Setelah Lelah Dengan Kehidupan Masing-masing

Sial. Kenapa saya harus melihat dia di sini? Dosa mana yang balasannya harus saya terima sekarang, Tuhan? Apa tidak bisa ditunda lain waktu?

Toko buku sedang sepi. Jumlah pengunjung kala ini tidak lebih banyak daripada jumlah pegawai yang bertugas. Dia yang baru masuk mengedarkan pandang ke seluruh sudut sebelum memutuskan akan menuju rak sebelah mana. Saya berjalan di antara buku-buku pemasaran sambil menunduk seperti orang yang sedang mencari buku di rak bagian bawah. Ketika tiba di ujung lorong dekat pintu keluar, saya kembali menegakkan badan dan berjalan tanpa menoleh ke belakang. Berharap dia tidak menyadari keberadaan saya apalagi memanggil.

“Bas!”

Terlambat. Saya berhenti di depan sebuah toko elektronik –yang letaknya bersebelahan dengan toko buku, dan menoleh juga. Kalaupun saya memilih untuk abai, akan sia-sia saja karena dia pasti akan mengejar saya sampai dapat. Kelakuannya yang mungkin tidak akan berubah sampai kiamat. Saya berbalik dan dia sudah berdiri begitu dekat. Lengannya terbuka seperti ingin memeluk tapi urung karena saya tidak memberi respons seperti biasanya. Dia mundur satu langkah dan tersenyum.

“Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini.” Katanya girang.

Saya juga tidak menyangka bertemu dia di pusat perbelanjaan ini. Sejak menikah setahun yang lalu, dia tinggal di rumah suaminya. Jauh dari sini. Dia menunggu reaksi. Menaikkan alisnya seperti bertanya bagaimana-menurutmu. Saya memperhatikan kacamata bulat bergagang tebal yang ia pakai. Lensanya membias abu-abu. Meski samar, saya bisa melihat lingkaran gelap di sekitar matanya. Dia menyadari saya memperhatikan sesuatu. Dia menunduk dan mengatur rambut agar menutupi matanya. Sedetik kemudian dia mengangkat dagunya dan kembali tersenyum. Seolah dia baik-baik saja.

“Nggak seperti yang kamu bayangkan.”

“Saya tidak peduli.”

“Jangan bohong.”

Tentu saja saya bohong. Kapan saya tidak memedulikannya? Bahkan ketika setahun yang lalu dia lebih memilih seorang pengusaha kaya dibandingkan pegawai biasa bergaji pas-pasan, saya tetap peduli. Sekali waktu, saya menelepon sahabat baiknya untuk mencaritahu kabarnya. Setiap kali saya mendengar hal-hal baik terjadi dengannya, saya tersenyum. Bila kabar yang saya terima justru sebaliknya, saya menghibur diri sendiri juga dengan tersenyum.

“Temani aku minum kopi.”

“Tidak bisa. Saya ada janji bertemu klien.” Saya tidak memandang matanya melainkan melihat ke bawah, ke ujung sepatu saya.

“Sebentar saja.” Dia tahu saya berbohong.

Kami berjalan melewati toko elektronik, toko pakaian, toko alat-alat olahraga. Di depan ada eskalator turun. Di lantai bawah ada warung kopi favorit kami, dulu. Sial. Saya mengutuk keputusan saya membuat janji dengan klien di sini. Di tempat penuh kenangan yang seharusnya saya kubur dalam-dalam. Dia menarik tangan saya agar mengikutinya masuk ke warung kopi yang saya maksud. Seorang pelayan yang sudah mengenal kami, mendatangi meja dan tersenyum ramah. Dia membalas dengan senyum ramah yang sama. Saya tidak.

“Lama nggak ke sini? Sibuk, ya?”

Dia menjawab dengan senyuman. Saya tidak. Setelah pelayan tersebut mencatat pesanan dan pergi, dia melepaskan kacamatanya. Pemandangan itu menyakiti saya. Kepala saya serta merta menayangkan adegan yang terjadi antara dia dan suaminya. Adegan yang membuat mata indah kesayangan saya, babak belur dihajar kekuasaan dan uang.

