Kilas Balik

“Apa yang menyenangkan dalam hidup?”

“Aku tidak tahu. Masih ada banyak hal yang harus aku kerjakan. Dan bekerja bukanlah hal yang menyenangkan.”

“Rasanya ingin mati saja.”

Hujan belum berhenti. Anita masih terjebak di halte ini karena tidak ada payung yang ia miliki. Malam ini ia sedang tidak ingin menikmati hujan seperti biasanya. Sementara laki-laki ini begitu serius membicarakan kematian. Wajahnya kaku. Tak ada senyuman. Hanya bibir yang seolah membeku. Jumat malam yang sempurna.

“Kalau kamu tahu bahwa waktu hidupmu tidak lama lagi, apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku tidak tahu. Aku selalu membayangkan menjadi tua bersama seseorang dan menikmati permainan dengan satu atau dua cucu. Aku tidak mau mati cepat.”

“Aku bilang ‘kalau’.”

“Tidak ada ‘kalau’ dalam hidupku bila menyangkut kematian.”

Wajah laki-laki ini tidak asing. Anita berusaha mengingat wajah orang-orang yang ia kenal. Kalau saja laki-laki ini tidak terlalu pucat. Kalau saja ia mau tersenyum sedikit saja. Sejak pertama ia datang ke halte ini, laki-laki itu terlihat sakit. Langkahnya gontai. Ia hampir terjatuh ketika berusaha mendudukkan dirinya sendiri di samping Anita.

“Wajahmu pucat.”

Anita kaget. Seharusnya ia yang berkata begitu. Anita lalu bergegas mencari cermin kecil yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Belum sempat ia melihat bayangan dirinya, laki-laki itu berkata lagi.

“Kalau aku mati sekarang, apa yang akan kamu lakukan?”

“Apa maksudmu?” Anita menoleh ke arah laki-laki itu.

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia malah berdiri. Dengan langkah gontai yang sama seperti ketika pertama kali datang ke halte ini, ia maju dua langkah.

Hujan belum juga reda. Orang-orang masih sibuk berteduh dan memandang langit, mengkhayalkan entah apa. Tidak ada yang menghiraukan Anita atau laki-laki yang sedang berdiri tepat di pinggir jalan besar. Anita duduk dalam gelisah. Ia menyukai hujan, tetapi tidak dalam suasana mencekam seperti malam ini.

“Kalau aku mati sekarang, apa yang akan kamu lakukan?” Laki-laki itu membalikkan badan dan menatap Anita dengan tatapan dingin.

Anita bergidik. Perasaan yang aneh menjalar ke dalam dadanya. Empati atau simpati?

Dari kejauhan, sebuah mobil terdengar mendekat dengan kecepatan tinggi. Hujan belum reda dan Anita tak tahu harus berbuat apa. Laki-laki itu bersiap melangkah ke tengah jalan lalu…

“Awasss…..!” Anita berteriak sekencang-kencangnya.

Ciiiiittt…..

Pengemudi mobil menginjak rem tiba-tiba. Bunyi ban mobil yang berdecit membuat orang-orang penasaran. Hujan yang mendadak lebat mereka abaikan. Satu persatu mendekati mobil box yang terbalik dan segera mencari si pengemudi.

“Ada apa?”

“Kenapa?”

“Apa kamu terluka?”

Si pengemudi baik-baik saja. Ia hanya sedikit kebingungan.

“Mana laki-laki yang tadi mencoba bunuh diri?” Pengemudi mobil tersebut bertanya pada orang-orang.

“Laki-laki apa?” Orang-orang saling bertanya satu sama lain. Keheranan.

***

“Ah, pengemudi mobil box itu mengingatkan aku pada cara kematianku sendiri beberapa hari sebelumnya. Menghindari penyeberang jalan sehingga aku memilih untuk menghantam pohon sejadi-jadinya. Aku tidak pernah menyukai hujan. Makanya aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di tujuan.”

“Dan usaha anehmu untuk bunuh diri, mengingatkan aku akan kematianku sendiri beberapa hari sebelumnya. Diterjang mobil yang sedang melaju kencang ketika hendak menyeberang. Aku menyukai hujan. Makanya aku menyimpan payungku dan menikmati tubuhku yang basah.”

“Lucu. Aku mau mati, tapi bukan dengan cara itu.”

“Dan aku belum mau mati.”

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s