Hujan dan Kenyataan-kenyataan Yang Tertahan

“Ketika kamu ingin menyamarkan airmata di bawah hujan, artinya kamu lupa bahwa ada aku sang pemilik bahu lapang tempat airmatamu seharusnya bergelimpangan.”

Arga beranjak ke dapur untuk mengambil minuman sedangkan aku baru kembali dari kamar mandi. Ruang tamu Arga menjadi tempat bagi kami mengerjakan PR yang hingga kini tak kunjung selesai. Sedangkan Arga, sedari tadi lebih sibuk dengan laptopnya dibandingkan mengerjakan tugas yang harus kami selesaikan sore ini. Aku merasa berjuang sendiri. Sekilas aku melirik laptop Arga yang sedang menampilkan halaman ‘compose’ pada email-nya.

To: rosie.handoyo.96@gmail.com
Subject: Selamat Ulang Tahun

Selamat Ulang Tahun, Rosie. Satu-satunya alasan aku menginginkan panjang umurmu adalah agar aku memiliki kesempatan kedua, ketiga, dst untuk merayakan momen-momen istimewa yang patut aku syukuri. Yaitu ulang tahunmu. Dan tahun ini aku ingin merayakan momen istimewa tersebut di D’ Chocolate pukul 07.00 malam.

Bagaimana?

Arga Gumilar S.

***

Kriiiing…

Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Pak Wiyanto, guru Bahasa Inggris menutup pelajaran hari ini. Aku segera merapikan buku-bukuku sementara Danisa malah sibuk melihat ke jendela.

“Li, itu Arga bukan?” Kata Danisa sembari menyenggol lenganku namun pandangannya tak lepas dari jendela.

Mendengar nama Arga benar-benar membuatku tidak bersemangat. Dengan malas aku mengikuti arah pandang Danisa, “Mm hmm..” Jawabku sekenanya.

“Lo kenapa sih, tumben banget nggak semangat ngeliat Arga. Masih ada hubungannya sama curhatan yang kemarin?”

Aku mengangguk, “Iya. Kayaknya gue dimakan cemburu. Rasanya belum ikhlas waktu tahu Arga selingkuh sama Rosie.”

“Kalau cemburu harusnya Lo marah dong. Bukannya malah nggak semangat gini. Liliana yang aneh. Haha.” Danisa menertawaiku sambil berlalu. “Gue cabut duluan ya. Daah.”

“Gue nggak akan menahan seseorang bila orang itu pergi atas kemauannya sendiri.” Kataku dalam hati.

Aku berjalan keluar kelas lalu tubuh atletis Arga menghalangi jalanku di depan pintu. Aku bergeser selangkah ke kiri tanpa memandang wajahnya. Arga bergeser selangkah ke kanan. Lagi-lagi menghalangi jalanku. Aku kembali ke posisi awal. Begitu pun Arga.

“Liliana Sayang, kamu kenapa sih? Kok cemberut gitu?” Arga mengacak-acak manja rambutku. Aku melihat wajahnya sekilas. Senyumnya masih menawan seperti waktu pertama kali dia bilang cinta dan berjanji hanya akan ada aku di hatinya. Tapi belum setahun kami pacaran, dia sudah berani selingkuh dengan Rosie. Dasar laki-laki tukang bohong.

“Aku nggak kenapa-kenapa. Aku cuma mau pulang. Boleh lewat?”

“Bentar dulu,” Arga memegang lenganku dan mencari-cari mataku agar kami berpandangan, “Kamu bilang nggak apa-apa tapi wajah kamu cemberut gitu. Mana bisa aku percaya kalo kamu nggak apa-apa?! Yang anak teater itu kan aku.”

Angin dingin bertiup di antara kami. Aku memandang langit. Awan gelap mulai mendekat. Terlihat berat dan siap menumpahkan hujan lebat.

“Arga, ngobrolnya nanti aja ya. Aku mau pulang cepet. Keburu hujan.” Aku melepaskan diri dari Arga dan berlari menuju tempat parkir. Tanpa aku duga Arga menyusulku. Membukakan pintu mobil dan menutupnya kembali untukku. Aku melihat dia dari jendela mobil dan aku dapat membaca gerakan bibirnya yang meminta agar aku berhati-hati. Oke, jadi Arga membiarkan aku pulang tanpa sedikit pun menahanku dan memintaku bicara seperti biasa. Baiklah.

