut saja aku bosan. Bukan bosan dengan perpisahan melainkan bosan dengan kegiatan menghitung. Juga menandai kalender sampai waktu yang kita tentukan tiba. Waktu untuk saling melihat, mencium, menelanjangi, berpakaian, bergenggaman tangan, berkata cinta lalu berpisah lagi. Sebut saja aku bosan. Bukan bosan dengan kebersamaan kita melainkan bosan dengan kegiatan yang aku lakukan sendirian. Bekerja, belajar, menyusuri jalanan basah sehabis hujan, keluar malam untuk menghilangkan suntuk, dan lain-lain kegiatan yang sebenarnya lebih asyik jika kita lakukan bersama. Aku bosan dengan ‘apa kabar’, ‘aku rindu kamu’, ‘aku harus pergi’ dan ‘sampai jumpa’. Aku benar-benar bosan.

Apa kabarmu di sana? Oh, sial. Baru saja aku menjilat ludahku sendiri. Baru saja aku berkata bosan dengan ‘apa kabar’ dan kini aku mulai memikirkannya. Memikirkanmu dengan memikirkannya. Memikirkanmu melalui dia. Si ‘apa kabar’. Apa kabarmu di sana? Sebenarnya aku tidak suka bertanya apa kabar. Pertanyaan itu terlalu lugas. Aku lebih suka ‘sedang apa kamu?’. Dengan demikian, aku akan mendapat lebih banyak kata-kata daripada sekadar ‘baik’ atau ‘tidak baik’ sebagai jawabannya. Dengan mempertanyakan kegiatanmu saat ini, aku akan mendapatkan dua hal. Pertama, kegiatanmu saat ini. Kedua, dari jawaban mengenai kegiatanmu saat ini, aku akan dapat menyimpulkan apakah kamu sedang baik atau tidak baik. Lumayan. Aku menghemat kalimat tanya, menghemat kata-kata sekaligus menghemat pulsa.

Sebaliknya, kamu lebih suka menggunakan ‘apa kabar’. Dan dengan cara berpikir yang aku jelaskan barusan, aku tidak akan menjawab pertanyaanmu hanya dengan ‘baik’ atau ‘tidak baik’. Boros pulsa. Aku akan memaksimalkan jatah 160 karakter pada setiap pesan. Hari ini aku memberikan jawaban ‘Baik. Mm., sedikit gugup. Hari ini giliranku presentasi di depan direktur. Ah, seandainya kamu di sini. Mungkin sekilas pelukan akan menenangkan. I miss you.’

Lalu kamu meneleponku dan beginilah percakapan kita.

“Hei, mengapa menelepon?”

“Semoga suaraku mampu menggantikan sekilas pelukan. Sukses ya untuk presentasimu. I love you and I miss you too.”

“Suaramu sama menenangkannya dengan sekilas pelukan. Tapi, pulsamu…”

“Ssttt.. Berhenti membicarakan pulsa seolah-olah pulsa lebih penting dari kita.”

Aku tersenyum dan pipiku memerah sebelum aku menjawab ‘Can’t wait to see you soon.’. Dan kita menutup telepon setelah kamu menjawab ‘Me, too.’.

Begitulah. Pagi hariku selalu diisi dengan hal-hal yang menurutmu tidak lebih penting daripada kita. Padahal pulsa adalah perihal masa depan, sama halnya dengan kita. Pulsa dan kita memang saling berkaitan. Harus selama mungkin dipertahankan.

Begitulah. Pagi hariku selalu diisi dengan hal-hal yang menurutku lebih penting dari kita. Yaitu perihal menjilat ludahku sendiri. Setiap pagi, aku menjilat ludahku sendiri sebanyak dua kali. Pertama, ketika aku memikirkanmu dengan bertanya ‘apa kabar’ meski hanya dalam hati. Kedua, ketika aku berkata ‘aku rindu kamu’ atau kalimat apapun yang berarti sama. Hati memang tidak bisa dibohongi. Dan hidup memang tidak selalu berada di bawah kendali.

