[#Cerpen24Jam – 5] Menulis Takdir

Cerita sebelumnya.

1. Sepasang Sepatu Tua

2. Tombol Pengingat

3. Lima Menit Kemudian

4. Tiga Senjata

*

5. Menulis Takdir

Marilyn kecil menarik-tarik gaun ibunya ketika ia ketakutan melihat teman barunya dari kejauhan. Ide siapa datang ke rumah yang begini asing dan orang-orang yang tidak ia kenal? Ada empat orang asing di hadapan Marilyn. Dua orang yang seusia dengan ibunya. Laki-laki dan perempuan. Dua orang lagi yang usianya tak jauh berbeda dengannya. Keduanya laki-laki.

Marilyn kecil menarik-tarik gaun ibunya. Bertanya dengan wajah hampir menangis. “Siapa mereka, Mother? Mengapa kita ada di sini?”

Bukannya menjawab pertanyaan Marilyn, ibunya malah melanjutkan mengobrol dengan kedua orang yang seusia dengannya.

“Maafkan kelancangan Marilyn, ia memang pemalu. Marilyn adalah anakku satu-satunya, jadi ia memang tidak terbiasa bergaul. Kau tahu, kan, aku tidak mungkin membiarkannya bermain di luar rumah dan berinteraksi dengan orang-orang dari kelas rendahan.”

“Haha..” Perempuan tua itu tertawa kecil. “Seharusnya kau pindah ke lingkungan kami. Jadi Marilyn bisa bermain dengan Jack dan Abraham. Mereka akan senang mendapat teman baru. Benar, kan, Anak-anak?”

“Ya, aku akan mempertimbangkannya. Aku baru tiba di sini dan hanya berencana  singgah dalam waktu yang tidak lama.”

“Kita bisa merencanakan masa depan anak-anak kalau benar kau mau tinggal di sekitar sini. Itupun kalau kau mengerti maksudku.” Laki-laki tua itu tertawa kecil –persis seperti perempuan tua tadi, sambil melirik salah satu anak laki-laki dan melirik Marilyn bergantian.

“Jack dan Marilyn? Oh, itu ide yang bagus sekali.”

Ibu Marilyn tertawa senang. Tetapi tidak dengan anak laki-laki bernama Jack. Ia bersungut-sungut ke arah Marilyn.

Pembicaraan mereka berakhir dengan keputusan bahwa Marilyn dan ibunya akan mencari rumah di sekitar rumah Jack dan keluarganya. Keputusan tersebut juga merupakan penanda bahwa kedua keluarga telah sepakat menjodohkan Jack dan Marilyn yang saat itu belum tahu apa-apa.

Tidak ada yang bisa membantah perkataan orang tua. Dalam budaya mereka, menghormati orang tua sama dengan menuruti kemauan mereka seburuk apapun keadaannya nanti. Seiring berjalannya waktu, Marilyn mulai mengenal Jack tidak hanya dari Jack dan keluarganya tetapi juga dari orang-orang. Kata mereka, siapa yang tidak mengenal Jack Aethelmaer? Bahkan jika kausebut namanya dengan berbisik-bisik, orang di sampingmu akan langsung memberi peringatan.

“Jangan macam-macam dengan Jack. Kelak ia akan menjadi penguasa di wilayah ini menggantikan ayahnya. Belum tentu sebagai petani kaya raya yang disegani, bisa jadi sebagai walikota atau bahkan gubernur.”

“Dari mana kalian tahu? Apa kalian bisa melihat masa depan?”

“Tidak perlu kemampuan khusus untuk mengetahui bahwa anak itu memiliki masa depan yang cerah. Kau bisa melihatnya dengan mata telanjang. Otak, wibawa dan sedikit empati pada nasib sekeliling, sudah lebih dari cukup untuk membuat orang lain mempercayakan uang pajak yang mereka bayarkan kepadamu.”

Begitulah, semua kagum dengan perangai Jack yang dianggap menawan.

*

“Lalu sejak kapan kau jatuh cinta pada father, Mother?

“Sejak ayahmu mengajakku menikah.”

“Bagaimana bisa?”

“Dia bilang ‘Aku menyukaimu, tapi aku belum mencintaimu. Mungkin nanti setelah kita menikah, cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Setidaknya bibit-bibit cinta itu sudah aku tanam. Kau yang harus menyiram dan merawatnya hingga tumbuh besar. Kau mau menikah denganku?’”

Gilbert dan Jill tersenyum-senyum mendengar cerita tentang cinta Marilyn dan Jack.

“Aku tidak tahu rasanya mencintai seorang gadis.” Seru Jill.

