DEJA VU: Memanggil Kembali Kebahagiaan yang Dulu

Kalau suaminya bukan Bayu, pastilah Rosi masih berbaring di ranjang rumah sakit ini dan menikmati sepiring bubur tanpa rasa, diikuti dengan menelan beberapa butir obat beraneka rupa lalu dipaksa tidur oleh Deni, Martin atau Kimi, tergantung siapa dari ketiga anaknya yang terpaksa bertugas menjaganya kali ini. Tapi Bayu adalah suaminya. Entah bagaimana caranya, Bayu berhasil membuat anak-anak mereka patuh untuk tidak mengunjungi ibunya hari ini juga meyakinkan dokter agar membiarkannya membawa Rosi keluar dari rumah sakit padahal kesehatan Rosi belum pulih benar. Rosi duduk termenung di pinggir ranjang. Tanpa menyunggingkan sedikitpun senyum di kulit wajahnya yang keriput, jari-jari tua Rosi menyambar tumpukan pakaian di ujung ranjang lalu memakainya dengan kidmat. Terakhir, ia melilitkan selembar syal di lehernya untuk mempertahankan kehangatan yang selama empat hari ini mengisi tubuhnya. Rosi siap menyambut Bayu yang katanya akan datang sebelum pukul tiga sore. Dan itu sebentar lagi.

*

Matahari baru saja beranjak naik ketika Bayu terbangun oleh suara panggilan telepon. Nama Deni timbul tenggelam oleh kedap-kedip layar ponsel.

“Iya. Benar.”

“Tidak usah. Aku sudah melarang Kimi dan Martin untuk datang ke rumah sakit. Dan kamu, tidak perlu jauh-jauh terbang ke Bali. Mama kalian baik-baik saja.”

“Ya. Aku paham.” Bayu mengangguk-anggukkan kepala seolah-olah Deni bisa melihatnya. “Bukannya aku tidak percaya kamu, Den. Tapi yang ada di samping Mama kalian, kan, aku. Yang bicara pada dokter juga aku. Kamu tidak perlu khawatir.”

“Aku mengerti.”

Bayu menutup telepon lalu menarik kedua ujung bibirnya. Baru saja ia berdebat dengan seorang dokter yang secara teori lebih tahu keadaan Rosi dan penyakit yang sedang dideritanya, tetapi ia menolak mengikuti kemauan Deni agar tidak buru-buru membawa Rosi keluar dari rumah sakit. Rosi adalah istrinya. Sedangkan Deni adalah anak tirinya, yang sudah bertahun-tahun tidak lagi tinggal bersama mereka. Jadi secara praktis, Bayu lebih memahami kondisi Rosi.

*

“Aku nggak tahu kenapa Ayah melarang kita ke rumah sakit. Tapi aku menurut saja. Lagipula, Ilham belum balik dari Lombok, jadi aku nggak bisa kemana-mana. Aku harus jaga Ale.”

“Ya, kalau kamu tetap mau datang, silakan saja. Selain menjaga Ale, aku juga memikirkan Ayah yang tidak suka dibantah.”

“Iya, yang membuat kita menyebutnya galak.” Kimi tertawa kecil.

“Oke. Di tangan Ayah, Mama akan baik-baik saja.”

Kimi menutup telepon dan melemparkannya ke atas sofa, lalu buru-buru berlari menuju Ale yang tengah memanjat tangga. Ale baru berusia enam belas bulan dan sedang senang-senangnya naik ke semua permukaan yang lebih tinggi. Tangga menuju lantai dua rumah mereka, kursi di ruang makan, meja lipat yang sedang terbuka. Apa saja. Tingkah Ale –dan telepon dari Martin barusan, mengingatkan Kimi pada mamanya yang pernah bilang bahwa ia pun tiada berbeda. Ketika itu, mamanya bercerita betapa bahagianya ia melihat Kimi bertingkah begitu. Lucu. Kini, ia alami sendiri bagaimana rasa bahagia itu.

*

“Ayah berulah lagi. Aku ingat cerita Mama kalau dulu Ayah juga pernah melakukan hal yang sama.”

“Iya. Ayah pernah membawa Mama pulang lebih cepat dari yang seharusnya. Padahal Mama belum pulih benar. Seharusnya ia menginap satu atau dua malam lagi di rumah sakit. Ketika itu, Ayah membawa Mama menemui Oma ke Yogya. Bayangkan, membawa Mama yang belum sembuh benar, naik kereta api menuju Yogyakarta!”