Tapi dari sekian banyak hal yang aku lalui setiap pagi, penting dan tidak penting, ada satu yang tidak bisa aku pungkiri. Kepandaianmu meredakan suasana yang terlalu gaduh dengan gemeletuk gigiku dan tidak bisa dihentikan hanya dengan melihat namamu menyala-nyala di layar ponsel. Aku perlu mendengar minimal tarikan napasmu sebelum kamu berkata ‘halo’. Maksimal, ya sekilas pelukan. Dan suaramu, seperti yang barusan aku dengar, berada di tengah-tengahnya. Di antara minimal dan maksimal. Lebih dari cukup. Persis seperti kamu bagiku.

Setelah gemeletuk gigi berangsur pergi, aku melangkahkan kaki dengan pasti. Di dalam ruangan ini, semuanya serba mandiri. Masing-masing orang memiliki dunianya sendiri berupa secuil layar yang meminta disentuh agar mau bekerja untuk mereka. Bahkan ketika aku mulai berbicara, mereka hanya melirik sekali, lalu sibuk lagi. Bayangkan, aku menanyakan kabar mereka dan dibalas dengan lirikan tajam tanpa senyuman. Nyaliku menciut. Aku memaksa hatiku mengembang lagi, seperti bola karet yang mampu kembali ke bentuk semula. Ini presentasi pertamaku di depan direktur dan aku tidak mau mengecewakan kamu. Aku tidak akan mengecewakan kita. Tadi kamu sudah bersuara demi menggantikan sekilas pelukan. Kini giliranku berusaha demi mendapatkan penghargaan atau minimal senyuman. Dan aku berhasil. Adil.

Banyak hal lain yang lebih penting daripada ‘apa kabar’, kamu tahu. Salah satunya adalah merayakan sesuatu bersama kamu.

“Di mana?”

On the way ke cafe. Aku tunggu kamu di meja biasa. Semoga belum diambil orang. Sepertinya aku yang sampai duluan. Aku pesankan makanan kesukaan kamu?”

Tidak ada balasan. Aku mempercepat langkahku. Jarak cafe dari kantorku tidak terlalu jauh, tapi ketika jam istirahat siang begini aku harus bergegas bila tidak mau kehilangan meja favoritku. Aku bilang itu adalah meja favoritku bukan meja favorit kita. Aku ingat, kamu pernah menolak duduk di sana entah karena apa. Hingga sekarang kamu tidak menceritakan alasannya. Dan aku lupa bertanya.

Perkiraanku benar, cafe beranjak ramai dan aku semakin mempercepat langkah. Menyapa pelayan yang berjaga di depan pintu lalu bergegas masuk. Sepertinya aku mendengar dia berkata, “Sudah ditunggu Mas Miko di dalam. Di meja biasa.”. Dan sebelum aku menyadari perkataan pelayan itu, aku sudah melihat kamu menempati meja favoritku. Aku berterima kasih dalam hati. Aku mencium pipimu sebagai ganti.

“Seharusnya aku yang sampai duluan. Kantorku kan lebih dekat.”

“Tidak selamanya kamu bisa mengendalikan hidup, Sayang.”

“Bukan itu maksudku. Hanya saja, bila aku tidak bisa diandalkan dalam hal sesederhana ini, bagaimana kamu bisa mempercayai aku untuk mengurus hal-hal yang lebih besar.”

“Misalnya?”

“Anak-anak kita nanti.”

Lalu kamu tertawa mendengar perkataanku yang gagal aku saring. Dan aku tersenyum kikuk. Malu. Aku keceplosan. Mengatakan kebenaran pada waktu yang tidak tepat.

You’ll be a great mother.

Jawabanmu menggantung, kamu tahu. Seharusnya kamu melengkapi kalimatmu dengan “..for our children.”. Itu akan membuat perasaan maluku sedikit berkurang. Membuat aku tidak terlalu kelihatan berharap. Well, siapa yang tidak berharap dinikahi pria seperti kamu? Manis, romantis, loyal dan kita sama-sama suka berkhayal.

“Apa kabar presentasimu?”

Ya Tuhan, lagi-lagi ‘apa kabar’. Artinya aku harus berbicara lebih dari satu dua kata. Lalu bertanya dengan cara berbeda agar mendengar lebih dari satu dua kata. Tuhan begitu adil. Aku diajariNya untuk bersabar.

Tapi tak apa. Asalkan aku benar-benar bisa menjadi ibu bagi anak-anak kita, aku akan menganggap semua kekesalanku terhadap ‘apa kabar’ terbayar lunas. Deal?

* 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s