[#Cerpen24Jam – 3] Lima Menit Kemudian

Cerita sebelumnya.

1. Sepasang Sepatu Tua

2. Tombol Pengingat

*

3. Lima Menit Kemudian

Jill tergeletak tak berdaya di pinggir jalan dekat air mancur di alun-alun kota. Matanya mengerjap malas karena badannya yang remuk redam. Pukulan Nath dan kawan-kawannya tidak main-main. Tidak ada rasa kasihan meskipun tubuh Jill jauh lebih mungil daripada kebanyakan mereka. Sekujur tubuhnya biru akibat pukulan dan tonjokan, tidak terkecuali di sekitar matanya. Untung Jill sempat menghindar ketika Nath hendak menghantamkan tinjunya yang terakhir.

“Rasakan tinjuku yang terakhir untuk hari ini. Bila aku masih mendengar kau mencari gara-gara lagi denganku, maka aku tidak akan segan-segan menghajarmu lebih kejam dari ini.” Katanya. Lalu pukulan itu menghantam udara karena Jill berhasil menghindar ke kanan. Untungnya Nath tidak terprovokasi. Ia meninggalkan Jill begitu saja di pinggir jalan.

Lima menit kemudian, Gilbert dan Marilyn berjalan melewati mereka. Di tangan Marilyn, keranjang belanjanya penuh dengan bahan makanan. Gilbert melihatnya, ia ingin menolong Jill tapi Marilyn melarangnya.

“Jill sudah bersalah kepadamu. Kau harus memberinya pelajaran sesekali.” Bisik Marilyn.

Gilbert menggenggam mainan kayu di tangannya dengan kencang. Tetapi ia menjauhkan ibu jarinya dari tombol pengingat. Keinginannya begitu besar untuk memaafkan Jill dan menolongnya.

“Orang baik tidak seharusnya mencuri milik temannya.” Marilyn kembali memengaruhi Gilbert. Akhirnya Gilbert menuruti kata Marilyn. Ia menekan tombol pengingat dan meringis kesakitan karena jarinya tertusuk paku yang tertanam di dalam tombol tersebut.

Di kejauhan, Jill berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan berjalan mengejar Gilbert dan ibunya. Ia memanggil Gilbert, tetapi si pemilik nama terus berjalan dan mengabaikannya.

“Gilbert.. Gilbert!”

Teriaknya sambil berjalan tertatih.

“Aku Jill. Apa kau sudah lupa padaku?”

Gilbert melirik ke arah Marilyn. Perempuan itu pura-pura tidak mendengar panggilan Jill dan terus berjalan. Sementara itu, dalam hatinya, Gilbert begitu ingin menolong temannya. Jika benar kata Marilyn bahwa Jlil hanya memiliki satu teman yaitu dirinya, maka saat ini Jill pastilah sangat membutuhkan pertolongan. Lagi-lagi Gilbert menekan tombol pengingat karena memutuskan untuk tidak menolong Jill dan lagi-lagi ia meringis kesakitan.

Lima menit kemudian, mereka tiba di rumah. Marilyn segera menuju dapur untuk membereskan barang belanjaannya. Sementara itu Gilbert menuju ruang tengah untuk bermain-main.

Butuh waktu lama bagi Jill untuk tiba di rumah Gilbert. Ia jatuh tersungkur di depan pintu rumah tersebut dan menimbulkan suara gaduh. Gilbert mencari tahu apa yang terjadi dan melihat Jill di muka pintu rumahnya. Mau tidak mau, Gilbert menolong Jill. Ia membantu Jill berjalan dan membaringkannya di kursi panjang di ruang tamu. Marilyn yang sudah mengetahui bahwa Jill datang, masuk ke ruang tamu dengan baskom berisi air dingin dan selembar kain.

“Bersihkan luka-lukanya. Ia sangat beruntung memiliki kau sebagai teman.” Kata Marilyn ketus sambil menatap tajam ke arah Jill. Sementara Jill menatap Marilyn dengan pandangan meminta maaf.

“Aku bersalah karena membawa lari sepatu itu.” Kata Jill sambil meringis karena luka-lukanya sedang dibersihkan. “Aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan sepatu itu. Sepatu itu seperti mengetahui bahwa aku bukan pemiliknya. Setiap kali aku berusaha memasukkan kakiku ke dalamnya, ada daya tolak dari dalam sepatu. Seolah-olah kakiku dan dasar sepatu itu memiliki kutub magnet yang sama.”

Ketika mendengar penjelasan Jill, Gilbert mengingat kata-kata Marilyn bahwa sepatu itu tahu siapa pemiliknya. Mungkin itu sebabnya sepatu itu tidak mau dipakai oleh Jill. Sungguh berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Gilbert memakai sepatu itu dengan mudah. Berkebalikan dengan pengalaman Jill, sepatu itu justru menarik kaki Gilbert agar segera memakainya.

“Di mana sepatu itu sekarang?”

“A-aku tidak tahu.”

“Apa?!” Gilbert mendelik sebagai reaksi spontannya.

“Maafkan aku. Pagi tadi, sepatu itu pergi dengan sendirinya. Aku tidak sempat mengejarnya karena pada saat yang bersamaan aku harus melarikan diri dari Nath dan kawan-kawannya.”

“Hhh..” Gilbert mendesah pasrah. Semoga Marilyn berkata benar tentang sepatu itu, katanya dalam hati.

“Apa yang dikatakan Marilyn tentang sepatu itu?”

“Eh, tidak. Tidak apa-apa.” Gilbert dengan cepat mengoreksi kata-katanya. Tetapi sedetik kemudian, ia menyadari sesuatu. Tadi ia bicara dalam hati, mengapa Jill bisa mendengarnya?

“K-kau bisa membaca pikiranku?”

“Apa? Aku tidak mengerti. Aku pikir tadi aku mendengarmu berbicara tentang Marilyn dan kebenaran kata-katanya. Marilyn bilang apa tentang sepatu itu? Mengapa aku merasa bahwa sepatu itu benar-benar istimewa?”

Gilbert tidak tahu harus menjawab apa, ia mengalihkan pandangannya dari mata Jill dan berkonsentrasi pada luka Jill di bagian tangan. Tidak ada suara yang mereka buat hingga lima menit kemudian mereka mendengar suara langkah kaki di lantai atas rumah itu. Siapa di atas? Rumah ini hanya berpenghuni Gilbert dan Marilyn. Sementara itu, Marilyn sedang ada di dapur dan Gilbert ada di ruang tamu.

Gilbert memandang Jill dengan tatapan bertanya-tanya. Dalam pikirannya, hanya ada satu kemungkinan. Sepatu itu. Sejalan dengan itu, Jill menyadari dua hal. Pertama, memang benar ada sesuatu dengan sepatu itu. Kedua, ia bisa membaca pikiran Gilbert?

Tidak lama kemudian, sepasang sepatu tua yang melarikan diri dari Jill, tiba di samping kaki Gilbert.

*

Bersambung ke cerita berikutnya.

4. Tiga Senjata

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s