[#Cerpen24Jam – 9] Permintaan Terakhir

Cerita sebelumnya.

1. Sepasang Sepatu Tua

2. Tombol Pengingat

3. Lima Menit Kemudian

4. Tiga Senjata

5. MEnulis Takdir

6. Pengantar Pesan

7. Potret Ibunda

8. Di Angka Dua Belas

*

9. Permintaan Terakhir

Sore itu, setelah acara minum teh dan menikmati kue kering selesai, Gilbert dan Jill meminta ijin untuk bermain di luar. Marilyn memberi ijin bahkan memberi gagasan mengapa mereka tidak bermain-main di pasar. Di waktu-waktu seperti ini, pasar sedang berganti dari pasar yang menjual bahan makanan menjadi pasar malam yang dilengkapi berbagai hiburan.

Dengan suka hati, Gilbert memakai sepatu kesayangannya sementara Jill memakai sweater wool yang dibuatkan Marilyn untuknya.

“Jangan pulang terlalu malam. Kalian harus sudah di rumah sebelum jam makan malam tiba.”

Okay, Mother.”

”Baik, Marilyn.”

*

Tidak lama setelah anak-anak pergi bermain, Marilyn pun mempersiapkan diri. Ia membungkus pai apel yang akan menjadi hantaran dan meletakkannya dalam keranjang rotan. Jika tidak dalam keadaan terdesak, Marilyn tidak mungkin merepotkan Bibi May yang sudah pensiun mengurus keluarga Aethelmaer. Bibi May tinggal tidak jauh dari rumah Marilyn. Hanya diperlukan lima belas menit berjalan kaki untuk sampai ke sana. Dari luar, rumah terlihat sepi. Hanya ada tanaman mawar di beranda yang menyambut Marilyn.

Marilyn mengetuk pintu tiga kali. Tidak perlu usaha kedua untuk membuat si empunya rumah mengetahui kedatangannya.

“Marilyn?” Bibi May berseru senang melihat Marilyn datang tanpa terduga. “Ah, aku sudah begini renta dan tidak bisa berjalan jauh. Sungguh tega kau datang ke sini hanya sesekali. Kau tahu aku butuh teman mengobrol, Marilyn.”

Bibi May berbicara tanpa henti sembari membukakan pintu, mempersilakan Marilyn masuk dan mengambil keranjang rotan yang ia tahu pasti berisi kue buatan Marilyn.

“Aha, kau masih suka membuat pai apel. Apakah ini sesuai resep yang aku ajarkan?”

“Tentu saja, Aunt May. Resep pai apel yang aku ajarkan padaku sangat lezat. Tak ada yang tidak menyukainya.”

Bibi May tersenyum mendengar pujian Marilyn. Matanya menyipit dan kerutan di wajahnya tampak semakin jelas.

Aunt May. Maafkan kedatanganku yang tiba-tiba. Tapi aku sangat membutuhkan bantuanmu.”

“Ah, Marilyn. Lama tak jumpa denganmu, ternyata kau masih tidak menyukai basa-basi. Baiklah, apa yang bisa aku bantu?”

*

“Menurutmu, apakah Abraham akan datang lagi suatu hari nanti?”

“Marilyn bilang tidak dan aku percaya. Kau takut, Teman?”

“Aku tidak takut pada Abraham. Yang aku takutkan adalah melihat kalian dalam bahaya.”

“Kita akan baik-baik saja. Kita adalah keluarga dan keluarga akan saling menjaga.”

“Tentu saja. Tentu saja.” Gilbert menggangguk-anggukkan kepalanya mencoba menciptakan ketenangan dalam dirinya. “Sebut saja aku takut pada Abraham, apa yang harus kita lakukan?”

Jill memandang Gilbert dalam-dalam dan Gilbert membiarkan Jill membaca apa yang ada di benaknya.

“Mengapa harus melarikan diri? Bukankah kau punya sepatu ajaib yang bisa melipatgandakan kekuatan dan aku bisa membaca pikiran. Ditambah lagi sepatu Marilyn yang bisa membawa kita ke mana saja.”

“Maksudku, kita punya sepatu mother. Mengapa tidak kita manfaatkan aset yang ada?”

“Sebenarnya aku tidak suka melarikan diri tetapi ide mengenai menjelajah tempat baru tidak begitu buruk. Tak ada salahnya kita sampaikan ide itu pada Marilyn.”

Gilbert dan Jill berdiri lalu membersihkan baju mereka dari debu dan dedaunan yang berjatuhan dari pepohonan yang ada di sekitarnya. Mereka berjalan pelan bersamaan dengan tenggelamnya matahari di cakrawala.

*

“Sebenarnya aku tidak setuju kau memberikan rumahmu kepada Abraham. Sejak dulu ia anak pemalas. Berapapun harta yang kauberikan, pasti akan habis sia-sia di tangannya.”

“Anggap saja ini permintaan terakhirku, Aunt May. Setelah ini, aku tidak akan merepotkanmu lagi. Aku akan mengajak anak-anak pergi jauh dari sini.”

“Apa mereka setuju? Apa menurutmu mereka sudah siap untuk bepergian dalam jarak yang kau sebutkan tadi?”

“Tenang, Aunt May. Mereka laki-laki yang kuat. Aku tahu mereka pasti siap menjalani petualangan baru.”