“Kenapa? Kamu mengkhawatirkan mataku?” Dia mengeluarkan rokok dan pemantik api dari dalam tasnya. Menyalakan sebatang setelah sebelumnya menawari saya dan saya menolak.

“Itu akibat dari keputusan kamu. Tidak ada hubungannya dengan saya.” Saya berpaling. Memperlihatkan sikap seolah tidak peduli.

“Kalau khawatir bilang saja.” Dia tertawa penuh kemenangan. Di hati saya, dia memang selalu menang. “Tidak ada hubungan antara keputusanku dengan perasaanmu. Benar, kan?”

“Saya tidak mengerti.”

Dua cangkir kopi dihidangkan.

“Perasaanmu kepadaku tidak berubah. Perasaan cinta itu masih ada. Benar, kan?”

“Suamimu menyakiti kamu lagi sehingga kamu perlu menghibur diri?”

Dia terdiam. Matanya tiba-tiba menatap saya lebih tajam. Mungkin kata-kata saya terlalu kasar dan tepat menghunjam. Seketika saya menyesal. Saya masih mencintainya. Dan baru saja, saya menyakiti orang yang saya cintai.

“Ma-maksud saya…” Tangan saya refleks menggenggam cangkir di atas meja. Mata saya menunduk ke arah kopi yang pekatnya seperti bola mata kesayangan saya.

“Raja sedang ke luar kota. Seminggu. Makanya aku bisa sedikit bebas.” Dia menghembuskan asap rokok ke kiri. Memperbaiki posisi duduknya, menumpangkan kaki kanan di atas kaki kiri.

Saya sudah tahu bagaimana Raja memperlakukan dia. Saya pernah dengar dari sahabat baiknya mengenai perangai Raja yang kasar dan tidak segan-segan main tangan. Lingkaran gelap di matanya pasti karena perbuatannya juga.

“Ini memang perbuatannya. Raja suka melakukannya dengan kasar. Dia memukulku di beberapa tempat sambil melenguh merasakan nikmat. Dan aku harus pula terlihat menikmati. Tak apalah, asalkan uangnya tetap mengalir lancar ke rekening orangtuaku.” Katanya seperti bisa membaca pikiran saya.

“Saya tidak mau mendengar tentang dia.”

“Kamu bilang aku boleh menceritakan apa saja.”

“Itu dulu. Sekarang tidak lagi.”

“Aku nggak percaya.”

Dengan satu tekanan pelan, bara di ujung rokoknya padam. Dia hendak menarik sebatang lagi sebelum saya menghentikannya.

“Saya akan menikah.” Saya memandang tajam ke kedua matanya. “Saya akan melamar seseorang malam ini.”

Dia bergeming. Saya mengeluarkan sepasang cincin dari saku kemeja dan memperlihatkan padanya. Sepasang mata kesayangan saya berkaca-kaca.

“Bagus untuk kamu.” Katanya lirih sambil menimbang-nimbang cincin bermata berlian. Dia tidak tahu bahwa cincin itu sudah saya beli sejak setahun yang lalu. Satu hari sebelum saya hendak mengajaknya menikah. Satu hari sebelum dia mengatakan bahwa dia memilih laki-laki kaya raya dibandingkan saya.

“Tapi itu nggak akan mengubah apa-apa.”

Saya menggeleng pelan, meski sebenarnya saya ingin mengiyakan. Saya mengambil sepasang cincin itu dari tangannya dan memasukkan kembali ke saku kemeja.

“Nggak akan ada yang berubah dengan kita. Benar, kan?” Dia menggulung lengan bajunya. “Aku masih bisa menghubungi kamu untuk menceritakan bagaimana aku mendapatkan ini…” katanya sambil menunjukkan lengan atasnya. Lebam. “…ini…” katanya sambil menarik turun leher bajunya hingga memperlihatkan bagian atas payudaranya. Ada tiga garis merah seperti bekas cakaran. Saya bergidik membayangkan bagaimana Raja menancapkan kuku-kukunya ke dalam kulit putih mulus yang dulu saya perlakukan dengan halus. “…atau ini. Iya, kan?” Katanya sambil menunjuk kembali ke arah matanya.

