[#Cerpen24Jam – 8] Di Angka Dua Belas

Cerita sebelumnya.

1. Sepasang Sepatu Tua

2. Tombol Pengingat

3. Lima Menit Kemudian

4. Tiga Senjata

5. Menulis Takdir

6. Pengantar Pesan

7. Potret Ibunda

*

8. Di Angka Dua Belas

Bulan sedang purnama. Gilbert dan Jill membiarkan jendela kamar mereka terbuka untuk menikmati cahayanya yang samar.

“Benarkah kau akan memakai sepatumu ketika tidur? Kau berlebihan, Teman. Haha. Marilyn bisa terbahak-bahak mengetahui itu.”

“Apa menurutmu aku harus melepasnya? Aku khawatir kalau-kalau sesuatu yang buruk terjadi malam ini.”

“Apa yang bisa kauhindari di dunia ini? Bahkan kematian tetap datang seberapa keras pun kau berlari darinya.”

“Ah, Jill. Kau sungguh membosankan bila berbicara dengan nada seperti itu.” Gilbert melemparkan bantalnya ke arah Jill. Bantal itu sukses mengenai kepala temannya yang tidak sempat menghindar. Bukannya membalas, Jill malah diam saja. Ia tekun memperhatikan Gilbert bangun dari tempat tidur, melepaskan sepatu dan meletakkannya di bawah jendela kamar yang terbuka.

*

Abraham memperhatikan penunjuk waktu berbentuk bulat yang dikalungkan di lehernya. Ia dan Martha sudah berada di depan rumah Gilbert menunggu waktu yang tepat untuk mulai beraksi.

“Kau siap, Sayang?” Abraham menoleh ke kiri. Istrinya terlihat sedang membuat simpul dari tambang yang mereka beli di toko sembarang di dekat pasar. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari tambang tersebut, Martha mengangguk meyakinkan suaminya.

“Kita akan bergerak sebentar lagi. Ketika jarum jam berada tepat di angka dua belas. Lampu-lampu di dalam rumah telah dimatikan. Aku yakin saat ini mereka sudah tertidur lelap.”

“Ya, semoga saja.”

*

Di kamarnya, Marilyn belum bisa memejamkan mata meskipun badannya sudah rebah di atas tempat tidur. Kepalanya bekerja lebih keras sejak kedatangan Abraham dan Martha yang begitu tiba-tiba. Apa yang mereka inginkan? Sepatu Gilbert? Rumah ini? Bukankah ayah Jack sudah memberi mereka harta yang lebih dari cukup?

“Jack, apa yang harus aku lakukan?” Marilyn membalik badan hingga menghadap ke kanan dan berbicara seolah-olah suaminya ada di sana. “Apa yang akan kau lakukan kalau kau jadi aku?”

Marilyn menggumam pelan, sama pelannya dengan gemerisik dedaunan. Lama-kelamaan, suaranya menghilang terbawa gelapnya mimpi.

*

“Apa rencana kita?”

“Tidak ada rencana. Masuk, ambil sepatu itu lalu lari.”

“Siap.”

Mereka sudah berdiri di beranda rumah Gilbert, menimbang-nimbang cara untuk masuk ke dalam. Pintu depan terkunci dari dalam. Tentu saja. Mereka memutar ke sisi kanan rumah untuk mencoba membuka jendela dapur.

“Jendela ini tidak terkunci tetapi sulit di buka dari luar karena tidak ada pegangan.”

“Kita bisa coba membukanya dengan ini.”

Martha mengeluarkan sebatang besi dari kantong celananya. Kali ini ia sengaja melupakan gaunnya dan berpakaian seperti laki-laki untuk memudahkannya bergerak. Besi itu diberikan kepada Abraham yang menerimanya dengan senyum senang. Tanpa membuang-buang waktu, Abraham mencoba menyelipkan ujung besi tersebut ke bawah jendela lalu mengungkitnya. Usaha pertamanya gagal, tetapi mereka tidak menyerah. Akhirnya ia berhasil pada usaha yang ketiga.

“Yess!” Mereka memekik senang dengan suara ditahan.

Jendela itu tidak terlalu tinggi. Hanya setinggi bahu orang dewasa. Mereka masuk dengan susah payah. Abraham masuk terlebih dahulu, lalu ia membantu Martha dari dalam. Mereka bergerak sehalus mungkin agar tidak timbul suara-suara yang bisa membuat pemilik rumah terbangun dari tidurnya.

“Tinggalkan tambang itu di luar. Kita tidak membutuhkannya.”

Suasana di dalam rumah tidak gelap pekat. Cahaya bulan dari jendela dapur yang tidak dipasangi tirai memberi penerangan yang cukup. Abraham berjalan sambil meraba-raba udara. Mereka berjalan ke ruang keluarga lalu menaiki tangga dengan mudah. Di depan mereka kini, terdapat lorong panjang yang berisi dua kamar di masing-masing sisinya.

“Yang mana kamar Gilbert?”

“Aku tidak tahu. Kita harus memeriksanya satu persatu.”

Mereka berjalan perlahan menuju ke kamar pertama di sebelah kiri. Lantai kayu yang mereka pijak beradu dengan alas sepatu besi yang mereka cukup membuat was-was.

Krieeett..

Deg! Mereka berdiri mematung, melihat satu sama lain lalu melihat sekeliling. Jantung mereka mencelos, khawatir kalau-kalau mereka ketahuan. Suara pintu kamar yang baru saja mereka buka terdengar ringkih.

*

Marilyn menggeliat dalam tidurnya.

