Bekal

“Aku tak mengira hal mengerikan itu terjadi padaku.” Suaranya pelan, nyaris tak terdengar. Jari-jarinya mengetuk permukaan meja kayu.

“Lalu Den Laras tergeletak begitu saja di sana?”

Laras mengangguk.

“Berapa lama rasanya hingga ada yang datang menolong Den Laras?”

“Entahlah. Yang pasti, ketika tersadar aku sudah ada di sini. Ada suara kekhawatiran yang berulang kali menyebut namaku. Sepertinya. Entahlah. Aku tak ingat.”

“Pasti suara Tarmi. Dia yang membawa Den Laras kemari.” Pak Samin menjelaskan. Lalu diam. Tak lama kemudian ia melanjutkan, “Tapi seharusnya itu tak terjadi.”

“Aku pun tak habis pikir. Mereka menyerangku membabi buta. Tak ada yang bisa kulakukan karena tenaganya besar sekali. Seperti raksana yang menimpa kurcaci.”

Laras melanjutkan ceritanya. Yang menyerangnya adalah sosok laki-laki dewasa. Tidak hanya seorang, tetapi tiga. Mereka masuk melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Menimbulkan desir di tengkuknya. Ketika itu, Laras yang sedang menghadap jendela –membelakangi pintu, segera berbalik untuk melihat yang sekiranya membuat ia merinding. Ketiga sosok tersebut sudah berada dekat sekali dengannya. Satu sosok, mengunci kedua lengannya. Satu sosok mengunci kakinya. Tak ada anggota tubuhnya yang menyentuh tanah. Ia seperti melayang, menghadap ke bawah. Lalu sosok terakhir bertugas menyerangnya. Laras tak paham apa yang terjadi. Tak paham siapa mereka atau apa yang mereka lakukan.

“Kiriman. Dan yang mengirim, sudah lama menantikan saat seperti ini. Saat Den Laras lengah.”

“Tapi…”

Pak Samin meminta Laras berbalik. Menurunkan bagian atas kemejanya sehingga lebam yang mulai menghitam di bahu Laras terpampang begitu jelas. “Masih terasa sakitnya. Dan lebam seperti ini merata di sekujur tubuh.” Laras menambahkan.

“Hmm.. Coba saya lihat bekal Den Laras.”

Laras mengeluarkan sebuah bungkusan. Ukurannya kecil, sekecil bungkusan puyer. Bungkusan berbahan kain itu berwarna putih, dengan lingkaran cokelat di tengahnya. Menandakan bahwa kain putih tersebut terkena lunturan sesuatu yang dibungkusnya.

“Den Laras lupa, bekal ini tak boleh basah. Kekuatannya segera luntur begitu ia bersentuhan dengan air.”

Laras agak kaget. “Tarmi tak pernah bilang.”

***

Ditulis untuk Prompt #66: Hal yang MengerikanMonday Flash Fiction

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s