“Oma. Mamanya Mama. Kau belum tahu, ya. Dulu, Oma tidak setuju Mama menikah dengan Ayah. Tiga tahun pertama, Oma tidak mau bicara sama sekali dengan Mama. Sama sekali.”

“Ayah bilang, mempertemukan Mama dan Oma adalah kado ulang tahun pernikahan bagi Mama. Ayah berhasil. Usahanya mendekati Oma hingga membuat Oma mau menerima Mama kembali, tidak sia-sia. Ya, untuk yang satu itu aku salut sama Ayah.”

“Ulang tahun pernikahan.”

“Hari ini? Ta-tanggal 26 April. Astaga!”

Deni menepuk keningnya berkali-kali. Ia berdiri dengan gelisah, berjalan mondar-mandir di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta. Menurut jadwal, penerbangannya ke Bali adalah pukul delapan pagi, tetapi hingga sekarang, setengah jam sebelum jadwal terbang, belum ada panggilan untuk naik pesawat. Ia duduk. Lalu berdiri lagi. Meskipun ayahnya tidak pernah gagal menjaga mamanya, kesehatan mamanya yang belum seratus persen tetap membuatnya tidak tenang. Seharusnya ia segera terbang ke Bali begitu mendengar kabar mamanya masuk rumah sakit. Tetapi tanggung jawab Deni kepada beberapa pasiennya, benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Deni melipat kedua tangannya di depan dada, menarik napas perlahan mencoba tenang. Bila terjadi apa-apa dengan mamanya maka Bayu harus berhadapan dengannya, katanya dalam hati.

*

“Semuanya sudah aku atur. Dokter bilang, tidak masalah kamu pulang hari ini tetapi jangan lupa untuk rutin minum obat sampai obatnya habis. Kita baru akan kembali ke Jakarta setelah kamu pulih. Liburan kali ini agak lain dari biasanya.”

Rosi hanya mengangguk pelan. Ada perasaan bersalah karena ia jatuh sakit dan mengacaukan liburan mereka. Bayu mendaratkan ciuman di pipi Rosi lalu mulai membereskan barang-barang yang masih ada di kamar itu. “Administrasi juga sudah aku bereskan. Setelah ini kita langsung ke… Oh, iya.” Bayu hampir saja membocorkan rencana rahasianya kepada Rosi. Ia segera mengalihkan pembicaraan sebelum Rosi menyadarinya. “Apa kamu mau kembali ke Ubud atau kita menginap di sekitar sini saja?”

“Terserah. Yang penting bawa aku segera keluar dari sini.”

“Tentu saja.”

 

Mobil berbelok ke kanan, memasuki kawasan Nusa Dua. Bangunan modern yang berderet di sepanjang jalan sangat berbanding terbalik dengan suasana di Ubud yang lebih banyak dihiasi bangunan tradisional Bali. Rosi menempelkan keningnya ke kaca jendela mobil dan memperhatikan lekat-lekat pemandangan yang ada.

“Kita menginap di sekitar sini?”

“Kamu suka?”

Rosi mengangguk. Senyumnya mulai terlihat. Suaranya mulai bersemangat.

“Menurutmu, apa orang setua kita masih bisa mengalami deja vu?”

“Apa yang kamu bicarakan?”

“Aku pernah mengalami ini. Maksudku, membayangkan suasana seperti ini. Kita sedang berlibur di suatu tempat. Kamu mengendarai mobil dan aku melihat pemandangan sambil menekankan jidat di jendela. Bangunan ini, jalanan ini, pohon-pohon ini, perasaan ini, bahkan percakapan kita tadi. Aku pernah membayangkannya terjadi.”

“Lalu?”

“Lalu aku berbalik menghadapmu dan ternyata kamu sedang memandangku sambil memegang satu buket….” Rosi berbalik menghadap suaminya seperti yang ia katakan, Bayu memang sedang memandang Rosi –juga memperhatikan lalu lintas secara bergantian, sambil mengacungkan satu buket mawar merah. “…mawar merah.”

“Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang. Hmm. Apakah kalimat tadi juga ada dalam bayanganmu?”

Rosi meraih bunga mawar dari tangan Bayu seraya mengangguk senang. “Ya. Meskipun aku merasa kita sudah terlalu tua untuk hal-hal romantis semacam mawar merah.” Rosi tertawa. Rona merah tampak di pipinya yang masih pucat.