“Jack, kaukah itu?” Ia mengigau lalu kembali tenggelam dalam mimpinya yang belum selesai.

*

“Ini kamar Gilbert. Pekerjaan kita semakin mudah, Sayang.”

Martha tersenyum melihat suaminya berseru senang. “Kita harus segera mencari sepatu itu!”

“Tidak perlu.” Abraham menunjuk ke arah jendela yang terbuka. Di bawah jendela itu, sepasang sepatu yang mereka incar teronggok manis. Senyum mereka semakin mengembang.

Tanpa membuka daun pintu lebih lebar, Abraham berjalan miring agar tidak menimbulkan suara-suara. Martha melakukan hal yang sama. Mereka menyeberangi kamar sambil menatap lekat-lekat ke arah Gilbert dan Jill yang tertidur lelap. Jangan sampai mereka terbangun.

*

Jill menggeliat dalam tidurnya. Cahaya yang berganti-ganti dari gelap ke terang lalu sebaliknya menggelitik matanya untuk bereaksi. Ia mengerjap-kerjap dalam kondisi setengah sadar.

“Gilbert… Kaukah itu?” Racaunya. Dengan mata yang belum sepenuhnya terfokus, ia melihat di arah jendela. Ada seorang laki-laki yang menghalangi cahaya bulan.

“Abraham?”

*

Deg!

Sekali lagi Abraham berdiri mematung begitu pula Martha. Saat itu mereka sedang membelakangi jendela.

“Abraham?” Jill menyebut nama Abraham.

“Bahaya! Cepat tutup mulut anak itu.” Perintahnya kepada Martha. Dengan sigap, Martha menghampiri Jill yang berusaha bangun dan melarikan diri.

“Marily……”

Belum sempat ia menyebut nama Marilyn dengan lengkap, Martha sudah membekap mulut Jill dengan tangan. Jill meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Yang keluar dari mulutnya hanyalah gumaman tanpa makna.

Untungnya, Gilbert terbangun karena teriakan Jill. Ia membuka matanya dan langsung melihat apa yang sedang terjadi.

Uncle? Apa yang kau lakukan di sini? Martha? Jill? Lepaskan Jill!”

Gilbert panik. Ia melihat pamannya sedang sibuk memakai sepatu ajaib miliknya sementara Martha masih membekap mulut Jill dengan tangannya. Apa yang harus ia lakukan? Merebut sepatunya atau menolong Jill?

“Lepaskan sepatuku! Itu milikku!!”

Akhirnya Gilbert berlari menerjang Abraham. Abraham kehilangan keseimbangan lalu terjatuh. Punggungnya menimpa tumpukan buku-buku yang belum sempat dibereskan Gilbert tadi sore sedangkan kepalanya menghantam rak buku yang setengah kosong. Rak buku tersebut oleng lalu jatuh menimpa Abraham.

Sebelah sepatu Gilbert sudah terpasang di kaki Abraham, sehingga ia dengan cepat mengambil sebelah sepatu lagi yang terlempar ke samping dipan. Tidak lupa juga, ia mengambil sepatu bersol besi milik Abraham yang tergeletak di bawah jendela.

Gilbert melempar sepatu besi itu ke arah Martha ketika Marilyn masuk.

“Apa yang terjadi?” seru Marilyn khawatir.

Sepatu bersol besi yang dilemparkan Gilbert mengenai lengan Martha yang membuatnya memekik kesakitan. Ia terpaksa melepaskan tangannya dari Jill lalu berlari ke arah suaminya yang sedang bersiap-siap kabur melalui jendela.

“Abraham? Martha? Apa yang kalian lakukan?”

Butuh sekian detik bagi Marilyn untuk memahami apa yang terjadi. Lalu ia menghambur ke arah Gilbert dan Jill untuk menenangkan mereka. Bersamaan dengan itu, Abraham melompat dari jendela disusul oleh Martha.

“Sepatuku, Mother. Sebelah sepatuku masih dipakai uncle.” Gilbert melepaskan diri dari pelukan Marilyn lalu berlari keluar kamar, menuruni tangga, membuka pintu depan dan menuju ke sisi kiri rumah tepat di bawah jendela kamarnya.

Di kejauhan, Abraham terlihat berlari terseok-seok menjauhi rumah mereka dengan bertelanjang kaki. Di belakangnya, Martha pun lari terbirit-birit.

“Mereka meninggalkan sepatuku di sini. Pasti. Aku lihat uncle bertelanjang kaki.” Seru Gilbert panik ketika Marilyn dan Jill tiba. Ia mencari-cari sepatunya di antara tanaman mawar yang rendah.

“Tenang, Sayang. Kita akan mencari sepatumu segera. Tenang.”

Marilyn menarik Gilbert lalu mereka bertiga berpelukan.

*

“Sial!!”

Abraham berteriak marah karena kegagalan yang baru saja ia alami. Mereka tiba di perbatasan desa dalam kondisi kelelahan dan terseok-seok. Sekujur tubuh mereka sakit karena mereka jatuh di atas tanaman mawar yang tumbuh di bawah jendela kamar Gilbert.

“Mungkin kita harus mencari cara lain untuk merebut sepatu itu.”

“Tentu saja. Aku tidak akan menyerah sampai di sini. Lihat saja. Aku pasti berhasil.”

“Kita, Sayang. Kita pasti berhasil.”

Abraham mengabaikan koreksi Martha karena dalam hati ia menganggap kegagalan ini disebabkan oleh kecerobohan istrinya.

*

Bersambung ke cerita berikutnya.

9. Permintaan Terakhir

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s