Ketika Kepalaku Berbicara Lebih Banyak dari Biasanya

“Jangan bilang cinta kalau tiga tahun dari sekarang kamu pergi juga.”

“Siapa yang bisa merencanakan masa depan?”

“Kita. Kita bisa. Kita bisa membuat rencana untuk bersama selamanya. Seburuk apapun kita nantinya. Oke, ralat. Kita tidak akan menjadi buruk karena kita senantiasa saling menjaga. Bukan begitu?”

“Ya. Lalu, rencananya, berapa lama kita akan bersama?”

Betapa tidak seriusnya kamu. Pada kalimat sebelumnya telah aku katakan dengan jelas bahwa kita akan ‘bersama selamanya’, tetapi kamu masih saja bertanya hal yang sama. Aku maklum. Mungkin kepalamu sedang dipenuhi banyak hal.

 

Semangat masa mudaku ketika itu mengabaikan setiap pertanda. Aku senantiasa melihatmu sebagai Yang Agung. Aku menganggapmu seolah Tuhan.  Karena terkadang, aku lebih mengutamakan kamu daripada Tuhan. Ini rahasia, ya.

Aku merasa melakukan semuanya karena kamu. Aku melakukan semuanya untuk kamu. Aku berhutang padamu karena bagiku kau pelengkap hidup. Sebaliknya, aku tidak merasa punya hutang kepada-Nya. Aku tak ingat pernah berdoa meminta seseorang. Aku jalani hidupku apa adanya. Dengan atau tanpa lelaki. Tetapi kemudian kamu datang dan aku tak bisa menolak perasaan yang muncul. Dan kamu, dengan mudahnya mengisi setiap ruang tak bertu(h)an dalam diriku.

Semangat masa mudaku juga yang membuatku rela menjadi pihak yang lebih banyak menunggumu setiap kali kita kencan. Setelah menikah, aku yang setiap pagi menunggumu dengan sabar untuk sarapan bersama. Setelah anak-anak kita lahir, aku yang selalu menyelesaikan segala urusan rumah tangga, sedang kamu hanya tahu bekerja dan –kalau aku beruntung, pulang setelahnya. Bila satu dan kecil saja kesalahan kubuat, kamu akan bilang bahwa aku melakukannya dengan sengaja. Sengaja membuatmu membenciku agar kamu jadi punya alasan untuk meninggalkanku.

Itu tidak benar. Dalam kamusku tidak ada kata perpisahan. Tidak pernah ada.

Setelah sekian puluh tahun kita hidup bersama dan anak-anak tak lagi ada di sekitar kita, aku mengenang kembali masa-masa itu dan aku tidak percaya telah melewati semuanya. Dulu aku selalu berusaha terlihat cantik di depanmu untuk, sejujurnya, menuai pujian darimu. Dan sesekali, kamu memang memujiku.

“Apa yang kaulakukan?”

Suaramu memecah keheningan yang aku ciptakan dengan diriku sendiri di muka cermin. Alat-alat make up berserakan di meja rias seiring wajahku yang telah bertopeng bedak.

“Aku sedang berusaha agar kamu tidak berpaling kepada perempuan lain.” Emosi masa senjaku kini lebih cepat menguasai. Nada suaraku pelan, sebagai bukti bahwa tenagaku melemah.

“Perempuan yang mana?”

“Jangan pura-pura. Aku memang tidak cantik lagi dan kamu sedang berpikir untuk meninggalkan aku, kan? Mengaku saja. Aku bukan lagi anak kecil yang bodoh dan membiarkan kesenangan menguasai logika.”

Kamu tidak berbuat apa-apa selain meninggalkanku sendirian. Lalu suara pintu terbanting dengan kerasnya. Lalu hening mencekam dadaku sejenak. Menunggu-nunggu sebuah suara yang belakangan ini menguasai ruang dalam tubuh tuamu yang tak lagi berisi aku.

“Tenang, Mas. Jangan marah-marah begitu. Darah tinggimu bisa kumat lagi.”

Kamu tidak menjawab perempuan itu.

“Mbak Maya hanya sedang merasa takut. Merasa tidak aman karena tidak lagi cantik, tidak lagi bertenaga dan tidak lagi bisa melakukan apa-apa. Mbak Maya baik-baik saja.”

Lagi-lagi tidak ada balasan darimu. Barangkali saat ini perempuan itu sedang mendekapmu dalam pelukan dan merasa telah berjasa besar menenangkanmu dari amarah.

“Apa yang dialami Mbak Maya itu normal. Ada istilahnya.”

Aku beranjak ke arah pintu dan membukanya.

“Itu tidak normal. Temanku bilang, gejala itu menjurus ke arah Gerascophobia. Dan itu tidak normal. Itu tidak normal. Itu tidak normal. Dan aku tidak berencana untuk meninggalkannya.” Kamu bergumam berulang-ulang pada kehampaan di hadapanmu.

Hampa.

Tak ada orang lain di sana.

*

 

FF ini ditulis untuk perempuandansenja, tema: Perempuan & Senja. :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s