Es Krim

sundaes-su-653506-l

 

Di dunia yang aku jalani, tak ada es krim. Tetapi di dunia luar sana, aku melihat anak-anak lain membawanya, menjilatnya dengan lidah merah muda mereka hingga gunungan es krim itu habis. Mereka kerap menggoda, memain-mainkan lidah dengan sengaja di depanku.

“Siri, Siri. Kami punya es krim. Yeyeye…” Kata mereka sambil mengetukkan jari ke jendela kamarku –kamarku berbatasan langsung dengan jalanan.

Aku tak tersenyum melihat kelakuan mereka meski itu lucu, tetapi aku pun tak perlu menangis. Barangkali ketika ulang tahunku nanti, Mama akan membelikanku es krim. Mama selalu tahu yang terbaik untukku. Suatu hari nanti, semangkuk es krim seperti yang ada di tangan mereka, akan kuhabiskan dalam sekali telan. Membayangkan saat-saat seperti itu membuatku tersenyum. Tetapi mereka, ketika melihatku tersenyum, malah menganggapnya sebagai hinaan. Mereka menggodaku lagi, kali ini disertai bunyi kecipak bibir lalu diakhiri dengan bunyi ‘aahh’ tanda nikmat.

Sial, kutukku dalam hati. Seandainya aku ada di sana saat ini, tangan dan kaki mereka pasti telah aku remukkan.

Kriuttt..

Pintu kamarku terbuka, “Saatnya makan, Siri.” Mama meletakkan nampan yang dibawanya di meja dekat pintu. Lalu berjalan menujuku, menunduk dan membuka gembok di pasung kaki dan tanganku.

“Es krimku mana, Ma?” Bisikku pelan. Pelan sekali.

***

 

*) Ditulis untuk Prompt #59: Sundae Monday Flash Fiction

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s