[#Cerpen24Jam – 4] Tiga Senjata

Cerita sebelumnya.

1. [#1] Sepasang Sepatu Tua

2. [#2] Tombol Pengingat

3. [#3] Lima Menit Kemudian

*

4. Tiga Senjata

Martha sedang menyiapkan hidangan teh dan kue kering sore itu ketika suaminya, Abraham pulang. Wajah Abraham kusut seperti biasa. Sudah beberapa tahun belakangan suaminya tidak pernah terlihat benar-benar bahagia. Martha kerap menanyakan hal tersebut secara langsung dan suaminya hanya menggeleng lemah. Hingga tahun kesembilan pernikahan mereka, Martha tak kunjung hamil. Rumah mereka sepi dan terasa kurang lengkap.

“Bagaimana hari ini? Lumayan?” Martha membantu Abraham melepas mantel. Abraham belum menjawab, ia duduk di kursi ruang makan dan Martha membantu melepaskan sepatunya.

“Seperti biasa. Lindth menolak membayar utang dengan alasan tokonya sedang sepi pembeli. Ia tidak memikirkan kita yang harus segera membeli pupuk dan pestisida untuk kebun jagung. Huh.” Abraham menjawab dengan cepat dan dengan nada kesal. “Kita harus mencari sumber penghasilan lain bila tidak mau kelaparan.”

“Bagaimana dengan pembicaraan kita tentang Marilyn dan sepatu ajaib milik Gilbert? Seharusnya kau bisa memakai sepatu itu dan memanfaatkan keistimewaannya demi keuntungan kita.”

Abraham mengingat kembali saat-saat ketika pengacara membacakan surat wasiat ayahnya di depan mereka. Ayahnya meninggal ketika Abraham baru menikah dan Gilbert baru lahir. Pembacaan surat wasiat itu dihadiri semua anggota keluarga. Jack, Marilyn, Gilbert yang ada dalam dekapan Marilyn, Abraham, Martha, serta Ellie, adik bungsu Jack dan Abraham.

Tidak ada yang boleh membantah isi surat wasiat itu. Seperlima harta dan dua pasang sepatu tua diwariskan kepada anak laki-laki tertua dalam keluarga. Anak kedua dan ketiga mendapat masing-masing duaperlima dari total harta yang dimiliki ayahnya. Kala itu, Abraham menerima dengan senang hati bagiannya karena ia berpikir bahwa duaperlima dari harta ayahnya sudah lebih dari cukup. Ia lupa bahwa dirinya adalah pemalas. Seberapapun harta yang ia dapatkan, jika tanpa usaha untuk berhemat atau mengembangkan apa yang dimilikinya, ia akan jatuh miskin suatu hari nanti. Sayangnya, Martha pun sama pemalasnya.

Tahun pertama hingga tahun keenam, mereka hidup berfoya-foya. Menghabiskan semua yang mereka punya untuk kesenangan. Memasuki tahun ketujuh, mereka mulai panik. Berbagai pekerjaan mereka pertimbangkan untuk mulai dilakukan. Tidak ada keahlian tertentu yang mereka miliki sehingga sulit bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Selain itu, mereka juga tidak pandai berbisnis. Keluarga besar Abraham adalah seorang petani ulung. Mengetahui itu, Abraham mencoba peruntungannya menjadi petani dan mulai mengolah satu-satunya kebun yang mereka punya.

“Kau benar. Kita harus mencoba cara lain untuk menjadi kaya selain bersusah payah mengurus kebun yang hasilnya tidak seberapa.”

“Kapan kita akan menemui Marilyn?”

*

Sudah berminggu-minggu mainan kayu berisi tombol pengingat dibawa-bawa Gilbert setiap kali ia bermain di luar rumah. Ia sudah belajar memutuskan apa yang harus atau tidak harus dilakukan. Tindakan mana yang sifatnya benar-benar menolong dan sikap mana yang ia lakukan hanya demi kepentingan pribadi. Marilyn senang melihat Gilbert cepat belajar. Jack benar, katanya dalam hati, Gilbert sedang berada dalam usia emas untuk urusan ini. Sikapnya kepada Gilbert kini melunak. Dulu, ia kerap menyalahkan Gilbert atas kematian Jack. Tetapi sekarang Marilyn semakin jelas melihat Jack di dalam Gilbert. Semakin lama, Gilbert terlihat seperti ayahnya.

Sore ini mereka sedang menikmati teh dan pai apel yang disajikan Marilyn. Seperti biasa, Marilyn duduk di kursi goyangnya di dekat jendela. Kali ini, ia menjahit sweater wool untuk Jill. beberapa hari belakangan ini, Jill menginap di rumah mereka. Ia tidur dalam kamar yang sama dengan Gilbert. Ide itu muncul begitu saja ketika Jill masih bermain bersama Gilbert hingga jam makan malam tiba. Marilyn menawari Jill untuk makan malam bersama. Setelah itu, Gilbert mengajak Jill untuk menginap. Jill tinggal sendiri di rumah milik orangtuanya tak jauh dari rumah Gilbert. Orangtua Jill meninggal ketika wabah penyakit menyerang desa mereka. Syukurnya Jill memilik kekebalan tubuh yang lebih baik dari orangtuanya. Beberapa hari berikutnya, acara menginap bersama menjadi kebiasaan.

“Jill, coba tebak angka berapa yang sedang aku pikirkan!” Seru Gilbert ketika ia bosan membaca buku cerita.

Jill memandang Gilbert selama beberapa detik lalu menjawab. “Tiga! Mudah sekali.” Kata Jill sambil menepuk dada. Lalu ia kembali sibuk dengan buku cerita yang sedang dibacanya.

