24 x 60 x 60

Aku bersandar pada bingkai pintu kamar Ruli dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Ruli belum lama bangun tetapi ia sudah terlihat sibuk dengan rutinitasnya. Ini kali ketiga, dari gelas besar yang dipakai untuk meletakkan alat-alat tulis, Ruli mengambil penggaris. Mengukur panjang, lebar, dan tinggi kotak kardus yang ia tarik keluar dari bawah meja belajar.

“24 x 60 x 60.”

Ruli mendorong kotak kardus tersebut kembali ke bawah meja belajar. Meletakkan penggaris. Beranjak ke rak buku di sisi kamar yang lain. Diperhatikannya beberapa buku bersampul merah. Lalu ia sedikit menunduk di bagian rak berisi buku-buku bersampul hijau. Tangannya baru akan menyentuh salah satu buku sebelum ia diam. Seperti patung. Aku tak bisa melihat ke arah mana matanya memandang karena ia berdiri membelakangiku. Ruli berbalik. Kedua tangannya bergerak-gerak seperti gemetar. Wajahnya khawatir. Dengan gerakan lambat tapi pasti, ditariknya lagi kotak kardus dari bawah meja belajar. Diambilnya lagi penggaris dari gelas besar di atas meja. Diukurnya lagi panjang, lebar, dan tinggi kotak kardus tersebut.

“24 x 60 x 60.”

Lalu ia kembali mendekati rak bukunya.

Kegiatan ini akan berlangsung sampai petang. Berhenti untuk sebentar saja. Karena setelah mandi, makan malam, dan merapikan beberapa barang di bagian rumah yang lain selain kamarnya–yang ini ia lakukan berkali-kali pula–Ruli akan kembali menyibukkan diri dengan penggaris dan kardus kesayangannya. Sebelum tidur, ia akan menyusun kembali buku-buku di rak bukunya. Dan ia meletakkan 39 buku di atas meja untuk dimasukkan ke dalam kardus yang ia ukur berkali-kali itu.

Keesokan paginya, Ruli akan seperti lupa pada rencananya untuk memasukkan buku-buku tersebut ke dalam kardus, karena ia lebih sibuk mengukur kardusnya lagi, memastikan bahwa kardus tersebut masih berukuran 24 x 60 x 60.

“24 x 60 x 60.”

Dan sembari ia melakukan segala kegiatannya, Ruli tak pernah peduli padaku. Lalu bagaimana? Aku jadi ingat kalimat terakhir Rina, istriku, sesaat setelah ia melahirkan Ruli–sesaat setelah itu ia mati. Aku bilang, “Kenapa kamu tidak mau jujur, Rin? Jujur mengatakan kalau Ruli bukanlah anak kandungku.”

You won’t understand, Mas.”

Barangkali yang ada di kepala Rina, juga ada di kepala Ruli. Bahwa aku tak akan mengerti. Dan orang yang dianggap tak akan mengerti, tak perlu diajak bicara.

“Kamu sudah mengukur kardus itu berkali-kali berhari-hari, Nak.”

Aku tak tahan. Ruli diam.

“Ukurannya tidak akan berubah, jadi kamu tak perlu terus-terusan mengukurnya.” Aku menunduk. Malu. Merasa kalah oleh seorang anak yang bahkan belum fasih berkata-kata. Bisa kudengar Ruli masih sibuk dengan kegiatannya. Aku memutuskan untuk menjauh. Sambil memikirkan apa yang bisa aku lakukan untuk menarik perhatian Ruli.

Ah, tentu saja!

Lalu kuambil barang-barang dan meletakkan barang-barang itu tidak pada tempatnya.

***

Flashfiction ini diikutsertakan dalam Tantangan Menulis FlashFiction – Tentang Kita Blog Tour

 

Advertisements

3 thoughts on “24 x 60 x 60

  1. Attar Arya says:

    Sepertinya memang tentang anak autis yang asyik dengan dunianya sendiri… | Cerita istrinya tokoh yang -mungkin- berselingkuh sedikit membingungkan. Kalimat si istri seolah ditujukan juga buatku : Aku nggak bakal mengerti (kalau nggak dijelaskan).
    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s