Deskripsi Wajah

*

Kata pegawai salon langganan, wajahku tidak bulat melainkan oval. Tapi tahu tidak, aku tidak pernah mempercayai kata-katanya. Hingga sekarang, aku menganggap wajahku bulat  karena kedua pipiku padat.

Aku memiliki jemari yang suka sekali mengorek dilengkapi kuku-kuku yang menolak dirapikan. Karenanya aku tahu, bintil, kuku yang panjang dan kulit wajah yang sensitif merupakan perpaduan yang tepat untuk membuat jejak kejahatan berupa bintik-bintik hitam di dahi. Abaikan saja bagian ini.

Mari mengingat-ingat zaman TK. Pernahkah kamu menggambar dua buah gunung menggunakan krayon tumpul? Bayangkan gambar tersebut. Bukit yang perlahan menanjak, sudut yang terbentuk sebagai puncak lalu jurang yang dasarnya tak tampak. Alisku seperti itu, tebal. Keberadaan sudut membuatnya tampak tegas. Bergas. Lalu kalau kamu perhatikan dengan saksama, kedua alisku terhubung rambut tipis.

Alis indahku menaungi mata yang tidak terlalu besar tetapi memiliki tatapan khas penari Bali. Bukan, bukan. Aku bukan penari meskipun aku adalah perempuan Bali. Aku hanya pernah belajar menari di sebuah sanggar dan kami diajari bagaimana mendelik, melirik dan mengernyit dengan cara yang benar. Tatapan mataku tajam, katanya. Ditambah sepasang bola mata yang sepekat kopi bubuk. Hitam? Bukan. Kopi bubuk itu berwarna cokelat. Berubah hitam jika kamu seduh dengan air panas. Tetapi aku tidak mau warna mataku berubah hitam, jika kamu mengerti maksudku.

Satu hal yang hingga sekarang tidak bisa aku mengerti. Beberapa orang menganalogikan senyuman seperti bulan sabit. Berbentuk lengkung atau setengah lingkaran. Aku sungguh menyangsikan hal tersebut karena saat ini aku sedang bercermin, dan tersenyum. Tidak ada garis lengkung. Yang ada hanyalah garis lurus, mendatar. Yang membuat senyumku terlihat berbentuk lengkung adalah bibir bawahku yang tebal. Jika itu yang membuat mereka mengatakan senyuman ibarat bulan sabit, apa kabar perempuan berbibir tipis?

Ah, sudahlah. Bagaimanapun aku menyukai wajahku, kamu bisa saja tidak sependapat. Tapi banyak yang bilang aku manis, entah memang karena aku manis atau mereka hanya sedang bermulut manis. Entahlah.

*

Tulisan ini untuk #tantanganmenulis mendeskripsikan wajah/tubuh oleh Jia Effendie.

Advertisements

5 thoughts on “Deskripsi Wajah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s