Debur Ombak Selatan

Namanya Debur Ombak Selatan. Oke, orangtua macam apa yang menamai anaknya Debur Ombak Selatan? Mengapa bukan Segara Alam seperti salah satu tokoh dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori? Sama-sama bernapaskan semesta tetapi lebih masuk akal. Lagipula, panggilan apa yang cocok untuk orang bernama lengkap Debur Ombak Selatan? Debur? Ombak? Selatan? Atau apa?

Aksel.

Begitulah akhirnya ia dipanggil oleh siapapun yang hendak memanggil. Aksel yang berasal dari akhir ‘Ombak’ dan awal ‘Selatan’. Lumayan. Meskipun huruf vokal pada Aksel harus dilafalkan seperti pada kata karet, agar lebih merdu di telinga.

Aku mengulurkan tangan ketika pintu terbuka sempurna.

“Sein.” Dengan huruf vokal yang diucapkan seperti ketika melafalkan rain yang berarti hujan.

“Nama asli?”

“Tentu saja. Tidak ada yang perlu aku tutup-tutupi.”

Aku memperhatikan benar-benar, laki-laki di hadapanku. Matanya langsung menarik perhatianku. Biru gelap seperti permukaan samudera. Orang dari belahan bumi mana yang memiliki mata seperti itu. Aku pikir dia orang Indonesia tulen. Namanya.

“Aksel.”

“Aku tahu.”

“Dari mana?”

“Mencari tahu.”

“Mencari tahu?”

“Ya. Media sosial dan semacamnya. Siapa yang bisa benar-benar sembunyi dari dunia yang semakin bebas dan terbuka? Semua informasi ada di depan mata. Tinggal kamu mau melihat atau tidak.”

Wajah Aksel menegang. Mungkin ia merasa jalurnya dilangkahi. Laki-laki awal tiga puluhan, mapan, tampan, akan senang bila diberi kesempatan untuk mendominasi. Aku harus menahan diri agar tidak terlalu banyak bicara. Aku sedang bekerja. Meski sepertinya, aku akan menikmati pekerjaan kali ini.

“Langsung saja?”

Aku berjalan memasuki ruangan lebih dalam, melepaskan sepatu, baju satu persatu dan membiarkan semuanya tergeletak sebagai jejak agar Aksel mengikuti. Ia paham. Dari dalam laci meja di sebelah tempat tidur, aku mengambil sebungkus rokok dan pemantik bergambar siluet perempuan. Aksel memelukku dari belakang.

“Dari mana kau tahu ada rokok di sana?”

Suaranya lebih menyerupai bisikan atau bahkan hanya hembusan. Aku bergidik. Geli.

“Kamar ini aku yang pilih. Aku yang minta agar disediakan segala hal yang aku perlukan.”

“Apa lagi?”

“Ini.”

Aku menyingkap selimut. Tersenyum melihat hamparan kelopak mawar putih. Aksel ikut melihat ke bawah selimut dan tersenyum.

“Apa kau melakukan ini pada semua pelangganmu?”

Sebuah gelengan kepala menjawab pertanyaannya. Ia balas dengan sebuah ciuman lembut di pucuk bibirku.

“Kenapa?”

Aku membayangkan pelangganku yang terakhir. Tiga hari yang lalu. Laki-laki beranak lima, bercucu dua belas. Luar biasa kontribusi keluarga mereka terhadap pertambahan jumlah penduduk di Indonesia. Belum termasuk anak-anak lain yang tidak ia sadari keberadaannya. Dasar laki-laki hidung belang. Aku geli dengan pikiranku sendiri.

“Kau tahu, aku yang menawarkan diri untuk pekerjaan seperti ini. Ibuku tak bisa menolak. Aku bilang, dia tidak bisa melarangku untuk melakukan hal yang sama dengan yang ia contohkan. Menolak keinginanku akan menjadikannya seorang yang munafik.”

Detak detik jarum jam terdengar jelas ketika aku membiarkan jeda.

“Ibuku tidak suka dikatakan munafik.” Aku tersenyum puas. Berbalik. Melingkarkan tangan di pinggangnya.

“Aku memilih pelangganku sendiri. Ibu hanya memberi beberapa nama. Orang-orang yang meneleponnya. Aku mencari tahu tentang mereka lalu memilih satu yang mau aku temui.

“Mencari tahu?”

“Ya. Seperti yang aku lakukan kepadamu juga. Apa kamu ingat berapa lama sejak kamu menelepon ibuku sampai ibuku memberi tanggal hari ini?”

“Dua minggu. Kurang lebih.”

“Benar. Aku membatasi pekerjaanku. Aku tidak menerima semua orang yang mau memakaiku.”

“Tidak akan membuatmu setingkat lebih suci daripada yang lain.”

“Aku tidak menciptakan tingkatan dengan orang lain. Aku hanya ingin menghargai tubuhku sendiri.”

