Jus Stroberi di Gelas Besar

“Orang yang tak percaya surga, harus merevisi kata-katanya!” Aku berkacak pinggang dan berdecak kagum pada pemandangan di hadapanku. Awak kapal melemparkan jangkar meskipun kapal kami masih cukup jauh dari pantai. Lalu beberapa perahu kecil mendekat dan menawarkan jasa untuk mengantarkan kami ke pantai.

“Juga orang yang tak suka jus stroberi.”

Aku menoleh ke arah Anya, mengernyitkan dahi. “Apa hubungan antara surga dan jus stroberi?”

Anya melompat ke perahu kecil terdekat, aku mengikutinya. Di pantai, sahabatku itu langsung meraup pasir basah yang baru diserbu ombak. Butiran pasir putih berseling butir pasir berwarna merah membuat kami mengerti mengapa pantai ini disebut pink beach.

“Jus stroberi juga mirip ini, ada bintik-bintik merahnya.” Katanya penuh gelak.

“Aku rasa itu hanya karena kamu terlalu terobsesi dengan jus stroberi.”

Sahabatku yang satu ini memang maniak jus stroberi. Setiap hari, setiap pagi, di atas meja kerjanya akan tersedia segelas jus stroberi. Ia melatih secara khusus office boy yang bertugas di ruangan kami.

“Delapan butir stroberi, tiga sendok makan susu kental manis, dua sendok teh gula pasir, es batu, dan sedikit air putih.”

Aku membayangkan lagi bagaimana Anya menerangkan komposisi jus stroberi yang ia sukai, sambil menyerahkan sebuah gelas kaca. Sebuah gelas besar dengan tangkai melingkar.

“Nih. Jus stroberi buat kamu.” Aku menyodorkan jus stroberi dalam kemasan, produk sebuah merk minuman terkenal. Anya menerimanya setelah mengucapkan terima kasih. Aku mengambil satu kotak lagi dari dalam tas untuk diriku sendiri.

“Jus stroberi seperti ini…” katanya setelah sesapan pertama. “Jus stroberi seperti ini mirip pantai Kuta di Bali.”

Aku diam. Menunggu penjelasan.

“Bikin pening.” Lanjutnya.

Hening. Anya menyesap jusnya sekali lagi.

“Kita pernah ke Kuta bareng, kan? Kamu lihat nggak betapa banyaknya pengunjung pantai itu. Semakin ramai suatu tempat wisata, semakin kita tidak bisa menikmati. Ya itu. Sama seperti jus stroberi ini. Tidak fresh. Bikin pening.”

Kalau orang lain yang mendengar kata-kata Anya, pasti akan mengira bahwa Anya adalah tipe orang yang tidak menghargai niat baik seseorang. Memang tidak ada yang memintaku membawa jus stroberi dalam kemasan. Perlakuan seperti ini hanya merupakan ucapan terima kasih yang tak seberapa dibandingkan kebaikan Anya yang tiba-tiba mengajakku berwisata.

“Dan pilihanmu untuk traveling bukan ke Bali, sangat tepat.” Katanya lagi.

Rasanya ingin menepuk dada karena mendapat pujian dari Anya. Alasannya sederhana saja. Anya tidak mudah memuji, meski kepada teman sendiri.

“Kamu mengajakku kali ini mendadak sekali. Aku bahkan masih bertanya-tanya apa yang kamu bilang ke Pram sehingga ia mengizinkan kita berdua cuti pada saat yang bersamaan. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar kantor tanpa keberadaan kita berdua, ya? Si duo perusuh. Hanya kamu, sih, yang perusuh. Aku lebih cocok sebagai pemberes kekacauan yang kamu buat.”

Anya mencibir ledekanku, tetapi dia bilang. “Mendadak, tapi kamu memilih tempat yang tepat.”

“Aku hanya ingat satu pesan kamu yang satu itu. Jangan Bali.”

