[#Cerpen24Jam – 2] Tombol Pengingat

Cerita sebelumnya.

1. Sepasang Sepatu Tua

*

2. Tombol Pengingat

Gilbert menyerah mengejar Jill. Ia berlari kembali ke dalam rumah dan menemukan Marilyn menyambutnya dengan berkacak pinggang.

“Selain tidak memiliki pengendalian diri yang baik, kau juga bodoh. Bagaimana mungkin sepatu istimewa seperti itu kausimpan di dalam gudang bersama-sama dengan segala barang bekas.”

“Sepatu itu juga barang bekas…”

“..sebelum kautahu kelebihannya?”

Gilbert diam saja. Selain menyadari bahwa kata-kata Marilyn ada benarnya, ia juga bermuram karena baru saja kehilangan sepatu barunya. Maksudnya sepatu yang baru ia sadari keberadaannya.

“Sudahlah, sepatu itu dibawa lari Jill. Anggap saja sepatu itu hilang entah ke mana.”

Gilbert berjalan melewati Marilyn yang berdiri di ambang pintu. Tubuh kecilnya menyelinap di antara lengan Marilyn yang kekar dan daun pintu yang membuka lebar. Kedua lengannya terayun lemas dan kepalanya menunduk malas. Langkahnya besar-besar agar ia segera tiba di kamarnya.

Marilyn berbalik badan. Ia memandang anaknya yang berjalan tanpa semangat yang biasa menyelimuti tubuh kecil Gilbert. “Hari ini kau boleh beristirahat. Besok kita akan mulai belajar bagaimana caranya mengendalikan diri, mengendalikan energi dalam tubuhmu.” Gilbert berhenti dan menoleh ke arah Marilyn. “Dengan begitu kau tidak akan mencari gara-gara sekalipun kau sedang memakai sepatu itu.”

“Tapi sepatu itu… Jill…”

“Lupakan Jill.”

Gilbert tidak mengerti. Keningnya berkerut karena alisnya menaik dan matanya membesar meminta jawaban.

“Pertama, Jill adalah temanmu dan kau adalah satu-satunya teman yang ia miliki. Jill akan kembali ke sini. Kedua, sepatu itu istimewa. Ia tahu siapa yang memilikinya. Ia juga tahu ke mana ia harus pulang.”

“Benarkah?”

“Jangan percayai semua kata-kataku. Aku hanyalah ibu yang galak dan tukang bohong.”

“Maaf.” Gilbert merasa bersalah karena meragukan kata-kata Marilyn. Iapun segera berlari ke kamarnya. Berharap kesedihannya sedikit berkurang dengan membaca buku cerita kesukaannya sebelum beranjak tidur.

Dalam hati, ia bersemangat ketika mendengar kata ‘latihan’ dari Marilyn. Ia yakin, latihan yang dimaksud adalah sesuatu yang menyenangkan.

*

Marilyn tidak mendengar apa-apa lagi, ia menganggap bahwa anaknya sudah tidur. Ia berjalan pelan dari depan pintu kamar Gilbert menuju kamarnya sendiri di ujung lorong. Ia berjalan begitu pelan seolah-olah langkahnya seringan kapas yang menyentuh lantai marmer. Halus, tanpa suara.

Di dalam kamarnya, Marilyn membuka lemari dan mengambil kotak kayu yang menjadi tempat untuk menyimpan barang-barang berharga. Ia mengeluarkan sebuah kertas lusuh berwarna cokelat kehitaman. Tulisan di kertas itu sulit terbaca. Marilyn terbata-bata mengeja huruf demi huruf. Ia merindukan si penulis surat itu. Jack, suaminya.

Marilyn Sayang, bila aku tidak pergi sekarang maka Gilbert tidak akan bisa mewarisi satu-satunya harta yang kita miliki. Sepatu itu. Bila aku tidak mati sekarang, maka sepatu itu tidak akan mau berpindah tangan sementara usia Gilbert sekarang adalah usia yang tepat untuk mulai berlatih. Usia emas.

Aku serahkan Gilbert, sepatu itu dan masa depan keluarga kita di tanganmu. Aku mencintaimu.

Jack

Marilyn melipat surat terakhir Jack dan meletakkannya kembali ke dalam kotak. Dari kotak yang sama, ia mengeluarkan sepasang sepatu. Sepasang sepatu lain dengan keistimewaan yang sama dengan sepatu yang dibawa lari oleh Jill. Sepasang sepatu milik Marilyn sendiri.

“Saatnya berjalan-jalan, Sayang.”

*

“Gilbert!”

Gilbert segera berlari ke ruang makan menemui Marilyn yang memanggilnya berkali-kali. “Yaa. Aku datang.”

“Aku akan mengajakmu ke pasar.  Tetapi sebelumnya, kau harus mendengarkan aku baik-baik.”

