[#Cerpen24Jam – 7] Potret Ibunda

Cerita sebelumnya.

1. Sepasang Sepatu Tua

2. Tombol Pengingat

3. Lima Menit Kemudian

4. Tiga Senjata

5. Menulis Takdir

6. Pengantar Pesan

*

7. Potret Ibunda

Ada satu hal yang tidak akan pernah dilupakan Jill mengenai ibunya, Chloe. Yaitu kue cokelat bikinan ibunya yang membuatnya ingin memakan semua kue hingga tak bersisa, sekalipun untuk ayahnya. Chloe tidak keberatan jika Jill memang hendak memakan semua kue, tetapi suaminya, Ed, tidak akan membiarkan Jill makan terlalu banyak.

“Jill, jangan pertaruhkan kesehatanmu hanya karena kau tidak bisa mengekang nafsu.”

Begitu kata Ed setiap kali Jill hendak mengambil kue cokelat ketiga. Jill menurut.

*

Gilbert membenarkan posisi duduknya. Ia meluruskan kakinya hingga tersembunyi di bawah meja. Tatapan Abraham ke arah sepatunya sungguh mengganggu. Kalau ia mau –kalau Marilyn membolehkan, mungkin sekarang ia sudah menendang Abraham tepat di wajah. Tatapannya menjijikkan. Seperti laki-laki hidung belang yang tidak sabar menelanjangi seorang gadis seksi yang ia temui di jalanan. Sepatu yang dikenakan Gilbert tidak seksi seperti seorang gadis, tetapi pesonanya tentu serupa. Siapa yang tidak mau memiliki sepatu ajaib yang bisa membuat si pemakai menjadi sekuat superhero?

Sepasang sepatu yang dipakai Gilbert adalah warisan yang diberikan oleh ayahnya, Jack. Sebagai anak laki-laki pertama dalam keluarga, ayahnya mendapat keuntungan untuk memilikinya. Sebenarnya, Abraham, adik ayahnya, juga bisa memakai sepatu ajaib tersebut karena ia juga adalah anak laki-laki dalam keluarga. Tetapi sial bagi Abraham. Ia lahir sebagai anak laki-laki kedua.

“Gilbert, rumahmu begini indah. Tentu kau memiliki banyak baju bagus dan banyak sepatu yang tak kalah bagus, mengapa kau malah memakai sepatu tua yang tampilannya sudah begitu buruk?” Abraham mencoba merayu Gilbert agar mau bicara. Ia perlu tahu bahwa sepatu yang sedang dipakai Gilbert adalah sepatu ajaib yang mereka inginkan.

“Aku suka sepatu ini.” Gilbert terbawa suasana. Ia suka dipuji dan itu membuatnya sedikit melayang. “Ini sepatu kesayangan ayah. Setelah kematiannya, sepatu ini diwariskan kepadaku. Agak kebesaran tapi aku suka.” Gilbert berbicara cepat dan penuh semangat.

Abraham tersenyum. Ada kilatan jahat lewat di matanya. Kini ia yakin bahwa sepatu itulah yang ia incar. Martha menyikut lengan Abraham untuk memberitahukan hal yang sama. Mereka tersenyum puas.

Gilbert melihat ekspresi wajah Abraham dan Martha yang sangat kentara. Ia menyadari telah membuat kesalahan lalu cepat-cepat menutup mulutnya.

“Ups..”

*

Marilyn kembali dari dapur bersama Jill yang membawa sebuah nampan berisi kue cokelat di tangannya. “Aku tidak tahu kau membuat kue cokelat Marilyn.” Kata Jill takjub dan ekspresi tak sabar untuk memakannya.

“Tentu saja, kalian kan sedang bermain di luar ketika aku membuatnya.”

“Aku mau mencicipinya.”

“Tentu saja, Jill.”

Jill meletakkan nampan tersebut di atas meja. Marilyn menawari Abraham dan Martha untuk mencicipi kue cokelat yang dibawa Jill. Jill juga mengambil satu dan menyuapkan sepotong ke dalam mulutnya.

“Ibu…” bisik Jill. Matanya berkaca-kaca ketika merasakan kue cokelat buatan Marilyn meleleh di lidahnya. Senyumnya mengembang senang. Perasaan hangat merayap ke dalam dadanya. Jill mengalihkan pandangannya ke arah Marilyn dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan terima kasih.

“Kau suka Jill?”

Jill mengangguk cepat.

“Kalian suka kue cokelat buatanku? Kau suka Gilbert?”

Mereka semua mengangguk dengan senang. Tetapi senyum mereka mensyaratkan hal yang berbeda-beda.

“Mengenai pesan yang kausebut tadi, apa yang harus aku lakukan kemudian?”

Abraham tersentak. Kebohongannya bersambung. “Pengacara keluarga akan segera datang ke tempat ini. Aku sudah memberitahu ia alamatmu.”

“Mengapa harus di rumah ini?”

“Karena ini adalah rumah anak laki-laki tertua dalam keluarga.”

“Tidak ada pengacara, Marilyn. Tidak ada pesan, tidak ada surat wasiat. Yang mereka inginkan hanyalah sepasang sepatu yang dipakai Gilbert saat ini. Kalau beruntung, mereka akan membawa serta sepatumu dan merebut rumah ini.”

Marilyn mengingat-ingat lagi pemberitahuan Jill ketika mereka masih di dapur. Wajahnya mengeras terisi emosi.

“Aku tidak memerlukan apa-apa  lagi dari keluarga Jack. Jack sudah meninggal dan aku tidak keberatan tidak mendapatkan apa-apa. Aku sudah bahagia hidup bersama anakku. Jika sudah selesai, kalian boleh meninggalkan rumahku.”