Perasaan kesal terus mengiringi sepanjang perjalanan pulang. Arga mengirim pesan untuk memastikan agar aku berhati-hati. Aku tak membalas pesannya. Hujan lebat tak terhindarkan. Akibatnya, kemacetan parah membuat aku terjebak di tengah-tengah, rasanya ingin berteriak marah. Kenapa Arga harus selingkuh saat aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya? Kenapa Rosie? Kenapa sekarang?

“Kenapa, Ga? Aargh!”

Aku melampiaskan kemarahan dengan menaikkan volume musik yang aku putar di mobil lalu aku berteriak sekencang-kencangnya. Mobilku masih tidak bergerak. Kemacetan ini sepertinya akan sangat menghabiskan waktu. Aku berusaha menenangkan diri dengan memejamkan mata, menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Menarik napas panjang lagi lalu menghembuskannya perlahan. Berulang-ulang hingga aku tidak lagi gemetar karena marah. Perlahan aku membuka mata. Melihat ke samping kiri, mencari-cari pedagang asongan untuk membeli air mineral. Saat itulah aku melihat Arga melewati mobilku dengan motor besarnya. Dan Rosie dibonceng Arga! Di luar masih gerimis, mereka tidak memakai jas hujan, Rosie mendekatkan tubuhnya ke tubuh Arga agar terlindung dari hujan. Ya, Tuhan.

Jantungku seperti dipaksa berhenti bekerja. Lututku lemas. Napasku lemah. Aku merebahkan punggung ke sandaran kursi. Memejamkan mata yang tiba-tiba tidak ingin melihat apa-apa. Tetapi justru aku melihat semuanya. Bayangan Arga yang sedang membonceng mesra Rosie, bayangan mereka yang sedang tertawa-tawa menghabiskan waktu berdua. Aku menggelengkan kepala dengan cepat.

“Tidak..tidak. Arga tidak mungkin selingkuh. Tadi kan dia masih mengkhawatirkan aku. Mengirim pesan agar aku berhati-hati dalam perjalanan pulang.”

Aku berusaha menghibur diri dengan mengingat kembali kenangan manis kami yang masih tersimpan baik di kepalaku. Aku mencari-cari CD lagu kompilasi yang dihadiahkan Arga kepadaku. Kuputar berulang-ulang sambil membayangkan hal-hal menyenangkan yang biasa kami lakukan. Pikiran negatif yang menyambangi kebahagiaanku sejak kemarin harus enyah dari kepalaku.

“Toh aku belum mendengar cerita Arga. Bisa saja aku salah sangka. Mungkin aku hanya cemburu. Cemburu yang sedikit berlebihan.” Hiburku pada diri sendiri.

Perlahan, barisan mobil di depanku mulai berjalan pelan. Hujan reda tapi dadaku sesak karena tangis yang tertahan.

***

Setahun yang lalu adalah waktu yang begitu menyenangkan. Dijemput tepat pukul lima sore dan dibawa ke suatu tempat dengan mata tertutup sungguh-sungguh memacu adrenalin. Aku pikir, aku akan dihadapkan pada pasir putih dan matahari yang menjelang tenggelam. Senja yang sendu. Lagu cinta diiringi petikan gitar yang merdu. Suasana yang tepat untuk menyatakan cinta. Setidaknya, begitulah yang sering aku baca di novel-novel romantis ketika seorang pria hendak menyatakan perasaannya. Padahal kenyataannya, aku dihadapkan pada sebuah layar bioskop. Di dalam ruangan bioskop terdapat 16 sofabed yang terbagi rata pada setiap baris. Empat sofabed di masing-masing baris. Pada kondisi normal, masing-masing sofabed akan dipenuhi oleh pasangan-pasangan yang ingin menonton film dengan suasana yang lebih hangat. Satu sofabed untuk berdua. Tapi malam ini, ruangan bioskop itu kosong. Arga membeli semua tiket agar tidak ada orang lain yang mengganggu suasana romantis yang ingin ia ciptakan.