Kini, saya yang bergeming. Dia sedang memainkan perannya sebagai perempuan teraniaya. Dia sedang memanfaatkan perasaan cinta saya yang sama sekali tidak berkurang. Sedikitpun. Dia sedang memengaruhi saya untuk tetap setia menjadi tempatnya mengungkapkan keluh. Kepala saya menolak mengikuti skenario yang dia buat. Tapi hati saya memberontak dan saya melawan kuat-kuat.

“Kamu tidak bisa terus-terusan seperti ini.”

“Aku punya kamu. Aku nggak perlu khawatir.”

“Ada kehidupan yang harus saya bangun. Saya tidak bisa terus-terusan mengurusi kamu. Saya sudah mengingatkan kamu tentang laki-laki itu. Kamu juga sudah tahu bahwa dia bukan orang baik. Tapi kamu bersikeras menikahinya. Saya tidak mau bilang apa-saya-bilang. Ini akibat yang harus kamu terima.”

“Tapi aku terluka. Kamu lihat, kan?”

“Kamu bukan korban. Dan saya tahu kamu tidak mau diselamatkan.”

Saya berdiri, bersiap-siap pergi. Sebaliknya, dia justru mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Saya tidak tahu apa yang membuatnya bisa setenang itu. “Saya minta maaf karena tidak bisa menjaga kamu. Tetapi saya akan berdoa untuk kebaikan kamu.”

Pandangan saya lurus ke depan ketika melangkah pergi. Tanpa melihat wajahnya, saya mendengar dia berkata dengan sungguh-sungguh, “Tubuh ini takdir kamu. Setiap kali tubuh ini merasakan sakit, semesta akan membawa kamu mendekat.”

Satu tahun belakangan ini, saya mencoba menerima keputusannya menikah dengan lelaki lain. Gagal. Saya tidak bisa tenang membayangkan kehidupannya yang penuh derita seperti saya tidak bisa tenang meninggalkan dia saat ini. Jiwa ini seolah sudah terikat di sepasang mata indah kesayangan saya. Barusan dia berkata benar. Saya akan selalu mendekat kepadanya. Tidak perlu menunggu hingga tubuh itu merasakan sakit, saat ini pun saya ingin berbalik dan memeluknya. Tetapi sesuatu terbersit di kepala saya. Masih ada beberapa hari sebelum suaminya kembali dan mengambil dia lagi. Masih ada beberapa jam sebelum saya bertemu dengan perempuan yang akan saya jadikan istri. Saya punya kesempatan yang sayang bila dibiarkan pergi.

Saya terkejut ketika berbalik, dia sudah berdiri begitu dekat. Lengannya terbuka seperti ingin memeluk. Kali ini saya menyambut dia. Belum sempat saya berkata apa-apa, dia mengangguk seolah menyetujui apapun yang akan saya katakan. Saya mencium matanya yang berhiaskan lingkaran gelap lalu memeluknya dengan tenang. Cincin berlian itu akhirnya kembali kepada pemiliknya.

*

Advertisements

4 thoughts on “Setelah Lelah Dengan Kehidupan Masing-masing

  1. arman says:

    ahhhh. masih belum puas dengan endingnya.
    kenapa dia harus menyia-nyiakan cintanya hanya demi cewek kayak gitu.
    keren banget cerpennya. aku jadi kebawa suasana. nice post

    kalau ada waktu, main ke blogku juga ya

    • ManDewi says:

      Awalnya memang bingun mau bawa cerita ini ke ending seperti apa. Akhirnya diputuskan begitu. Alasannya: karena cowoknya cinta mati.

      Siap! Nanti main ke sana. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s