“Setelah ini, mungkin aku akan membayangkan kita berada di dermaga dalam sebuah kapal perompak. Siap-siap berlayar untuk berburu harta karun.”

*

“Aku sedang dalam perjalanan menjemput Kimi dan Ale. Tadi Kimi menelepon dan memutuskan untuk ikut denganku menemui Mama dan Ayah.”

“Tahu. Aku menelepon Mama dan Mama bilang Ayah mengajaknya ke Nusa Dua. Kalau aku tidak salah dengar, nama tempatnya The Bay Bali.”

“Delay? Tidak biasanya. Oke. Oke.”

“Ya, aku tunggu di sana.”

Sebenarnya, Martin sudah setengah perjalanan menuju Nusa Dua ketika Kimi menelepon meminta dijemput. Meskipun sudah menikah dan punya satu anak, adiknya masih saja tidak berubah. Labil. Di rambu berikutnya, Martin berbalik arah. Memutar kembali ke arah Ubud untuk menjemput Kimi. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak sabar untuk bertemu Rosi, ibu yang ia lupakan selama beberapa tahun belakangan ini karena kesibukan tak terkira. Martin sering berpikir untuk berhenti dari pekerjaannya yang sekarang lalu tinggal bersama Rosi dan Bayu. Kembali mengulangi masa-masa indah sebelum ia terbujuk godaan uang.

*

“Sayang, tadi aku hanya bercanda tentang membayangkan berada di kapal perompak.”

“Tapi ini benar ada.”

“Tapi…”  Rosi tak henti-henti menunjukkan kekagumannya akan apa yang ia lihat. Di hadapannya tersaji sebuah kapal kayu yang dihias bendera hitam bergambar tengkorak. Hal-hal berbau perompak memang selalu menarik perhatiannya. Dulu, ayahnya kerap bercerita pada Rosi bagaimana gagahnya seorang perompak. Meskipun belakangan Rosi baru paham bahwa perompak berarti perampok, ia tidak kehilangan minat terhadap hal itu.

Selain kapal besar, tidak jauh dari sana, juga ada balai-balai bambu yang dilengkapi bantal-bantal empuk. Ada arena bermain untuk anak-anak. Dan oh, ada kayu bakar yang ditumpuk-tumpuk, siap untuk api unggun.

“Lagi-lagi aku merasa kita sudah terlalu tua untuk hal-hal romantis macam kejutan seperti ini.”

Bayu menuntun Rosi menaiki tangga kayu yang membawa langkah mereka menuju ke atas kapal. Di sana telah ada sebuah meja dan dua buah kursi yang diletakkan berdampingan.

“Kita memang masih muda. Kita baru menikah selama tiga puluh tahun dan itu belum berarti apa-apa. Kita masih akan bersama lebih lama lagi. Lebih lama dari selama ini.”

Dua kalimat terakhir yang diucapkan Bayu tadi adalah potongan puisi yang ia tulis dan bacakan di acara resepsi pernikahan mereka dulu. Rosi mengingatnya. Senantiasa mengingatnya. Dan ketika kalimat itu terucap lagi dari mulut yang sama, dadanya merekah merah.

“Kepada Tuhan, aku hanya meminta ketenangan. Tetapi Ia berbaik hati memberiku kebahagiaan.”

“Kepada Tuhan, aku meminta seorang istri, tetapi Ia memberiku perempuan bernama Rosi.”

“Aku baru tahu bahwa kebahagiaan bisa diulang.”

“Hanya jika kamu benar-benar mau.”

*

Deni, Martin dan Kimi telah tiba di The Bay Bali. Mereka sedang menuju Pirates Bay ketika sebuah pesan singkat masuk ke ponsel mereka hampir bersamaan. Setelah membaca pesan tersebut, mereka saling bertukar pandang, lalu tersenyum.

“Aku rasa mereka sedang tidak mau diganggu.”

“Iya.”

“Iya.”

Lalu mereka berbalik arah, mencari tempat yang nyaman untuk menunggu.

*

“Aku sengaja melarang anak-anak datang karena aku cuma mau berdua denganmu.”

Rosi segera meletakkan ponsel dan merebahkan kepala di bahu suaminya. Di depan mereka terhampar laut luas dan langit kemerahan, pantulan matahari terbenam dari sisi laut yang lainnya.

***

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s