Pada sofabed kedua di baris kedua, sudah ada boneka Teddy Bear yang pernah kami lihat di mall ketika kami jalan-jalan bersama. Di tangan boneka Teddy tersebut ada sepucuk surat yang ditujukan kepadaku.

“Ada yang mau dibilang sama Teddy ke kamu. Tuh, dia tulis semuanya di surat yang ada di tangannya.” Arga tersenyum penuh arti. Aku mencurigai tatapan matanya. Ia sempat terlihat gugup namun dengan cepat ia menguasai diri. Anggota klub teater sudah seharusnya pandai berakting, pikirku.

Namun begitu, toh senyumku tidak terbendung. Aku penasaran dengan apa yang ditulis Arga untukku.  Aku membukanya dengan tak sabar. Amplop merah itu berisi beberapa lembar kertas berwarna senada.

“Suratnya nggak bakal kemana-mana. Bukanya pelan-pelan aja.” Arga menggodaku.

Musik pembuka sebelum pertunjukan film dimulai, terdengar menggema memenuhi seluruh ruangan bioskop. Arga memindahkan Teddy ke samping sofabed dan mengajakku duduk untuk menikmati film yang akan segera mulai. Siapa yang tertarik dengan film? Aku lebih penasaran dengan isi suratku.

Aku ingin menjadi lelaki cerewet malam ini. Tolong simak baik-baik ceritaku. Hari itu aku berangkat seperti biasa dengan motor besar kebangganku. Klub teater tidak pernah absen mengadakan latihan sore di alam bebas. Hari itu jadwal kami berlatih di taman kota. Baru setengah perjalanan, aku melihat kamu berdiri di pinggir jalan sambil menggerutu. Ternyata mobilmu mogok dan bengkel yang kamu telepon tak kunjung tiba. Aku mengenalmu hanya ala kadarnya, waktu itu. Kita satu sekolah. Sekian. Lalu sebagai seorang gentleman, aku menawarkan diri untuk mengantarkkan kamu ke tempat yang hendak kamu tuju. Ternyata saat itu kamu sedang dalam perjalanan pulang. Kamu lucu. Tanpa basa basi, kamu mengiyakan tawaranku untuk mengantarkan kamu pulang. Apa kamu lupa ajaran orang tua untuk tidak berbicara dengan orang asing? Apalagi kamu sampai berani mengiyakan tawaranku yang sebenarnya hanya basa basi. Tapi seorang lelaki harus bertanggungjawab pada ucapannya. Aku mengantarkan kamu pulang. Saat itu aku baru benar-benar melihatmu. Bukan hanya sekadar tahu nama dan tahu bahwa kita satu sekolah.

Malang tak dapat dihindari. Hujan turun perlahan. Semakin lama semakin deras. Terbersit keraguan dalam hatiku. Berhenti dan mencari tempat untuk berteduh atau membiarkan kita kebasahan di bawah hujan. Berhenti akan membuat aku memiliki waktu untuk mengenal kamu lebih dalam. Sedangkan menerobos hujan akan membuat aku terlihat macho. Silly? Itulah yang aku pikirkan kala itu. Lalu, belum sempat aku mengajukan kedua pilihan tersebut, kamu sudah membuat pernyataan terlebih dahulu. “Terus aja. Aku terlambat. Seharusnya aku sudah di rumah sejak satu jam yang lalu.” katamu. Sebenarnya, aku berharap kamu memilih yang sebaliknya.

Tapi toh, tetap saja aku menganggap kamu lucu. Mana ada perempuan dari keluarga berada yang mau hujan-hujanan sementara ia bisa memilih naik taksi yang jelas lebih nyaman dan terlindung dari hujan? Tapi aku simpan pendapatku tentang kamu. Aku pikir akan ada waktu lain untuk membahas hal tersebut. Kita akan mengobrol lagi setelah ini. aku akan menemukan cara untuk mewujudkannya.

Setelah kejadian hari itu, hari-hariku tak pernah sama. Keesokan paginya, aku menunggu kamu di dekat pintu kelasmu. Bukan untuk menyapa atau berbicara. Tapi hanya untuk melihat kamu dan kelucuan-kelucuanmu yang bisa membuatku tertawa.

Aku melihat Arga yang pura-pura fokus pada film padahal aku lekat memandangnya.

