Curhat dan Hal yang Tersembunyi di Baliknya

“Kapan putus?” Udara dingin membuatku mengancingkan jaket lalu menyembunyikan tangan di saku celana.

“Seminggu yang lalu.” Sin membuatku ingin mendaratkan pelukan. Tapi aku tahan.

“Belum move on, dong?

“Mmm..”

“Berarti belum.”

“Hari ini Lo aneh.”

“Aneh gimana? Aku, kan, cuma tanya.” Lalu aku mengembalikan topik ke awal percakapan. “Siapa yang mutusin?”

“Dia.”

“Buset! Alasannya?” Sin yang aku kenal, tidak pernah membiarkan dirinya dipermalukan, dan diputuskan adalah hal memalukan baginya.

“Sudah nggak ada kecocokan.”

“Klise!”

“Ya masak gue harus jelasin kalau gue jealous lihat dia punya gadget baru sementara berkali-kali gue minta kado dia bilang nggak ada duit?”

“Nah, itu.” Kataku sambil menepuk bahunya. “Masih berharap balikan?”

“Mmm…”

“Berarti masih.”

“Heh! Enak aja!”

Sorry...” Jeda. “Masih berharap?”

“Lo aneh. Dari tadi Lo nanya ini itu, tapi nggak nanya perasaan gue. Jangan-jangan, Lo lagi…”

“Hahaha..” Aku tertawa karena Sin akhirnya menyadari. Dari dalam saku celana aku mengeluarkan alat perekam yang sedari tadi kunyalakan, lalu berlari menjauh. Aku masih perlu banyak responden untuk penelitian.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s