[#Cerpen24Jam – 6] Pengantar Pesan

Cerita sebelumnya.

1. Sepasang Sepatu Tua

2. Tombol Pengingat

3. Lima Menit Kemudian

4. Tiga Senjata

5. Menulis Takdir

*

6. Pengantar Pesan

Jack sudah pernah mengingatkan bahwa Abraham mungkin saja datang suatu hari nanti untuk merebut sepasang (atau dua pasang) sepatu yang diwariskan kepadanya dan Marilyn. Sepatu itu menjadi milik Gilbert sekarang karena Jack lebih memilih mati. Tidak ada yang mengetahui bagaimana cara Abraham merebutnya, tetapi sudah pasti cara-cara itu pastilah cara-cara licik.

Marilyn tidak bisa tenang karena beberapa hari belakangan ini, sepatu milik Gilbert menunjukkan gejala-gejala aneh. Setiap saat, sepatu itu selalu menempatkan diri di dekat kaki Gilbert. Seolah-olah ingin dipakai dan sebagainya.

Gilbert juga bisa merasakan ada yang berbeda dengan sepatunya. Ia kerap bercakap-cakap dengan sepatunya.

“Kau kenapa? Apa ada sesuatu yang ingin kausampaikan?”

Sepatu itu lalu mendekatkan dirinya ke kaki Gilbert seperti kucing yang menggosok-gosokkan badannya ke tubuh tuannya untuk mencari perhatian.

“Apa yang kau tahu tentang ini, Mother?” Tanya Gilbert pada Marilyn di suatu pagi yang sejuk. Embun-embun masih terasa basah di kaki mereka yang telanjang. Cabai, tomat dan terong satu persatu berpindah dari ranting-ranting rapuh ke keranjang Marilyn.

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi yang jelas, itu pertanda kurang baik.”

*

“Hancurkan tumpukan bata itu, Gilbert. Tetapi hati-hati, kau tetap harus mengendalikan diri. Pukulan yang terlalu keras akan membuatnya hancur berkeping-keping. Sedangkan latihan kali ini adalah untuk membelah tumpukan bata itu menjadi dua bagian. Kau mengerti?”

Gilbert mengangguk dengan penuh semangat. “Aku mengerti.”

“Ayo, Gilbert. Kau pasti bisa!”

“Mundur sedikit, Jill. Kita tidak akan mau terluka karena kekuatan yang akan dikeluarkan Gilbert.”

“Ya, Marilyn. Aku belum mau mati. Haha.”

“Hei!”

*

“Kau lihat, Sayang. Rumah-rumah itu seperti istana. Kelak, ketika kita sudah menguasai sepatu milik Gilbert dan Marilyn, kita akan memiliki rumah yang lebih besar dari milik mereka.” Abraham mengungkapkan kekaguman, iri dengki sekaligus kelicikan yang ia rencanakan.

“Ah, jangan terlalu banyak bicara. Sepatu itu belum ada di tangan kita. Kita bahkan belum tiba di rumah mereka. Berapa lama lagi perjalanan ini? Aku lelah menekuk lutut di kereta sempit dan bau seperti ini.”

“Ehem..”

“Ssstt… pelankan suaramu! Kau tidak ingin membuat Ken tersinggung, kan? Aku tidak akan mengeluarkan uang lebih hanya karena ia menurunkan kita di tengah jalan lalu mau tidak mau kita harus menyewa kereta yang lain. Kau harus bisa mengendalikan diri jika berada dalam keterbatasan, Martha.”

Di sepanjang perjalanan, mereka mengomentari banyak hal. Di desa yang jaraknya delapan jam perjalanan dengan kereta, mereka melihat pemandangan yang berbeda. Di desa mereka, tidak ada bangunan yang lebih tinggi dari sebuah gereja tua di kaki bukit. Gereja itu dibuat secara sukarela oleh warga setempat. Ketika gereja itu dibangun, meskipun harta yang dimiliki Abraham masih menggunung, tetapi ia tidak memberi sumbangan selain sumbangan tenaga. Tindakan itu benar-benar memalukan dan sejak itu mereka menjadi bahan perbincangan di kalangan warga desa.