Aku mencari tahu nomor ponselmu dan menghubungimu untuk pertama kalinya. kamu masih ingat pesan pertama yang aku kirim? Butuh waktu lama hingga akhirnya aku berani mengirimnya. Ada perasaan segan. Seperti anak kecil yang melihat mobil-mobilan keren tapi tidak berani bilang pada orang tua mereka. Tidak berani minta untuk dibelikan. Syukurnya kamu tidak mempersulit keadaan. Balasanmu melegakan. Terima kasih untuk itu.

Terima kasih juga untuk pengertian dan kesabaran yang kamu tunjukkan setiap kali aku memberondng kamu dengan pertanyaan-pertanyaan. Aku hanya sedang bersemangat ingin mengenalmu.

Lalu hari ini, aku mengharapkan pengertian darimu sekali lagi. Pengertian mengenai ketidakberanianku menyampaikan cerita ini langsung. Aku merasa lebih bebas lepas jika menyampaikannya lewat surat. Terima kasih kepada Teddy yang mau mengantarkan suratku untukmu. Teddy itu bisa kamu miliki sekarang. Begitu pun aku.

Maksudku, apa kamu sudi menjadikan aku sebagai milikmu, eh, pacarmu?

Arga Gumilar S.

Yang pertama kalinya aku pikirkan tentang Arga setelah membaca suratnya adalah betapa pandai ia merangkai kata-kata. Maksudku, jaman sekarang, masih ada laki-laki yang fasih berbicara lewat surat. Yang aku tahu, laki-laki jaman sekarang lebih suka to the point. Menyatakan cinta hanya dengan satu kalimat. Aku sayang kamu. atau semacamnya. Arga menjadi menarik di mataku.

Setelah aku selesai membaca surat itu, kami resmi berpacaran. Hingga sekarang. Apa yang bisa aku ceritakan tentang hubungan kami selama satu tahun belakangan? Bahagia. Semua begitu membahagiakan. Arga seperti tanpa cela. Hanya saja, beberapa bulan ini, sejak menduduki jabatan baru sebagai ketua klub teater ditambah kharismanya yang memang sudah mendarah daging, aku jadi sering merasa cemburu karena banyak sekali perempuan yang berusaha mendekatinya dengan berbagai cara. Arga terlalu baik, meskipun ia menolak mereka, toh Arga tetap saja memperlakukan mereka dengan baik. Keyakinan bahwa hanya aku yang ia cinta, terkadang redup di hatiku. Apa jabatan barunya telah membuat ia berubah?

***

Aku tiba di rumah dengan perasaan yang sedikit masih resah. Bayangan Arga yang membonceng Rosie masih melekat di pikiranku. Hatiku berkata bahwa Arga tidak mungkin selingkuh dengan Rosie. Kepalaku berkata sebaliknya didukung oleh fakta-fakta yang banyak terjadi belakangan ini. Intensitas pertemuan kami berkurang. Arga bilang karena klub teater sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba. Sabtu malam tidak selalu kami habiskan berdua. Terakhir kali, Arga tidur seharian karena malam sebelumnya ia menonton pertandingan bola hingga pagi. Arga tidak lagi rutin menanyai kegiatanku melalui sms atau telepon. Ia jarang bertanya apa saja yang aku alami seharian ini. Ia menungguku bercerita. Katanya sudah menjadi kewajiban kami untuk mulai bercerita sebelum ditanya.

Aku bilang ini tidak masuk akal. Ditanyai olehnya merupakan bentuk perhatian bagiku. Wanita butuh merasa diperhatikan. Mama setuju tentang ini. Danisa juga.

Lalu tentang perselingkuhannya dengan Rosie, apa aku harus bertanya langsung pada Arga? Meskipun aku belum siap menerima kenyataan yang menurutku tidak memihak kebahagiaanku?

“Lian, kamu udah pulang? Kenapa nggak langsung  masuk?” Mama menyambangi aku ke beranda sambil menggendong adikku yang menangis. “Tadi Arga ke sini nyariin kamu. Tapi kamu belum pulang, jadi dia langsung pergi.”

“Iya, Ma. Tadi jalanan macet banget gara-gara hujan.”

