[#Cerpen24Jam – 1] Sepasang Sepatu Tua

1. Sepasang Sepatu Tua

“Benarkah mereka akan datang kemari? Berani-beraninya mereka!” Gilbert menggebrak meja dengan keras, membuat gelas dan piring kecil berisi kue kering di depannya bergetar dan menimbulkan suara gemerincing. Marilyn, ibunya, yang sedang menjahit di kursi goyang dekat jendela menoleh dengan cepat dan bertanya apa yang terjadi. Pertanyaan retoris karena selama Gilbert ada dalam jarak pandangnya, semua harus baik-baik saja. Gilbert menggelengkan kepala agar Marilyn tidak mencaritahu apa yang sedang terjadi.

“Ssttt.. Jangan bicara keras-keras. Aku tidak mau ketahuan sebagai si pengadu.” Jill berbicara pelan. Ada perasaan takut dalam suaranya.

“Kau bukan pengadu. Maksudku, secara teknis, mereka tidak memberitahumu. Mereka hanya berbicara terlalu keras dan tanpa sengaja kau mendengar pembicaraan mereka. Benar, kan?” Gilbert terkekeh.

Di hadapannya, Jill ikut terkekeh. Memperlihatkan giginya yang besar-besar dan berwarna gading. Dihiasi kerak yang berwarna kuning kecokelatan di dekat gusi. Bahunya naik turun beberapa kali sebelum ia menyadari sesuatu. Suara langkah kaki terdengar di kejauhan. Derap langkah itu semakin mendekat. Tidak kurang dari lima orang pasti telah siap menyerbu rumah Gilbert.

“Bahaya! Mereka semakin dekat. Mereka tidak boleh tahu aku ada di sini. Kau harus menyembunyikan aku.”

“Larilah ke belakang rumah. Masuk ke gudang dan kunci dirimu dari dalam. Jangan membuat suara apapun. Tunggu sampai aku datang menjemputmu.”

Gilbert berkata cepat dan Jill mendengarkan dengan saksama. Jill mengangguk lalu segera berlari.

“Apa yang terjadi? Kalian benar-benar biang ribut.”

Marilyn berteriak kesal dari kursi goyangnya. Jill menghiraukannya dan segera berlari melewatinya. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai kayu menimbulkan suara berisik. Keributan itulah yang membuat Marilyn gusar. Tidak lama kemudian, bersamaan dengan sampainya Jill di gudang belakang, pintu depan rumah Gilbert didobrak dengan paksa.

“Gilbert! Keluar kau!”

Dengan langkah berani, Gilbert mendatangi mereka. Lima orang berbadan besar tampak sedang berdiri dengan gagah, berkacak pinggang dan memasang tampang garang.

“Jadi kau yang bernama Gilbert.” Laki-laki yang berdiri paling depan, tertawa mengejek melihat Gilbert yang ternyata berbadan sedang dan terlihat lemah.

“Aku dengar pagi tadi kau bersikap sok pahlawan. Memukuli anak buahku yang menurutmu telah meminta sekeranjang jeruk secara paksa kepada salah seorang pedagang. Apa yang membuatmu begitu berani, Anak Kecil?”

Belum sempat Gilbert bereaksi, Marilyn sudah berdiri di belakangnya. Memelototi kelima tamu mereka satu persatu. Laki-laki yang berbicara tadi mengurungkan niatnya menarik kerah baju Gilbert untuk menyeretnya ke jalan.

“Apa yang terjadi di sini? Siapa yang kau sebut anak kecil?” Tantang Marilyn.

Hening sejenak. “Akan kubalas kau nanti!”

Laki-laki itu memandang tajam ke arah Gilbert lalu berbalik dan mengajak teman-temannya pergi dari sana. Dalam kepalanya, ia sedang merencanakan pembalasan dendam yang baginya lebih menyenangkan dari ini.

“Apa yang terjadi? Apa yang telah kau lakukan? Kau memakain sepatu itu lagi untuk mencari gara-gara?”

Gilbert menggeleng cepat. “Aku tidak mencari gara-gara.”

“Memakai sepatu itu sama dengan mencari gara-gara. Kau belum cukup umur!”

Marilyn berteriak marah sambil berjalan kembali ke kursi goyangnya. Di belakangnya, Gilbert mengikutinya sambil menundukkan kepala.

“Oke, sebenarnya bukan karena kau belum cukup umur. Tetapi kau belum pandai mengendalikan diri. Kalau mau mahir, kau harus latihan. Sebelum mahir, tempat yang tepat untuk berlatih adalah di rumah ini. Berlatih denganku. Bukan dengan preman pasar.”

“A-aku tidak berani memintamu mengajariku. Aku takut…”

“Ah, memang benar mereka menyebutmu anak kecil. Kau benar-benar penakut.”

Di dekat pintu dapur yang berhubungan langsung dengan ruang keluarga tempat Gilbert dan ibunya berbicara, Jill mendengarkan dengan saksama. Ia sudah berada di sana sejak mendengar langkah kaki menjauhi rumah Gilbert. Firasatnya benar bahwa Nath dan kelompoknya telah pergi.

“Besok aku akan mengajakmu berlatih mengendalikan diri ketika menggunakan sepatu itu.”

Jill memandang sepasang sepatu tua yang ada di tangannya. Apa sepatu yang dimaksud Marilyn adalah sepatu yang kini ada di tangannya? Sepatu itu ia temukan di gudang tanpa sengaja. Tiba-tiba melompat keluar dengan sendirinya dari sebuah kotak kayu tanpa kunci. Untungnya Jill memiliki pengendalian diri yang baik sehingga ia tidak berteriak meskipun sangat terkejut. Dengan sangat hati-hati, ia mendekati sepatu yang diam setelah melompat sebanyak tiga kali. Ia membawanya dengan maksud ingin menanyakan perihal sepatu itu kepada Gilbert. Tetapi percakapan Gilbert dan ibunya barusan membuatnya berubah pikiran.

“Benarkah?” Kata Gilbert girang. “Aku akan ke gudang untuk mengambil sepatu itu sekarang.”

Gilbert baru saja bersiap-siap berlari ketika ia mendengar suara sepatu yang beradu dengan lantai kayu dari arah dapur menuju pintu belakang. Ia memandang ke jendela, menunggu siapa yang berlari keluar dari dapurnya.  Jill.

“Jill. Kau mau ke mana?”

Gilbert meneriaki Jill sambil berlari mengejarnya. Dari kejauhan, ia melihat Jill menenteng sesuatu. Tidak perlu waktu lama hingga ia menyadari bahwa Jill telah menemukan sepatu miliknya di gudang belakang. Jill berlari semakin jauh dengan sepasang sepatu tua di tangannya. Ia tidak tahu mengapa ia memilih berlari daripada menemui Gilbert dan menanyakan perihal sepatu itu sesuai rencananya. Ia berlari dan terus berlari.

“Sepatuku.. Jill…!”

*

Cerita selanjutnya:

2. Tombol Pengingat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s