Ulang

[Pucuk cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masih mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat. Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.

“Mas Koyo,” orang yang sebentar-sebentar melemparkan pandang ke arahku dari pagar kawat berduri, tiba-tiba menghampiri, merapat, membuatku tegak. “Saya Kiswoyo, masih ada hubungan darah dengan Mbak Uci,” katanya menyebutkan nama akrab istriku. Aku merunduk dibuat ucapannya itu. Istri! Bisikku dalam hati. Ada duka di balik kata itu. “Sudah gelap. Kelihatannya dia tak bakalan datang. Kalau Mas tak keberatan, ikut saya saja. Nginap dulu di rumah saya. Tak jauh dari sini,” sambungnya.]

Kepalaku berisi waspada. Orang ini baru menyapaku ketika orang-orang di sekitar sudah habis. Malam tiba dan angin dingin mulai berembus. Aku merapatkan jaket sambil berbalik hendak pergi. Tetapi orang ini kembali menghampiri, menyejajar langkah dengan langkahku.

“Mas Koyo mau ke mana? Bermalam di mana? Sudah memesan kamar di penginapan mana?”

Aku menggeleng, “Saya mau menyusul Uci ke Pondok Bambu.”

“Sendirian? Bahaya, Mas. Bukannya Mas Koyo baru kali ini datang ke Jakarta? Saya temani Mas Koyo ke Pondok Bambu.”

Dari mana dia tahu bahwa ini adalah kali pertama aku ke Jakarta? Sejuta pertanyaan lain muncul di kepala, tetapi tidak satu juga keluar lewat kata-kata. Aku tidak mengiyakan juga tidak menolak. Bahkan karena petunjuknya, kami tiba di Pondok Bambu dengan cepat. Orang ini menemani namun pada saat yang sama aku merasa dijaga. Diawasi. Apalagi melihat badannya yang jauh lebih tinggi dan lebih kekar.

Kami berdiri di luar pagar terkunci lalu seorang petugas mendekati.

“Saya mencari Suciwati. Apakah dia ada?”

“Ini bukan waktu berkunjung. Kembali saja besok.”

“Saya hanya ingin memastikan apakah istri saya ada dan baik-baik saja.”

Si petugas masuk ke dalam gedung. Berbicara kepada temannya lalu kembali ke arah kami. Menyuruh menunggu.

“Mbak Uci sering cerita tentang Mas Koyo.” Orang ini membuka suara. Deru kendaraan lalu-lalang, menjadi latarnya. Aku pernah mendengar nama Kiswoyo. Uci pernah cerita. Entah di surat yang mana.

“Mbak Uci meminta saya mengajak Mas Koyo ke rumah kalau-kalau Mbak Uci belum tiba hingga malam. Tapi Mas Koyo berkeras ke sini. Jadi saya bilang Arum agar menjemput ke mari.”

“Arum?” Sama dengan nama anakku.

Mendengar perhatianku akan nama Arum, orang ini mendadak diam. Pandangannya beralih ke dalam gedung, ke arah si petugas yang kembali datang. “Perempuan bernama Suciwati sudah bebas enam bulan yang lalu.” Katanya.

Aku ternganga. “Tidak mungkin, Uci berjanji akan menemui saya. Dia bilang dia bebas hari ini, bukannya enam bulan yang lalu.”

Aku mengguncang-guncang pagar. Menggoyang-goyang gembok berusaha membuka. Si petugas berbagi pandangan dengan orang di sampingku. Suara kendaraan semakin riuh di jalanan. Di antara suara-suara tersebut, ada sirine ambulans semakin lama semakin mendekat. Kiswoyo merengkuh dan berusaha menjauhkan aku dari pagar. Aku tidak bisa menggerakkan lenganku. Sebuah suntikan kemudian membuatku mengernyit pilu. Samar-samar, aku dengar suara orang itu, “Uci, keempat kalinya dalam seminggu ini. Astaga.”

“Maafkan saya telah merepotkan kalian.”

***

 

Ditulis untuk Prompt #70 Monday Flash Fiction.

Advertisements

25 thoughts on “Ulang

    • ManDewi says:

      Uci di rumahnya sendiri. Si aku punya gangguan jiwa. Dalam seminggu, dia empat kali ke rutan untuk jemput Uci (di kepalanya Uci masih di penjara, padahal Uci sudah bebas enam bulan yang lalu). #Dijelasin

  1. Attar Arya says:

    orang gila kok nggak dimasukin ke RSJ ya? omong-omong, jika si Koyo ini gila yang terus menerus mendatangi Uci, apa alasan si Kiswoyo menjemputnya lalu membawa dia ke rumahnya Uci? Jika sudah empat kali Koyo ‘mengganggu’, kenapa Kiswoyo nggak langsung bawa dia ke RSJ? Lebih masuk akal jika begitu. 🙂

    • ManDewi says:

      Uci mau rawat sendiri Koyo di rumah mereka, makanya di akhir kalimat dia bilang maaf karena selalu merepotkan (mungkin setelah lima kali seminggu, Uci bakal mikir untuk memasukkan Koyo ke RSJ).

      Kiswoyo ini tinggal serumah sama Uci, btw. Dan Koyo pergi dari rumah (untuk melakukan ritualnya) karena dia nggak menemukan Uci di rumah. Kiswoyo yang sadar pertama kalo Koyo pergi, makanya dia nyusul ke tempat koyo ditemukan dan bertindak sesuai skenario yang ada di kepala Koyo. :))

      Ini penjelasan mestinya masuk di cerita, ya. Hahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s