“Baiklah. Kau ibunya. Besok, aku akan minta seseorang untuk mengantarkan surat ini kepada Abraham. Semoga anak pemalas itu berhenti mengganggumu dan Gilbert.”

*

Makan malam telah siap di atas meja ketika Gilbert dan Jill tiba di rumah. Belum sempat mereka mengutarakan apa yang akan mereka katakan, Marilyn lebih dulu menyuruh mereka membersihkan diri.

“Ada yang ingin aku katakan pada kalian.” Marilyn membuka suara ketika semua orang telah duduk mengelilingi meja makan.

“Aku juga, Mother. Ada yang ingin aku katakan.”

“Apa kau juga ingin mengatakan sesuatu Jill?” Marilyn melihat gerak-gerik mencurigakan pada kedua anak itu.

“He eh, tidak. Aku setuju pada apa yang akan dikatakan Gilbert, Marilyn.” Jill menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebiasaannya bila sedang merasa kikuk.

“Baiklah. Katakan apa yang ingin kau katakan, Sayang.”

Sebelum bicara, Gilbert melirik ke arah Jill yang ternyata sudah memperhatikannya sejak tadi.

Aku takut dikira penakut karena ingin melarikan diri. Bagaimana ini? Selama ini Mother selalu mengajariku untuk menjadi laki-laki pemberani seperti ayahku.”

Jill membaca ketakutan Gilbert. Dengan tatapan mata yang entah di mengerti Gilbert atau tidak, Jill meyakinkan temannya untuk bicara. Marilyn menunggu dengan tenang, kedua sikunya bertumpu di atas meja dan jemarinya terjalin menjadi satu.

“A-aku takut kalau-kalau Uncle Abraham datang lagi ke mari dan menganggu ketenangan keluarga kita.” Gilbert menelan ludah. Ragu untuk melanjutkan bicaranya. Suasana menjadi hening selama beberapa waktu.

“Lalu?”

“A-aku mau kita pergi dari desa ini. Bagaimana menurutmu, Mother?

Marilyn terkejut. Matanya membesar dan mulutnya sedikit terbuka. Ia tidak menyangka bahwa Gilbert memiliki pemikiran yang sama dengannya.

“Anak-anak. Aku tidak tahu dari mana kalian mendapatkan ide tersebut, tetapi syukurnya aku juga berpikir mengenai pindah dari desa ini. Apa kalian benar-benar siap memulai sebuah perjalanan baru bagi keluarga kita?”

Gilbert mengembuskan napas lega. Begitu juga Jill yang ada di sebelahnya.

“Aku siap, Mother. Tentu saja.”

“Aku juga siap. Tapi, ke mana kita akan pergi?”

“Rahasia!” Jawab Marilyn cepat. “Kalian akan mengetahuinya setelah kalian makan malam dan membereskan barang-barang yang akan kalian bawa.”

“Hore!”

Gilbert dan Jill tampak bersemangat. Di benak mereka sudah terbayang sebuah perjalanan yang menyenangkan. Bukit, sungai dan mungkin lautan akan mereka lewati untuk sampai di tempat yang baru. Mereka lupa bahwa Marilyn mempunyai sepatu yang bisa membawa mereka ke tempat manapun dalam sekejap mata. Dan sekarang bukanlah saat yang tepat untuk melakukan perjalanan seperti yang mereka inginkan.

Keesokan paginya, Gilbert dan Jill sudah berada di ruang makan dengan segala perlengkapannya.

“Kumpulkan barang-barang kalian di sini.”

Gilbert dan Jill mematuhi Marilyn.

“Sekarang, mendekatlah ke mari. Kita harus saling berpegangan.”

“Marilyn, aku punya permintaan terakhir sebelum kita pergi.”

“Apa itu, Jill?”

“Karena kita akan memulai hidup baru, mulai sekarang bolehkah aku memanggilmu mother?”

Serta merta Marilyn memeluk Jill. Lalu Gilbert bergabung dengan mereka. Ia pun sama terkejutnya dengan Marilyn. “Tentu saja, Sayang. Kalian berdua adalah anak kandungku mulai sekarang.”

“Terima kasih, Marilyn, eh, Mother.”

Jill mengusap air mata yang tak mampu ia bendung. Sambil terisak, ia bertanya.

“Marilyn, kita akan melakukan perjalanan dengan kereta, kan? Kita akan melewati bukit, sungai atau bahkan lautan, kan? Aku tidak sabar.”

“Tidak, Anak-anak.” Marilyn tertawa geli membayangkan anak-anak yang berharap akan sebuah perjalanan yang menyenangkan. “Kita punya ini.” Kata Marilyn sambil mengangkat gaunnya sehingga kedua anak-anak tersebut dapat melihat sepatu yang ia pakai.

“Yaaahh…”

*

TAMAT

Advertisements

2 thoughts on “[#Cerpen24Jam – 9] Permintaan Terakhir

  1. justjustomat says:

    Mbak’e, ada sedikit typo di sini sepertinya:
    “Tentu saja, Aunt May. Resep pai apel yang aku ajarkan padaku sangat lezat. Tak ada yang tidak menyukainya.”
    Kata “aku” seharusnya “kau” bukannya??
    Hehe. Nice story! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s