“Tadi Arga ke sini pun dengan baju basah karena hujan. Dia pasti nggak pake jas hujan. Di mana-mana laki-laki itu sama. Merasa menjadi banci kalau pakai jas hujan.”

Di hadapan mama, aku tersenyum. Berusaha terlihat baik-baik saja. Setelah mencium pipinya, aku beranjak ke dalam rumah. Langsung menuju kamarku di lantai atas.

Arga. Arga. Arga. Kamu kenapa sih?

***

Danisa berjalan dengan angkuh ketika masuk ke dalam kelas. Teman-teman mencibir gaya berjalannya yang bak model catwalk tetapi ia tetap percaya diri.

“Ini namanya style. Gaya! Kalian mana ngerti hal-hal kayak begini. Hih. Dasar cupu.” Kata Danisa kepada kelompok cowok-cowok yang mengejeknya. Aku tertawa melihat tingkah sahabatku yang tidak pernah malu mempertahankan apa yang dia anggap benar. Jauh berbeda denganku yang plin plan dan tidak berani menghadapi kenyataan. Kepalaku kembali berisi bayangan Arga dan Rosie yang sedang menghabiskan waktu bersama sambil tertawa-tawa. Naik motor di bawah hujan tanpa jas hujan sehingga mereka memiliki alasan untuk berpelukan. Atau singgah minum kopi untuk menghangatkan badan. Sesuatu yang bahkan belum pernah aku dan Arga lakukan. Aku tidak suka kopi dan aku tidak suka warung kopi. Warung kopi identik dengan rokok dan asap rokok kerap membuat aku sesak napas.

Mungkin kini Arga sudah menemukan kelebihan pada diri Rosie yang tidak ada padaku. Orang yang bisa ia ajak bersenang-senang. Duduk di warung kopi tanpa melakukan kegiatan berarti. Hanya duduk dan tertawa-tawa. Kesenangan Arga yang tidak bisa ia lakukan denganku.

“Woi, bengong aja.” Danisa menggebrak meja. Tidak terlalu kencang namun berhasil membuatku terkejut. “Masih tentang itu? Ya udah sih, samperin aja si Arga. Tanya baik-baik apa yang sebenarnya terjadi. Lo bisa tahan ya, makan ati karena kecurigaan dan kecemburuan Lo itu. Hpmf.” Danisa menggeleng-gelengkan kepala melihat aku yang masih muram karena masalah Arga. Dan Rosie.

“Kalo gue punya keberanian kayak Lo, gue juga nggak mau lama-lama kayak gini. Lo pikir makan ati itu enak.”

Aku sewot tetapi Danisa malah tertawa. “Ya udah, gue aja yang mewakili Lo buat ngomong ke Arga. Termasuk mewakili Lo buat nangis di bahu dia. Boleh ya? Haha..”

Aku mendelik marah, Danisa tertawa semakin keras lalu langsung kabur dari hadapanku.

Siangnya, aku pulang seperti biasa. Hari ini aku tidak membawa mobil. Danisa belum mau pulang karena masih ada klub Bahasa Jepang. Arga tidak masuk karena ada lomba teater bersama teman-teman klubnya. Kalau pun ada, aku tidak akan meminta Arga mengantarku pulang. Aku masih kesal. Aku masih cemburu.

Dengan terpaksa aku berjalan ke ujung jalan agar lebih mudah mendapatkan taksi. Langit gelap seolah-olah siang akan segera berganti. Awan berat tak lagi malu menampakkan diri. Kilat dan petir saling bersahutan. Semoga hujan baru turun setelah aku tiba di rumah.

Setengah jam berlalu. Tak ada taksi kosong yang bisa aku naiki. Ponselku bergetar. Arga menelepon. Aku abaikan. Ponselku bergetar lagi. Arga mengirimkan pesan.

Kamu di mana, Li? Kok belum sampe rumah?

Aku tidak membalasnya.

Gerimis mulai turun dan aku menyadari bahwa di dekatku tidak ada tempat berteduh yang layak. Satu-satunya pilihan adalah berdiri di bawah pohon Bintaro yang berjajar rapi di sepanjang jalan. Itu pun tidak seberapa melindungi. Tetap saja aku kehujanan.

