Kesempatan Kedua

Baca dulu cerita sebelumnya di sini.  Cerita itu milik @obrier_, fyi. 🙂

*

“Kamu habis begadang?”

Perempuan yang sedang ada di hadapanku memang blak-blakan. Bahkan setelah tiga tahun kepergiannya, tidak ada basa-basi yang menyertai kata-katanya. Seperti biasa. Dan seperti biasa pula, aku tidak bisa membantah ia. Apa yang ia ucapkan mengandung kebenaran yang seolah mutlak. Atau itu hanya karena aku (masih) mencintainya?

“Tidak.” Jawabku cepat. “Eh, iya. Maksudku, semalam aku tidur cepat. Tetapi malam-malam sebelumnya aku memang begadang. Tahu dari mana? Apa dulu kau pergi untuk belajar menjadi cenayang?”

Ia tertawa kecil. Membuatku kikuk. Tawanya masih sama. Masih mampu membuat dadaku seperti meletup-letup karena perasaan bahagia. Aku jadi mengingat-ingat lagi tampilanku di cermin sebelum aku pergi tadi. Jeans belel yang sudah kehilangan warna aslinya. Kaos kebesaran berwarna merah –warna kesukaannya, bergambar dua jari berbentuk huruf V yang berarti ‘peace’. Rambut tebal berangsur panjang, tidak sempat aku rapikan. Juga kumis tipis dan janggut yang mulai tumbuh memenuhi dagu. Terlebih lagi, wajahku penuh bekas jerawat yang tidak tahu harus dirawat bagaimana. Aku tahu aku terlihat kacau.

“Mata panda itu.. Sorot matamu.. Pakaianmu.. Kamu terlihat kacau.”

Benar, kan. Aku terlihat kacau.

“Kamu lupa ya. Dulu, sebelum pergi, aku berpesan satu hal. ‘Buat aku terkesan di pertemuan kita berikutnya’.”

Aku menundukkan kepala yang terasa berat karena malu.

“Tetapi sepertinya kamu lupa karena waktu itu kamu lebih memilih untuk menuruti amarahmu karena melihat kepergianku. Jangan ulangi, jika aku boleh menasehati.”

Aku tersenyum kecut. Bagaimana mungkin aku tidak marah melihat ia pergi begitu saja. Tidak ada pembicaraan apa-apa hingga aku tidak menemukannya di sampingku ketika terbangun. Pun pesan yang ia sebutkan barusan, hanya ia tulis di balik kartu nama entah siapa, yang ditemukannya di atas meja.

“Jangan ulangi? Jangan ulangi bagian mana?”

“Jangan ulangi menuruti emosi…”

“Ah, tentu saja kau bisa menasehati.” Aku membuka suara dengan ragu-ragu. Apa sekarang saat yang tepat untuk berdebat? “Kau pergi karena kau adalah ahlinya menuruti logika. Tidak mendapat apa yang kaubutuhkan ketika bersamaku, membuatmu pergi. Begitu, kan?”

“Hentikan! Kita tahu keadaannya tidak seperti itu.”

“Ya, tentu saja. Tidak seperti itu. Tentu saja.”

“Berhentilah bertingkah seperti anak kecil. Kamu tahu benar bahwa aku hanya ingin mengejar mimpi. Bukankah kamu yang menolak pergi denganku? Bukankah kamu yang terlalu takut untuk keluar dari zona nyaman? Ah, here we go again!

Nadanya meninggi lalu ia membuang pandangannya ke luar jendela. Sementara itu aku terhenyak mendengar satu lagi kenyataan yang sebenarnya tidak ingin aku dengar.

“Apa sekarang kamu masih sepengecut itu?” Katanya. Tatapannya masih jauh ke luar jendela. “Berlindung di ketiak atasanmu yang memperlakukanmu seperti budak hanya karena kamu suka merasa dibutuhkan?”

Deg!

Aku sudah mengundurkan diri dari perusahaan yang ia maksud, tetapi aku belum bergerak kemana-mana setelah itu. Aku diam di tempat. Aku memang demikian menyedihkan.

“Aku datang ke sini bukan untuk mengungkit kejadian yang dulu-dulu. Aku pikir setelah aku pergi, kamu sudi menyisihkan waktu untuk berpikir dengan jernih.”

Ia menyebut kata ‘sudi’ dengan penekanan yang membuatku terganggu.

“Aku benar-benar ingin tahu bagaimana kamu bertahan hidup. Kalau kamu bilang bahwa kamu senang berada di zona nyaman, seharusnya sekarang kamu tidak sekacau ini.”

“Aku sudah berhenti bekerja.” Kataku samar-samar.

“Pengangguran. Tentu saja.” Amarahnya mereda. Lalu meninggi lagi di kalimat berikutnya. “Dengarkan, aku rasa pertemuan ini sia-sia. Tidak ada akhir yang baik bila aku sudah dirundung emosi dan kamu menolak bereaksi.”

Ia mengambil tas tangannya dari kursi kosong di sampingnya. Memasukkan berturut-turut ponsel, rokok dan pemantik api yang sedari tadi tergeletak di atas meja.

“Kamu masih sama. Tidak memiliki nyali untuk menjadi lebih baik. Mungkin benar, aku tidak menemukan apa yang aku cari di dirimu. Aku butuh laki-laki yang berani mengambil risiko. Aku memimpikan laki-laki yang berani menantang dirinya sendiri.”

Kini ia mulai memakai sarung tangannya. Berwarna hitam sehitam gaunnya yang berpotongan dada rendah. Sehitam rambutnya yang ia tata rapi. Aku rasa, selain belajar menjadi cenayang, ia juga belajar bagaimana caranya terlihat lebih anggun. Make up yang sederhana dipadu dengan lipstik berwarna merah terang membuatnya terkesan dominan. Aku menciut di kursiku.

“Aku menghubungimu karena aku ingin mengetahui kabarmu. Asal kamu tahu, aku juga merasa bersalah ketika pergi. Tetapi melihatmu seperti ini, aku tahu penyesalanku hanyalah kesia-siaan.”

Ia mengeluarkan selembar uang untuk membayar minuman yang ia pesan. Menyelipkannya di bawah asbak agar tidak terbang terbawa angin. Dengan keanggunan yang sama seperti tadi, ia berdiri dari kursinya.

“Terima kasih sudah mau menemuiku.”

Aku tahu ia mengatakan itu sambil melihat ke arahku, meski aku hanya berani menunduk memandang cangkirku yang hampir kosong.

“Oya, jika suatu saat kamu berubah pikiran, silakan buat aku terkesan di pertemuan kita berikutnya.”

Lalu ia pergi. Benar-benar pergi. Sementara itu, perasaan malu menahanku untuk tidak mengejarnya.

*

Tulisan ini untuk #tantanganmenulis yang diadakan oleh @JiaEffendie. Lanjutannya dari deskripsi diri, yaitu menciptakan konflik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s