“Tapi, surat wasiat itu bukan untuk membagikan harta. Sebaliknya, surat itu hendak meminta sesuatu yang dulu pernah diwariskan ayah kepada kalian.”

“Kau tidak cukup pandai berbohong Abraham.” Marilyn membuat kesimpulan. “Dari mana kau tahu isi surat itu padahal suratnya sendiri belum dibacakan.”

Abraham tercekat. Ia memandang Marilyn dengan berani. Baru saja Abraham hendak membela diri, Marilyn melanjutkan bicaranya.

“Atau surat itu sejatinya memang tidak ada?”

*

Gara-gara kue cokelat bikinan Marilyn yang baru dinikmatinya, Jill melihat semakin banyak kemiripan yang ada pada Marilyn dan ibunya. Baru kali ini Jill melihat Marilyn begini emosi menghadapi kebohongan. Marilyn berdiri sambil berkacak pinggang mengusir Abraham dan Martha. Pernah suatu kali, Chloe juga mengusir berandalan yang datang ke rumah untuk meminta sumbangan dalam rangka pembangunan gereja. Berandalan itu hanyalah anak-anak muda yang tidak memiliki pekerjaan lalu mendatangi rumah penduduk untuk meminta uang dengan cara berbohong mengenai sumbangan dan sebagainya.

Marilyn seperti potret Chloe yang ada di ingatan Jill. Setiap kali marah, pipinya berubah merah. Chloe pun sama. Setiap kali berada dalam ketegangan seperti ini, tangannya terlipat di dadanya dan kakinya mengetuk-ketuk lantai. Ia sedang menunggu lawannya bereaksi.

*

Martha yang duduk di sebelah Abraham, tidak bisa berkata apa-apa untuk menolong suaminya. Ia segera bangkit dan Abraham mengikuti tindakannya.

“Ayo pergi dari sini. Kita bisa memikirkan cara lain untuk mendapatkan sepatu itu.” Martha berbisik pelan di telinga suaminya. “Dan aku rasa, kita harus berhati-hati dengan anak itu. Tatapannya membuatku khawatir.” Martha menunjuk Jill dengan dagunya.

“Aku rasa kau sudah tahu tujuan kami datang ke sini, Marilyn.” Abraham memandang Marilyn sebentar lalu melirik Jill. “Jika kau tidak bersedia memberi apa yang kami mau, apa boleh buat….”

“Jangan coba-coba mengganggu kami, Abraham!” Marilyn menyergah cepat.

*

Jill tidak sadar mulutnya membuka ketika melihat Marilyn menunjukkan kemarahannya kepada Abraham dan Martha yang langsung mengemasi barang-barangnya lalu pergi dari sana.

“Marilyn, kau keren!” Mata Jill berkaca-kaca karena kagum.

“Hhh.. Jill, apa maksudmu dengan ‘keren’? Barusan aku marah-marah.”

Marilyn menenangkan diri. Ia memeluk Gilbert dengan satu tangan dan Jill dengan tangan yang lain. Untuk sementara, mereka bisa kembali tenang.

“Kau keren, Marilyn. Persis seperti ibuku. Aku pernah melihat dia marah dan dia persis sepertimu. Sangat mirip.”

“Haha.. Jill, jangan mengada-ada. Aku pernah bertemu dengan ibumu dulu. Ia jauh lebih cantik dan jauh lebih sabar dari aku. Sepertinya, dalam kondisi sesulit apapun, dia tidak akan pernah marah.”

“Kau salah, Marilyn. Kau bertemu ibuku satu kali dan aku bertemu dengannya setiap hari. Kau tidak akan menyangka dia marah-marah kepada anak-anak berandalan yang meminta uang dengan kedok sumbangan.”

“Benarkah?” Giliran Marilyn yang menatap Jill dengan takjub.

Mother, tadi aku membuat kesalahan.” Gilbert menyela pembicaraan Marilyn dan Jill dengan suara bergetar dan tak percaya.

“Apa yang mereka lakukan, Sayang? Kau baik-baik saja, kan? Mereka tidak akan mengganggumu lagi. Aku janji!”

“Bukan, Mother. Mereka tidak menyakitiku. Aku yang menyakiti diriku sendiri. Bahkan mungkin, aku yang menyebabkan kita berada dalam bahaya.”

“Ceritakan maksudmu, Gilbert.” Marilyn khawatir.

Gilbert menceritakan kesalahan yang ia lakukan ketika Abraham bertanya mengenai sepatu yang sedang ia pakai. Kata-kata Gilbert yang membuat Abraham dan Martha menyeringai puas, merupakan kesalahan fatal yang dapat menjerumuskan mereka dalam bahaya.

“Tenang, Sayang. Mereka tidak akan berani macam-macam dengan keluarga kita.” Marilyn memeluk Gilbert lebih erat dan mengusap-usap rambutnya untuk menenangkan. “Mulai hari ini kita harus lebih berhati-hati. Ingat, sebagai keluarga kita harus saling menjaga.”

*

Abraham dan Martha menyusuri jalanan desa untuk mencari losmen murah tempat mereka menginap untuk satu malam.

“Aku tidak akan pulang sebelum mendapatkan sepatu itu.” Abraham menggeram marah sambil menendang apa saja yang ia temui di jalanan.

“Tentu, Sayang. Malam ini juga kita harus bergerak. Kalau mereka tidak memberikan apa yang kita mau, maka satu-satunya jalan adalah kita yang harus datang mengambilnya.”

*

Bersambung ke cerita berikutnya.

8. Di Angka Dua Belas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s