Keadaan sebaliknya mereka lihat di desa ini, kondisi desa terlihat sungguh berbeda. Sudah ada beberapa gedung tinggi yang disewa menjadi kantor oleh pengusaha swasta. Sedangkan alun-alunnya, oh, luar biasa indah. Dengan air mancur besar di tengah-tengahnya, kursi-kursi kayu, taman rumput yang menghijau, pepohonan rindang. Abraham dan Martha hanya bisa membelalakkan mata.

“Sepertinya kita menemukan tempat baru untuk ditinggali. Selain merebut dua pasang sepatu, mungkin kita bisa merebut rumah mereka juga.”

Abraham dan Martha berbagi senyum licik.

Kereta berhenti di gerbang rumah Marilyn tepat pukul tiga sore. Mereka turun dari kereta yang sempit dengan susah payah.

“Kau boleh pergi, Ken.”

Abraham menyerahkan sekantong koin emas sebagai bayaran atas jasa Ken yang telah mengantar mereka hingga ke tujuan. Ken menerima bayarannya tanpa banyak bicara. Ia hanya tersenyum tipis selama satu detik lalu mengendarai kembali keretanya dan pergi dari tempat itu.

*

Mother, apa kau serius meminta aku memisahkan butiran gandum dari butiran beras merah ini? Kau sengaja mencampurnya tadi. Aku melihatnya.”

“Aku serius dan memang benar aku telah mencampurnya dengan sengaja tadi. Kau harus belajar sabar, Gilbert.” Marilyn melihat bibir Gilbert membentu garis lengkung ke bawah. Lalu ia melirik Jill yang duduk tersenyum-senyum di samping Gilbert.

Aku hanya sedang mengerjai Gilbert. Biar saja ia menganggap ini sebagai latihan. Haha.”

Jill tertawa kecil membaca pikiran Marilyn.

“Apa yang kau tertawakan? Mother, apa yang kalian rahasiakan?”

Jill menggeleng dengan cepat. Tetapi senyumnya mengatakan dengan jelas bahwa ia menyembunyikan sesuatu. “Marilyn, aku mau membantumu menyiapkan hidangan minum teh. Boleh, kan?”

Tanpa menunggu jawaban Marilyn, Jill segera berdiri dan berlari mengikuti Marilyn yang sudah lebih dulu berjalan demi menghindari pertanyaan Gilbert. Mereka berjalan sambil mengikik. Di meja ruang makan, Gilbert dengan tekun memisahkan butir-butir beras merah dari butir-butir gandum.

Tok tok tok.

Pintu ruang tamu diketuk dengan keras. Marilyn dan Jill sama-sama membelakangi jendela dapur yang pemandangannya langsung ke arah gerbang sehingga mereka tidak tahu siapa yang baru saja datang.

Mereka meninggalkan kegiatan mereka di dapur dan bergegas membuka pintu. Gilbert juga menghentikan kegiatannya lalu mengikuti Marilyn dan Jill.

“Abraham?” Seru Marilyn ketika membuka pintu. Ia tidak menyangka Abraham berkunjung ke rumahnya.

“Halo, Marilyn. Apa kabar?” Abraham tersenyum manis demi mendapat simpati.

“Halo, Marilyn.” Sapa martha.

“Halo, Martha. Apa yang kalian lakukan di sini? Sudah lama sekali aku tidak melihat kalian.” Marilyn berusaha bersikap biasa saja meskipun pikirannya terus awas. “Mari masuk. Tepat sekali dengan saat minum teh. Kalian pasti lelah setelah perjalanan panjang.”

“Ya, kami lelah duduk berjam-jam dalam kereta yang sempit dan bau. Kami perlu hidangan yang dapat meredakan sakit di sekujur badan ini.”

Abraham menyikut lengan Martha yang menurutnya berbicara berlebihan. Abraham takut Martha mengacaukan segala rencananya. Secepat kilat, Martha mengoreksi kata-katanya.

“Ma-maksud kami, tentu saja kami sangat lelah. Delapan jam dalam kereta, sungguh melelahkan. Iya. Hehe.”

“Ya ya, aku mengerti. Masuklah. Silakan duduk sebentar sementara aku menyiapkan hidangan kita.”

“Terima kasih, Marilyn.” Abraham bersikap sopan.

“Jaga kata-katamu.” Abraham berpaling cepat ke arah Martha. “Aku tidak mau kau menggagalkan rencana kita.”

“Siapa mereka, Marilyn?” Jill bertanya-tanya. Alih-alih menjawab pertanyaan Jill, Marilyn malah berpaling ke arah Gilbert.