Semakin lama hujan semakin deras. Aku tak sempat mencari tempat berteduh yang letaknya memang cukup jauh. Jadi, aku relakan bajuku basah seluruhnya. Sementara itu taksi tak kunjung menampakkan diri. Ada apa dengan hidupku siang ini? Aku benar-benar ditimpa sial.

Lima menit berdiri di bawah hujan terasa sangat lama. Berkali-kali aku menyeka wajah yang basah. Satu taksi terlihat di kejauhan. Lampu di atas kap taksi menyala. Artinya taksi tersebut masih kosong.  Aku melambaikan tangan dan taksi tersebut memperlambat lajunya dan berhenti tepat di depanku. Namun sebelum aku menyentuh pegangan di pintu belakang taksi, tanganku telah lebih dahulu berpindah tempat. Ke genggaman tangan seorang laki-laki. Arga.

“Kamu pulang sama aku aja.” Arga setengah memaksa. Ia menarikku menjauh dari taksi, mendekati motornya.

“Naik motor?” Tanyaku tak percaya. Kalau dia memang mengkhawatirkan aku, bukankah lebih baik membiarkanku naik taksi. Setidaknya aku tidak semakin lama berada di bawah hujan.

“Iya. Naik motor. Kalau udah kayak gini aku nggak bisa percayain kamu ke siapapun. Apalagi sopir taksi.” Arga memasangkan helm di kepalaku tapi aku menolaknya. “Kamu lebih aman sama aku.”

Ada senyum yang terbit di hatiku. Tapi aku belum mau menganggap semuanya baik-baik saja. Arga tetap harus mengakui perbuatannya. Dan kalau apa yang aku takutkan ternyata benar adanya, maka aku harus siap patah hati.

“Tapi, Ga. Belakangan ini kamu…” aku tidak melanjutkan perkataanku.

“Belakangan ini aku kenapa, Li?”

“Belakangan ini kamu..kamu berubah, Ga.”

“Berubah gimana maksud kamu?”

Aku tidak berani memandang Arga. Ketakutanku memaksa aku untuk terus menunduk. Arga mengangkat daguku. Aku mendongak memandang matanya. Hujan masih lebat dan kami tidak berusaha mencari tempat yang lebih teduh. Aku menyeka wajahku berkali-kali.

“Kamu jarang sms sama telepon. Kita udah jarang bareng pas malam minggu…” aku menarik napas. Ragu untuk melanjutkan. Sedangkan Arga masih menahan daguku agar mataku tidak hilang dari pandangannya.

“Trus, apalagi?” Arga tersenyum. Senyumnya yang magis membuat lututku gemetar.

“Kemarin kamu bonceng Rosie dan dia peluk kamu dari belakang.”

Aku memeluk Arga. Tangisku pecah di dadanya. Sementara aku bisa merasakan Arga justru tersenyum. Aku benar-benar dibuat bingung. Lebih bingung daripada embun yang menggantung di ujung daun.

“Liliana Sayang,” Arga melepaskan pelukan kami. Lalu menghapus airmata bercampur hujan di wajahku. “Jadi kamu jealous sama Rosie? Kamu pikir aku selingkuh sama dia?” Arga mengacak-acak rambutku yang sudah basah sambil tertawa lantang. “Rosie itu nggak ada apa-apanya dibanding kamu.”

“Tapi… Kamu antar dia pulang sambil pelukan.”

“Iya, aku antar dia pulang. Iya dia meluk aku dari belakang. Tapi apa kamu nggak perhatiin kalau Rosie hari ini nggak masuk? Kemarin, sejak klub Bahasa Inggris, dia nggak enak badan. Pak Wiyanto udah suruh Rosie istirahat di UKS. Tapi dia nggak mau. Dia mau pulang. Badannya panas. Pak Wiyanto asal tunjuk. Dan aku yang kena. Mau nggak mau aku yang antar dia pulang.”

Aku tersenyum dalam hati. Sementara bibirku aku biarkan membentuk garis lurus.

“Apa lagi? Kamu mau tanya apa lagi? Kita ngobrol sambil jalan pulang ya. Gimana?”

