Wawancara

Yang lebih buruk dari trotoar yang buruk adalah berjalan dengan high heels di atasnya. Beberapa kali Rara hampir terjatuh karena berusaha menyeimbangkan tubuh. Belum lagi karena di tangannya ada tiga buah buku tebal yang harus ia kembalikan kepada Alan.

Trotoar tersebut merupakan susunan paving blok berbentuk segi lima yang tersusun tidak rapi-rapi amat. Ada celah lebar di antara paving, cukup untuk hak sepatu yang runcing. Memakai high heels tidak pernah menjadi keahlian Rara. Dia lebih nyaman dengan converse buluk berwarna merah yang sudah tiga tahun ini menemaninya. Tetapi kali ini, atas permintaan Alan, ia rela melakukan apa yang tidak ia suka.

“Kamu harus buktikan bahwa kamu benar-benar kutubuku. Aku punya beberapa pertanyaan untuk kamu jawab tentang buku-buku itu.”

Rara membenarkan letak kacamatanya. “Bos macam apa yang perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan hanya untuk membuktikan seberapa kutubukunya seorang calon pegawai.” Tetapi, toh Rara menyerah. Setelah tiga bulan tanpa pekerjaan, dihabiskan juga tiga buku tebal itu dalam waktu seminggu.

“Demi apa pula Alan memintaku datang ke restoran untuk wawancara dengan mengenakan gaun dan high heels macam ini? Seperti tidak mengenalku saja.”

Rara mendengus kesal. Sepanjang jalan ia mengumpat pelan. Kata-kata Alan melintas di kepalanya sekali lagi.

“Buktikan, dong kalau kutubuku juga bisa tampil feminin kayak puteri keraton. Sekaliii saja. Demi wawancara ini.” Alan memainkan alisnya. Naik turun sambil menunjukkan senyum yang membuat Rara ingin menciumnya tanpa henti. Menyebalkan yang menggemaskan.

Untungnya Rara hanya perlu berjalan sejauh seratus meter dari titik perhentian taksi untuk sampai di restoran yang ia tuju. Palang nama gedung bercat putih dengan gaya bangunan Romawi, kini sudah terlihat.

The House of The Spirits.

Nama yang menakutkan untuk sebuah restoran sekalipun tempat itu adalah restoran mewah.

Pintu restoran dibuka. Rara disambut oleh seorang perempuan berpakaian rapi dan anggun. Hampir-hampir mengalahkan penampilannya.

“Nona Rara sudah ditunggu. Silakan ikuti saya.”

Rara mengekor pelayan restoran dengan tekun. Tepat di belakangnya. Hingga si pelayan berhenti. Ketika ia menyingkir, ada Alan di sana. Berdiri, menyambut Rara dengan bentangan tangan.

“Kamu tampak lebih cantik dari biasanya.”

Mereka saling mencium pipi. Rara tersipu mendapat pujian atas usahanya. Tetapi dadanya kembali berdegup kencang ketika menyadari bahwa di sana Alan tidak sendirian.

“Mereka…”

“Perkenalkan. Mereka Pimpinan Lembaga Riset yang aku ceritakan, yang hendak mewawancarai kamu.”

“Sa-saya…” Rara tergagap hendak bicara. Tangannya gemetar ketika ia bersalaman dengan mereka.

“Tenang, Sayang. Nggak perlu gugup.”

Pandangan Rara mengikuti pandangan Alan. Ada kotak beledu yang terbuka di atas meja. Sebuah cincin bermata ruby. Serasi dengan gaun yang ia kenakan malam ini.

Alan memasang senyum termanis. Pimpinan Lembaga Riset yang adalah orangtua Alan, juga.

***

IMG_2386.JPG

Advertisements

2 thoughts on “Wawancara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s