“Gilbert, kau mungkin tidak mengenal mereka. Karena terakhir kali aku bertemu dengannya adalah ketika pembacaan surat wasiat kakekmu. Abraham adalah pamanmu. Ia adik kandung ayahmu.” Gilbert membelalakkan mata karena bersemangat. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan keluarga yang lain selain ayah dan ibunya. Selama ini mereka hanya tinggal bertiga. Orangtuanya juga tidak pernah menyinggung Abraham atau yang lainnya.

“Bukannya aku ingin mengatakan sesuatu yang buruk tentang paman atau keluarga ayahmu. Tapi kau harus tahu ini. Abraham adalah orang yang licik. Ayahmu berkali-kali ditipu olehnya sewaktu masih muda dulu.”

Gilbert dan Jill mendengarkan dengan saksama.

“Begini, aku tidak pernah memercayainya. Aku juga tidak memercayai kedatangan mereka yang tiba-tiba ditambah kesopanan tingkat tinggi. Mereka pasti menginginkan sesuatu dari kita. Dulu, ayahmu pernah memperingatkan aku mengenai Abraham. Aku rasa, sebentar lagi ketakutan ayahmu menjadi kenyataan.”

“Jill, aku perlu bantuanmu. Kau akan ikut mengobrol dengan kami semua. Abraham tidak tahu kemampuanmu jadi kau harus mengajaknya berbicara. Setelah kalian bertatap mata, baca pikirannya. Aku perlu tahu apa maksud mereka datang kemari.”

“Siap!”

“Aku? Aku? Apa yang harus aku lakukan?”

“Tidak ada. Gilbert. Mereka tidak pernah melihatmu selama ini, jadi aku akan memperkenalkan kau seperti biasa. Tapi hati-hati dengan sepatumu. Kau tidak boleh melakukan sesuatu yang bisa memberi petunjuk bahwa sepatu yang sedang kau pakai adalah sepatu yang mereka incar.”

“Mereka menginginkan sepatuku?” Gilbert memekik marah tetapi suaranya tetap terdengar pelan.

“Aku tidak suka mengatakannya, tetapi sepertinya iya.”

Marilyn kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan yang berisi minuman sedangkan Gilbert membawa nampan berisi kue kering. Jill mengikuti dari belakang lalu duduk bersama-sama dengan mereka.

Mereka mengawali pembicaraan mengenai Gilbert yang kini sudah tumbuh besar dan Jill yang tinggal di sini bersama mereka. Marilyn tidak suka basa-basi jadi ia memulai topik yang menjurus.

“Lalu, apa yang membawa kalian jauh-jauh datang ke mari?”

Abraham menyesap tehnya satu kali lalu mulai berbicara.

“Kami hendak menyampaikan pesan dari pengacara keluarga Aethelmaer.”

“Pesan? Bukankah urusan kita dengan pengacara itu berakhir sejak pembacaan surat wasiat ayah waktu itu?”

“Seharusnya begitu, tetapi kenyataannya tidak begitu. Beberapa waktu yang lalu ia menghubungiku. Ia bilang bahwa ada sebuah surat lagi yang belum ia baca. Katanya ayah berpesan surat itu baru akan dibaca dua belas tahun setelah kematiannya.”

Abraham memandang Marilyn, Gilbert dan Jill bergantian. Jill berusaha membuat sikap tubuh yang membuat perhatian Abraham padanya menjadi lebih lama dari seharusnya. Setelah berhasil membaca apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Abraham, Jill menarik-tarik gaun Marilyn.

“Marilyn, bukankah masih ada satu nampan lagi yang seharusnya kau ambil di dapur?”

Jill mengatakan kalimat itu dengan tatapan penuh isyarat. Marilyn langsung memahami maksud Jill.

“Kau benar, Jill. Mari kita ambil nampan yang masih ada di dapur. Gilbert, ajak paman dan bibimu ngobrol. Mungkin kau ingin menceritakan sesuatu tentang sekolahmu.”

“Ya, Mother.”

Abraham tidak memerhatikan Marilyn dan Jill yang berjalan menjauhi mereka. Tatapan Abraham justru lekat berada pada sepatu yang kini dipakai Gilbert. Gilbert mulai khawatir, iamelihat itu sebagai tanda bahaya.

*

Bersambung ke cerita berikutnya.

7. Potret Ibunda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s