“Sekarang, nama siapa yang sedang ada dalam pikiranku?”

Sekali lagi Jill memalingkan muka ke arah Gilbert. Tetapi Gilbert tidak mau memandangnya. Ia memutar badan dan berpura-pura ingin mengambil pai apel yang ada di meja di sampingnya.

“Aku tidak bisa membaca pikiranmu kalau kau tidak melihatku.”

“Hahaha. Jadi benar, kau hanya bisa membaca pikiran seseorang kalau kau dan orang itu saling menatap?”

“Begitulah. Segala kelebihan pasti memiliki batasannya sendiri.”

“Tapi membaca pikiran orang lain adalah kemampuan yang keren. Dari mana kau mendapatkan kemampuan itu?”

“Aku, eh, tidak tahu. Kemampuan itu muncul begitu saja. Mmm.. Mungkin sama dengan kelebihan yang dimiliki sepatumu. Tidak ada yang tahu dari mana kekuatannya berasal. Aku rasa, beberapa orang memang ditakdirkan memiliki kelebihan tertentu.”

“Jill…” Teriak Marilyn dari jauh.

“Ya?”

“Bagaimana kalau kau tinggal di sini saja?”

Jill memandang Gilbert, lalu berbisik. “Apa ibumu serius?”

Gilbert mengangkat bahu.

“Apa kau mau aku tinggal di sini dan menjadi semacam saudara bagimu?” Bisik Jill lagi.

Mother, apa kau serius mengajak Jill untuk tinggal di sini? Kalau iya, aku akan senang sekali.”

“Aku serius. Anggap saja itu sebagai permintaan maaf karena aku dan ayahmu tidak bisa memberimu seorang adik.”

“Hore!”

“Hore!”

Gilbert dan Jill langsung berdiri dan melompat-lompat kegirangan. Mereka menghampiri Marilyn dan memeluk Marilyn bersamaan.

“Sebagai saudara, kalian harus saling menjaga. Sebagai keluarga, kita harus saling menjaga.” Marilyn mengusap rambut Gilbert dan Jill bergantian. “Jill, apa kau senang tinggal di sini?”

“Aku senang sekali, Marilyn!” Kata Jill sambil mengusap airmatanya yang menetes begitu saja.

“Jill, kau cengeng! Haha.” Teriak Gilbert. Lalu ia berlari ke belakang kursi goyang Marilyn untuk berlindung.

“Biar saja. Weeekk…” Jill membalas ledekan Gilbert dengan juluran lidah.

“Sudah, sudah.” Marilyn menenangkan keadaan. “Jill, aku dengar kau bisa membaca pikiran. Apa kau mau mencobaku?”

Jill mengangguk dan menatap Marilyn dalam-dalam. Setelah beberapa detik, ia tersenyum penasaran.

“Maukah kau menunjukkannya padaku, Marilyn? Aku sungguh ingin melihatnya, please.

“Apa? Apa?” Tanya Gilbert penasaran.

“Ayo, ikut aku.”

Marilyn membereskan peralatan jahit dan meletakkannya di atas kursi goyang. Lalu ia berjalan ke arah tangga menuju kamarnya. Gilbert dan Jill mengikutinya sambil berbisik-bisik.

“Ibuku punya apa?”

“Aku tidak mau bilang. Kita akan melihatnya sebentar lagi.” Kata Jill dengan sengaja agar Gilbert penasaran.

“Ehem.” Marilyn berdehem karena tahu anak-anak itu sedang berbisik-bisik di belakangnya.

Sesampainya di kamar Marilyn, Gilbert dan Jill langsung mengambil tempat duduk di pinggir ranjang sementara Marilyn membuka lemari dan mengeluarkan sebuah kotak kayu dari dalamnya.

“Jill, asal kau tahu. Kakek Gilbert mewariskan dua pasang sepatu. Satu untuk ayah Gilbert, satu untukku. Sekarang, Gilbert sudah mewarisi sepatu itu dari ayahnya. Dan selama ia belum menikah, maka sepasang sepatu yang lain tetap menjadi milikku.”

Gilbert membelalakkan mata karena kagum sementara itu Jill mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

“Whoaa.. Mother, ternyata kau juga memiliki sepatu yang sama dengan milikku!”

“Ya, Nak. Tetapi dengan kelebihan yang berbeda. Dengan memakai sepatumu, kau akan menjadi manusia perkasa. Kau bisa mengangkat, menarik, melempar, memukul apa saja dengan kekuatan luar bisa besar. Sedangkan sepatuku bisa membawaku ke mana saja yang aku mau.”

“Teleportasi!”

Marilyn tersenyum membenarkan.

“Asyik! Keluarga kita lengkap. Dua pasang sepatu istimewa dan sebuah kemampuan membaca pikiran. Kita memiliki tiga senjata untuk menghadapi musuh!”

“Musuh apa?” tanya Marilyn dan Gilbert bersamaan.

“Eh, maksudku. Tentu, semua manusia memiliki musuh. Hanya saja, kita tidak tahu kapan mereka akan muncul dan berusaha merusak hidup kita.” Kata Jill salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau benar, Jill.” Kata Marilyn sambil mengangguk. Pikirannya melayang ke banyak hal yang tiba-tiba membuatnya khawatir.

*

Pada sore yang lain, Abraham dan Martha merencanakan untuk mengunjungi Marilyn esok hari.

“Kita tidak boleh gagal, Sayang.”

“Tentu saja.”

*

Bersambung ke cerita berikutnya.

5. Menulis Takdir

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s