Marilyn memberi isyarat agar Gilbert duduk. Lalu ia mengambil tempat duduk di seberang Gilbert dan memberikannya sesuatu. Sebuah mainan seukuran genggaman tangan, berbahan kayu yang berbentuk setengah bola. Ada bagian melengkung dan ada bagian mendatar. Di tengah bagian mendatar, terdapat sebuah lubang kecil dan diberi kawat melingkar-lingkar serupa per. Di atas lingkaran kawat tersebut, terdapat sebatang kayu berbentuk tabung. Diameternya kurang lebih seukuran dengan diameter pensil. Panjangnya sekitar dua sentimeter. Dua pertiga dari kayu berbentuk tabung tersebut terbenam dalam bola kayu sedangkan sisanya menonjol di permukaan kayu yang datar.

“Sebut saja ini tombol pengingat. Kau akan menggenggamnya selama kita berada di luar rumah.”

“Untuk apa ini?”

“Hal pertama yang harus kaupelajari adalah mengetahui apa yang kaurasakan, apa yang kaulakukan, apa yang ingin kaulakukan, mengapa kau melakukannya, apa akibatnya dan lain sebagainya,”

Gilbert menganggukkan kepala meskipun ia tidak yakin akan apa yang dikatakan Marilyn. Tetapi ia bersemangat untuk melakukannya.

“Apa yang harus aku lakukan dengan benda ini?”

“Kau hanya perlu menekan tombol ini…” Marilyn menunjuk ujung kayu berbentuk tabung yang menonjol di permukaan bola kayu yang mendatar. “…setiap kali kau merasa ingin melakukan sesuatu sebagai reaksi atas apa yang kaulihat nanti di luar rumah.”

“Mmm.. A-aku tidak mengerti.”

“Hhh…” Marilyn mendesah. Ia hanya berakting karena sebenarnya adalah wajar anak usia sembilan tahun tidak memahami kalimatnya yang terlalu rumit. Ia hanya ingin membuat Gilbert merasa bahwa ini memang hal yang sulit, jadi ia tidak akan main-main. “Begini,”

Gilbert  melipat tangannya di atas meja. Menunjukkan sikap sebagai anak manis yang berharap diberi permen.

“Tekan tombol ini setiap kali kau ingin melakukan sesuatu karena atau kepada orang lain. Sederhana, kan?”

Gilbert memaksakan diri mengangguk. Marilyn bisa melihat bahwa laki-laki kecil di hadapannya tidak memahami apa yang ia dengar. Tatapan matanya mengambang. Tidak yakin. Kau tidak bisa mengharapkan orang lain menjelaskan semua hal kepadamu. Ada hal-hal yang akan lebih mudah kau mengerti dengan mengalaminya langsung, Marilyn membenarkan tindakannya.

“Ayo berangkat.”

Di sepanjang perjalanan, Gilbert merasa ragu. Ia melihat anak-anak kecil berpakaian lusuh sedang mengorek bak sampah mencari-cari sesuatu yang bisa di makan. Melihat hal itu, Gilbert ingin memberikan uang logam yang ia punya kepada mereka sehingga mereka bisa membeli makanan yang layak. Tidak jauh dari sana, ia melihat gerombolan laki-laki yang kemarin datang ke rumahnya, sedang asyik memukul seorang anak kecil yang tidak berdaya. Melihat itu, Gilbert ingin menolong anak itu. Tetapi ia diam saja. Ia tidak melakukan apa yang diinginkannya, ia juga tidak menekan tombol pada mainan kayu yang sedang digenggamnya. Takut-takut, ia menarik gaun panjang Marilyn dan bertanya.

“Apa aku harus menekan tombol ini ketika aku batal menolong orang karena aku tahu tindakan itu akan membahayakan diriku?”

Marilyn mengangguk. “Tekanlah tombol itu ketika kaurasa perlu. Setelahnya, sadari mengapa kau melakukannya.”

“Lalu?”

“Lalu, semakin lama kau akan semakin paham apa yang membuatmu melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Benarkah kau melakukan sesuatu karena orang lain atau hanya demi keuntungan pribadi.”

“Lalu di mana letak latihan pengendalian diri yang kau maksud?”

“Coba tekan tombol itu satu kali.”

Gilbert menuruti kata-kata Marilyn.

“Aww.” Gilbert memekik kesakitan. Ia memerhatikan dengan saksama. Ada paku kecil terselip di tengah-tengah batang kayu berbentuk tabung yang menonjol, yang ketika kayu tersebut ditekan, paku kecil tersebut akan mencuat keluar lalu menusuk kulit yang menekannya.

“Tidak semua tindakan, baik dilakukan. Ada hal-hal yang tidak harus kaulakukan agar suasana tidak semakin rumit.”

Gilbert tidak menjawab penjelasan Marilyn. Sebaliknya, diam-diam ia menekan tombol itu lagi lalu berjalan cepat agar Marilyn tidak melihat ia meringis kesakitan. Marilyn benar, tidak semua tindakan yang ingin dilakukan, harus dilakukan. Sekali-sekali, ia perlu membiarkan Jill yang telah membawa pergi sepatunya dipukuli gerombolan laki-laki yang mendatanginya kemarin.

*

Bersambung ke cerita berikutnya.

3. Lima Menit Kemudian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s