[#Cerpen24Jam – 10] Kepulangan

Aku menggenggam tanganmu sekali lagi sebelum aku benar-benar beranjak dari sini. Hangat yang tadi hanya sampai di telapak tanganku, kini menjalar melalui lenganku lalu menyebar ke seluruh tubuhku. Kehangatan seperti ini ternyata mampu mencairkan butiran kristal yang selama ini aku simpan di pelupuk mata. Aku bergeming.

Jari kelingkingmu bergerak. Aku bisa merasakannya. Tidak lama kemudian, kelopak matamu juga memberi isyarat kesadaran. Aku menahan napas menunggu gerakan berikutnya. Mungkin kamu sedang memberi petunjuk agar aku tidak kemana-mana.

“Iya, aku tidak akan pulang sekarang. Kamu masih mau aku temani, kan? Aku paham.”

Tidak ada reaksi.

“Apa kamu mau mendengar cerita yang lain?”

Jari kelingkingmu bergerak lagi.

“Jasmin memang nakal. Dia cucu perempuan kita yang paling nakal sekaligus paling kamu sayang. Mengapa kamu begitu menyukai Jasmin? ‘Karena Jasmin mirip kamu’ katamu. Aku tidak mengerti sampai aku ingat perkataan ibuku dulu. Beliau bilang begini.”

“’Waktu kamu berumur tujuh tahun, kelakukanmu, ya Tuhan, ibu sampai menyangsikan apakah kamu benar-benar seorang perempuan.’”

“Waktu itu aku tertawa terbahak-bahak.  Aku ingat ketika ibu meneriakkan namaku berkali-kali sementara aku asyik bermain layang-layang bersama beberapa anak laki-laki. Layang-layangku putus. Kalah oleh layang-layang yang dimainkan Leo. Kami berlari mengejarnya tanpa memperhatikan jalanan. Rupanya aku menginjak ikan asin yang sedang ibu jemur di pinggir jalan dan terpal yang menjadi alas tersangkut di sandalku. Alhasil ikan asin ibu berserakan di jalanan. Ibu yang memerhatikan dari beranda berteriak marah sambil mengejarku. Aku tidak memedulikan ibu, aku lebih mengkhawatirkan layang-layangku, jangan sampai direbut anak lain. Ketika aku tiba dirumah, tadinya aku ingin menunjukkan layang-layang yang berhasil aku dapatkan kembali. Aku hebat. Menjadi yang paling pertama tiba di tempat layang-layangku terjatuh. Tapi, siapa sangka. Ibu masih murka. Kamar mandi menjadi tempat penyiksaan yang tidak terhindarkan. Kepalaku dibenamkan ke dalam bak mandi selama beberapa lama. Aku megap-megap mencari udara namun aku tidak sedikit pun mengeluarkan air mata. Aku memang nakal. Dan keras kepala. Sama seperti Jasmin, cucu kesayanganmu itu. Tunggu, darimana kamu tahu bahwa aku begitu nakal ketika seusia Jasmin?”

Aku tersenyum melihat kelopak matamu bergerak dan mulutmu sedikit membuka. Kamu harus segera sembuh. Aku rindu mendengar suaramu memarahiku setiap kali aku memarahi Jasmin. Dulu aku anak yang nakal dan sekarang aku nenek yang galak. Aku tidak banyak berubah ya? Aku tertawa kecil, memberi jawaban atas pikiranku sendiri.

“Kamu ingat pernikahan Alexa, putri bungsu kita? Seno datang terlambat. Alexa hampir menangis di ruang ganti. Itu bukan kali pertama Seno terlambat datang. Maksudku, Seno adalah orang yang tidak menghargai waktu. Ia lebih sering terlambat dan membuat Alexa menunggu. Menelepon, kencan, menghadiri undangan makan malam dari kita. Bagaimana Alexa yang begitu disiplin bisa tahan dengan lelaki seperti itu? Bukankah kita mendidik Alexa dengan tegas? Ketika aku menanyakan hal ini kepada Alexa, aku tercenung mendengar jawabannya.”

“’Yang penting Seno datang. Tak usahlah mempermasalahkan keterlambatannya.’”

“Aku tercenung mendengar jawabannya. Kata-kata itu adalah kata-kata pamungkas yang sering kamu lontarkan setiap kali kamu terlambat. Kamu jagonya datang terlambat, Sayang. Aku baru sadar, bahwa kamu sudah menceritakan banyak hal pada Alexa tanpa sepengetahuanku. Pantas saja aku kerap  melihat kalian saling tersenyum penuh misteri.”

“Buka matamu, Sayang. Jangan sembunyikan matahari lebih lama lagi.”

Aku menggenggam tanganmu semakin erat. Tentu kamu bisa merasakannya. Aku tidak pernah sekhawatir ini. Kamu diam terlalu lama. Biasanya jika aku melakukan kesalahan, kamu memang marah dan mendiamkan aku. Tapi tidak selama ini. Apa kesalahanku kali ini begitu besar? Aku mulai mendengar tarikan napasmu. Sekali lagi, Sayang. Sekali lagi. Lebih kuat. Aku rindu mendengar sesuatu agar aku tidak merasa sendirian.

“Aku akan mengingatkanmu tentang sesuatu. Film drama adalah film kesukaanku. Meskipun begitu kamu selalu mau menemaniku menonton. Haha. Maafkan aku. Tetapi aku ingat. Khusus malam itu, aku tidak perlu merajuk agar kamu mau. Sebaliknya, justru kamu yang mengajakku. Kamu meletakkan dua tiket film di atas meja rias. Aku mendapatinya ketika aku selesai mandi dan kamu tersenyum, duduk di pinggir ranjang. Ada yang aneh, pikirku. Tapi lagi-lagi aku tidak menaruh curiga. Bahkan sikap tidak tenangmu di dalam bioskop aku anggap biasa saja. Aku tidak memedulikanmu sampai aku merasa ada sesuatu yang kamu lingkarkan di jariku. ‘Tidak perlu menjawab. Aku yakin kamu bilang iya.’ Begitu bisikmu. Aku melewatkan beberapa adegan. Aku tidak memedulikan layar besar di hadapan. Aku sibuk merasa takjub kepadamu hingga pernikahan itu benar-benar terjadi beberapa bulan kemudian.”

Ujung bibirmu sedikit tertarik. Aku melihat secercah harapan. Bangun, Sayang. Ayo kita berjalan-jalan di pinggir danau dan memberi makan burung-burung merpati. Bukankah kamu selalu menyukai burung merpati?

“Bangun, Sayang. Ayo kita pulang. Anak-anak menunggumu dengan pesta sederhana. Cucu-cucumu sudah menyiapkan pelukan. Kebun kecilmu, sofa kesayanganmu, rak bukumu, kacamata bacamu. Semua merindukanmu. Bahkan sinar matahari enggan masuk ke dalam rumah jika tidak ada kamu menyambut mereka di beranda setiap pagi.”

“Pulang, Sayang.”

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s