Someone Like You

Malam ketiga. Gigil kesekian. Julian tak henti mencangkuli tanah di hadapannya. Setiap kali secuil bagian peti terlihat, semangatnya bertambah. Gigilnya mereda. Berganti senyum yang mencerahkan wajah. Menyaingi bulan di atas sana.

“Tidak ada embusan hangat dari hidungnya. Tidak ada embusan hangat dari hidungnya. Tidak ada embusan hangat dari hidungnya.” Julian melompat ke luar lubang galiannya. Mengulang-ulang ucapannya. Gigilnya kembali. Satu tangannya terlipat di depan dada. Pergelangannya terkepit ketiak. Tangan yang lain di depan mulut. Ujung jempolnya di antara gigi. Tergigit-gigit. Ia berjalan mondar-mandir dari hulu ke hilir. Keringat di dahinya berbulir-bulir.

Malam berikutnya. “Bulu matanya tak serupa deretan bambu air. Bulu matanya tak serupa deretan bambu air. Bulu matanya tak serupa deretan bambu air.”

Julian menutup kembali galiannya. Rapi sedemikian rupa agar tak timbulkan curiga. Ia berbaring menghadap langit. Menolehkan kepala ke kiri. Ke kanan. Berulang-ulang. “Kucoba lagi besok. Sayang, besok aku akan berusaha lagi. Lebih keras. Besok akan aku coba lagi. Aku janji.” Julian pergi dengan gigil di seluruh tubuhnya. Bahkan mantel yang dipakai seperti tak ada guna.

Malam ini, keadaan masih aman. Julian, dengan segala perlengkapannya, kembali mendatangi tempat yang sama. Sejenak, ia melihat-lihat nama yang terpampang di hadapannya, sebelum akhirnya memilih satu.

Butuh tenaga lebih untuk mengerjakan tugasnya malam ini. Angin lebih kencang, ditambah gerimis membuat tanah menjadi lebih berat. Cuil peti kayu kemudian mulai terlihat. Cerah itu kembali ke wajahnya. Ayunan cangkulnya pun semakin intens.

Secepat matahari tenggelam di ujung cakrawala, cerah itu tak ada lagi ketika Julian melihat apa yang dihadapinya. “Jemarinya tak lentik dan kukunya tak sama panjang. Jemarinya tak lentik dan kukunya tak sama panjang. Jemarinya tak lentik dan kukunya tak sama panjang.”

Ia melompat dengan gusar. Meninggalkan begitu saja lubang galian beserta peralatannya. Sambil berjalan cepat dengan kepal tangan yang mengeras, air matanya menderas. “Tak ada, Sayang. Tak ada yang seperti kamu. Harus kugali berapa banyak lagi? Berapa?!”

Di kepala Julian, membayang tubuh kaku kekasihnya di ruang bawah tanah, menunggu bulu mata, jemari serta kuku masa mudanya dulu.

***

 

*) Ditulis untuk Prompt #68: Judul LaguMonday Flash Fiction

**) Judul lagu dan fiksimini terpilih adalah milik Risa Nuraini, sbb:

SOMEONE LIKE YOU. Kutelusuri setiap nisan, kutemui penghuninya. Namun tak ada yang sepertimu.

Advertisements

2 thoughts on “Someone Like You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s