“Dengan menjualnya?”

“Haha.. Apa kau tahu bahwa kau terdengar menggelikan?”

Aksel duduk di sisi tempat tidur. Membuka bajunya dan menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik selimut. Aku bergelung di pelukannya.

“Siapa yang tidak menjual dirinya sendiri? Kau bekerja untuk orang lain, melakukan apa yang mereka minta. Apa kaupikir itu bukan menjual diri?”

Aksel terlihat gelisah. Ia membiarkan kedua tangannya bebas. Padahal tangan kanannya bisa saja memelukku dan tangan kirinya meraih tangan kananku. Gesekan antara kulit kami dengan kelopak-kelopak mawar menguarkan bau segar. Aku memejamkan mata dan menghirup udara sedalam-dalamnya. Situasi ini sangat personal. Setidaknya bagiku.

“Lalu, apa yang membuatmu menerimaku?”

Akhirnya pertanyaan itu muncul juga. Apa aku harus menceritakan semuanya? Kalau iya, mungkin Aksel akan merasa aku terlalu berlebihan. Ah, tak apa.

“Tak perlu khawatir. Aku mencari tahu tentang kalian hanya karena aku penasaran, orang-orang macam apa yang menghubungi ibuku, menghambur-hamburkan uang demi kenikmatan yang hanya semenit atau dua menit. Setelahnya mereka lupa. Lalu mulai lagi, bayar lagi, lupa lagi. Begitu seterusnya.”

“Kaupikir aku begitu?”

“Awalnya, iya.”

“Sekarang?”

“Tidak lagi.”

“Karena?”

“Aksel, kamu terlalu cemas. Tiada hal yang membuatku merasa harus…menolakmu.”

Senyumnya mengembang. Pertanda baik.

“Beberapa hari yang lalu aku melihatmu di sebuah kafe. Kamu sedang duduk sendirian, menghadap laptop. Mungkin bekerja, mungkin melakukan hal yang lain. Aku hendak mendekatimu ketika seorang perempuan tua berjalan ke arahmu lebih dulu.”

“Ibuku.”

“Aku tidak tahu siapa dia, apa yang ia lakukan di masa lalu. Tapi aku bisa melihat betapa wajahnya penuh dengan perasaan bersalah. Ia tidak berani memandangmu. Kedua tangannya gemetar. Gerak tubuhnya gelisah. Kalian sempat berdiam diri, cukup lama.”

“Sebenarnya aku ingin memeluknya begitu aku melihatnya memasuki pintu kaca.”

“Akhirnya kau memeluknya. Airmata perempuan itu jatuh. Membasahi kemeja yang kaupakai di bagian bahu. Airmataku juga jatuh seketika itu.”

Aksel diam. Ada kabut di matanya.

“Romantis. Apa yang aku lihat ketika itu, pernah aku lihat ketika ayahku memeluk ibuku untuk terakhir kalinya. Lalu ia pergi dan tak kembali.” Aku menegakkan tubuh. Duduk sejajar dengan Aksel. “Mendadak, aku menginginkanmu menjadi laki-laki yang akan melindungiku. Selamanya. Haha.”

Sebuah kecupan mendarat di ubun-ubun. Aku memejamkan mata menikmati ketenangan yang serta merta aku rasakan. Pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa begitu aman.

“A-aku…”

Lagi-lagi aku tertawa. “Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Anggap saja aku terlalu terbawa perasaan. Biasalah, perempuan. Ngomong-ngomong, apa benar namamu Debur Ombak Selatan?” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Benar. Namamu?”

“Sein.”

“Aku tahu. Lengkapnya?”

“Seindah Cahaya Purnama.”

Aksel tertawa menyadari kemiripan nama kami. Aku sudah tahu. Dan aku harap kita berjodoh, lanjutku dalam hati. Lalu, sembari mengesampingkan bayangan Aksel memakai pakaian pengantin dan berdiri di sampingku, akupun mulai bekerja.

*

Advertisements

5 thoughts on “Debur Ombak Selatan

  1. Intan Rasyid says:

    suka ceritanya, tapi cukup membingungkan ini percakapan sein atau aksel. lalu juga saya yang bodoh ini sempat ragu aksel lelaki ataukah perempuan.
    semuanya baru terjawab dibeberapa baris terakhir hingga saya harus ngulang baca supaya lebih menikmati dengan imajinasi saya yg udah klop dengan cerita.

  2. RedCarra says:

    Hai. Kok belom ada yang ikutan ini? *clingukan* Gpp deh. Aku duluan ya.

    Tertarik sama ceritamu ini karena ide dasarnya keren 😀
    Ada beberapa catatan sik, tapi… Seperti ketidakkonsistenan pemakaian kata ganti, dia jadi ia. Juga ada beberapa alur yang patah, misalnya habis memeluk dari belakang, kok bisa mencium bibir 😆 gitu aja sik.

    Aku coba edit ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s