Arga menyalakan motornya dan aku naik di jok belakang. Mau tidak mau, aku memakai helm yang Arga bawa untukku. Sepanjang perjalanan, aku memeluk Arga dari belakang untuk menghindari air hujan yang tetap saja masuk ke mataku. Persis seperti Rosie kemarin. Aku mendesah.

“Ga, belakangan ini kamu tambah sibuk. Aku nggak kebagian perhatian kamu.” Aku semakin memberanikan diri mengungkapkan apa yang aku rasakan. Arga selalu berhasil membangun suasana yang nyaman untuk bercerita.

“Klub teater baru aja ikut lomba. Dan kamu tahu nggak, sekolah kita dapet juara berapa?” Arga bertanya dengan bersemangat sementara aku tidak berniat menjawab. “Juara satu dong!” Arga tertawa sambil memegang tanganku yang melingkar di pinggangnya dengan tangan kirinya.

“Maaf ya kalau kamu sampai ngerasa nggak dapet perhatian. Aku masih sayang kamu banget. Maaf kalau belakangan ini aku lebih sibuk di teater. Aku jadi ketua kan cuma satu tahun. Aku nggak mau sia-siain kesempatan untuk ngasi yang terbaik. Dan hari ini aku berhasil. Ini juga berkat kamu. Kamu kan yang paling rajin ngasi aku semangat waktu awal-awal kami latihan.”

Suara hujan dan angin membuat kami harus sedikit berteriak agar terdengar oleh satu sama lain. Suasana yang tadinya sendu berubah menjadi lucu. Aku tidak jadi marah kepada Arga yang berkali-kali mengusap wajahnya dari air hujan, memegang tanganku, memegang stang motor, dan seterusnya.

“Trus tentang email kamu ke Rosie yang bilang selamat ulang tahun?”

“Hahaha.. Email itu? Rosie tahu kalau aku suka nulis puisi, jadi dia minta tolong aku bikin ucapan selamat ulang tahun untuk pacar adiknya. Kamu percaya nggak, pacar adikknya Rosie, namanya Rosie juga. Dunia ini semakin nggak kreatif. Haha..”

“Hahaha…”

Kami tertawa bersama. Aku tertawa lantang. Menertawai diriku yang ternyata terlalu cemburu. Aku merebahkan kepala di punggung Arga. Berusaha merasakan detak jantungnya di telingaku. Pelukanku semakin erat. Perasaan sayangku semakin pekat. Arga mengendarai motornya semakin cepat. Tak lama kemudian kami tiba di rumah.

“Ngomong-ngomong, gimana kamu bisa tahu tentang email aku ke Rosie. Aku kan belum cerita?” Arga bertanya penasaran.

“Hahaha.. Kamu mau tau aja atau mau tau banget?” Aku menggoda Arga dan ia tahu bahwa pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab.

“Aku maunya kamu tahu kalau aku sayang kamu banget.” Arga memelukku. Aku membalas pelukanku. “Kamu langsung mandi dan ganti baju ya. Trus minum cokelat hangat. Pacar aku nggak boleh sakit.”

Arga melepaskan pelukannya. Mengecup keningku. Lalu berbalik pulang. Aku tidak beranjak sampai ia menghilang di balik pagar. Kepalaku terasa ringan. Hatiku lega. Ternyata aku baik-baik saja. Ternyata kami baik-baik saja.

*

Cerpen ini saya ikutkan dalam lomba menulis Kumcer Hujan yang diadakan Penerbit Gradien pada Desember lalu, tapi tidak berhasil terpilih sebagai salah satu yang dibukukan.

Niatnya mau menulis cerita remaja, tapi tampaknya masih kaku ya. Hehe..

Advertisements

4 thoughts on “Hujan dan Kenyataan-kenyataan Yang Tertahan

  1. Rohani Syawaliah (@honeylizious) says:

    bagus kok dear 🙂

    menang atau kalah bukan ukuran bagus tidaknya sebuah karya, karya yang bagus adalah karya yang bisa memberikan sesuatu untuk orang lain, minimal hiburan dan cerpen ini saya baca hati-hati dari awal hingga akhir dan merasa kamu penulis yang istimewa.

    tetep semangat menulis, juri lomba itu manusia, mereka tentunya punya selera masing-masing dalam memilih karya yang menang 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s