“Mana ada gadis yang mau dengan laki-laki sepertimu.”

“Memangnya apa kekuranganku? Aku cukup tampan, pintar dan… mmm…”

“…banyak akal.”

“Hei, banyak akal bukanlah hal yang buruk!”

“Hentikan. Kalian membuatku ingin tertawa. Gilbert benar. Jill juga benar. Kalian akan mendapatkan gadis yang memang pantas bersanding dengan kalian. Gadis baik untuk laki-laki baik dan sebaliknya.” Marilyn melepaskan diri dari pelukan kedua anak itu dan bersiap turun dari tempat tidur.

“Kau mau kemana? Kau belum bercerita apa-apa tentang sepatu itu.” Rengek Gilbert.

“Hmm..”

“Apa father memberitahumu dari mana ia mendapatkan sepatu itu?”

Marilyn kembali mengambil posisi nyaman. Nyaman menurutnya adalah menyandarkan punggung tuanya di bantal yang empuk. “Jack tidak bercerita apa-apa. Ia hanya mengatakan bahwa itu adalah warisan turun temurun dari nenek moyang mereka. Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali memilikinya.”

“Jadi, kau termasuk beruntung bisa memilikinya?”

“Ya, aku sangat beruntung. Aku beruntung mengenal Jack. Aku beruntung memilikimu. Dan aku beruntung memiliki sepatu itu. Aku rasa keberuntungan semacam itu sudah menjadi takdirku.”

Marilyn memperhatikan kedua anak laki-laki yang mendengarkannya dengan penuh perhatian. Wajah mereka seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius.

“Apa yang kalian pikirkan? Ah, sudah waktunya tidur. Ayo bersiap-siap.”

“Marilyn..” Jill menyela perkataan Marilyn. “Apa menurutmu, kedua orang tuaku menikah, memiliki aku dan akhirnya mati karena itu adalah takdir mereka?”

“Tentu saja. Dalam pernikahan ada cinta. Ketika merawatmu, mereka melakukannya dengan cinta. Kematian mereka yang bersamaan semakin menegaskan bahwa cinta mereka demikian kuat. Cinta adalah takdir, Anakku.”

Marilyn mengecup ubun-ubun Jill lalu memeluknya sekilas.

“Ada pertanyaan?” Sekali lagi Marilyn menatap kedua anak itu bergantian. Gilbert tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Matanya tampak berat. Sementara Jill, matanya masih menatap tak pasti ke segala arah. Tampak jelas ia sedang memikirkan sesuatu.

“Oh ya, Jill, apa kau mau menceritakan sesuatu tentang kedua orang tuamu?”

“Orang tuaku? Tidak. Kurasa tidak. Kalau katamu, mereka memang ditakdirkan untuk bersama, maka cerita apapun tentang perjuangan mereka menjadi tidak penting.”

Marilyn tidak memaksa Jill untuk bercerita lebih lanjut mengingat hari yang telah larut. Anak-anak butuh istirahat. Mereka masih terlalu muda untuk terjaga karena memikirkan sesuatu. Berpikir adalah pekerjaan orang dewasa.

“Baiklah, selamat malam anak-anak.”

“Semalat malam, Mother.”

“Selamat malam, Marilyn.”

*

Sebenarnya, Jill mewarisi kemampuan membaca pikiran dari ibunya, Chloe. Tidak ada yang tahu dari mana kemampuan itu didapatkan Chloe. Ia baru menyadarinya sejak berusia enam belas. Kemudian, kemampuan itulah yang digunakan oleh Chloe untuk memberanikan diri mendekati ayah Jill, Hudson.

Pada suatu percakapan, Hudson malu-malu ingin mengajak Chloe mengunjungi pasar malam yang ada di alun-alun. Mereka sudah berhadapan dan saling menatap ketika akhirnya Hudson tidak berani mengatakan apa yang seharusnya ia katakan.

“A-aku dengar kau baru pulang dari liburan ke luar negeri. Bagaimana liburanmu? Menyenangkan?”

Hudson tampak gugup sementara Chloe tertawa pelan. Ia dapat membaca yang seharusnya dikatakan Hudson. “Aku ingin mengajakmu ke pasar malam di alun-alun. Kau mau, kan?”

Reaksi Chloe melegakan Hudson. “Aku dengar sedang ada pasar malam di alun-alun. Apa kau mau mengajakku ke sana?”

Sejak itu, Chloe percaya bahwa Hudson adalah takdirnya.

*

Bersambung ke cerita berikutnya.

6. PEngantar Pesan

Advertisements

One thought on “[#Cerpen24Jam – 5] Menulis Takdir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s