“Pokoknya pilihan kamu tepat.” Anya menjatuhkan pasir yang ia mainkan di tangannya lalu merangkul bahuku dengan satu tangannya.

“Mabuk laut selama beberapa hari ini kamu anggap tepat juga?” Aku tertawa. Kalau ada satu hal yang membuat aku merasa tak enak tentang perjalanan ini, itu adalah karena aku tak ingat bahwa Anya tak tahan perjalanan laut. Yang ada di kepalaku ketika memesan paket perjalanan ini, adalah membawa Anya ke tempat yang baru. Tempat yang jauh dari bangunan modern tempat kami berkutat setiap harinya. Tempat yang ketika kami menghirup udara, kami tidak menghirup serta bau asap kendaraan dan debu. Tempat yang ketika kami membuka mata, yang kami lihat adalah …. alam. Semesta yang sebenarnya.

“Mabuk laut masih bisa dimaafkan. Karena aku suka merasakan hal-hal baru. Kemarin ketika kita merapat di Gili Laba. Aku merasa kita sedang berada di suatu tempat di luar negeri. Kering, tandus, tak seperti gambaran tentang Indonesia yang biru karena lautnya, atau hijau karena hutannya.”

But this is Indonesia.”

That’s why, aku bilang pilihan kamu tepat.”

Anya menceritakan lagi kisah mengenai perjalanan-perjalanannya yang dulu-dulu. Seringnya wisata kota. Berpindah dari mall ke mall, berbelanja di pasar modern, makan di restoran mewah. Sendirian. Karena, siapa mau mencibir orang kaya yang berwisata sendirian? Kalaupun ada, mereka adalah barisan orang-orang sirik yang ingin merasakan fasilitas seperti yang didapat Anya, atau barisan orang-orang sirik yang ingin memiliki keberanian seperti yang dimiliki Anya.

“Kalau begitu, wisata kita berikutnya akan ke tempat-tempat seperti ini.”

“Ke mana pun. Asal tetap memenuhi syarat utama.”

“Tidak bikin pening.”

“Seperti Kuta.” Anya menegaskan.

“Atau jus stroberi yang tidak fresh. Haha..”

Tawa kami terdengar bahagia. Lirikan orang-orang mengemuka. Sementara perahu yang kami sewa, lengkap dengan kapten yang merangkap sebagai koki dan pemandu wisata, berayun pelan mengikuti ayunan ombak.

*

“Saya berterima kasih pada tawaran kamu Pram, tetapi kalau memungkinkan, saya mohon waktu sejenak untuk memikirkannya baik-baik. Saya berharap tidak mengambil keputusan yang salah.”

Begitu saja. Lalu Pram memberiku cuti selama seminggu. Aku meminta cuti yang sama diberikan juga untuk Dew. Begitu saja. Lalu Pram memberi kami berdua cuti selama seminggu dan di sinilah kami saat ini. Pekerjaan yang kami tinggalkan, segera diambil alih oleh Susi. Ah, barangkali aku takkan pernah mengerjakan pekerjaan itu lagi karena jika aku menerima tawaran Pram untuk naik pangkat, maka aku akan pindah ke lantai 12 dan mengurusi jenis pekerjaan yang baru.

Naik pangkat. Ah, seandainya aku dan Dew tidak bekerja pada kantor yang sama, maka sudah pasti aku akan mengatakan ya pada kesempatan pertama. Atau seandainya Dew tidak mengincar posisi yang sama.

Bagaimana caraku menjelaskan kepada Dew mengenai tawaran ini? Karena kau baru bisa bekerja dengan tenang bersama sahabatmu hanya ketika kalian berada pada level yang sama. Barangkali karena merasa sepenanggungan. Lalu ketika salah satu mendapat tawaran naik pangkat, apalagi kemudian menerimanya, maka yang lain akan merasa dikhianati. Padahal salah siapa? Apa aku harus menyalahkan orangtuaku karena mereka dan Pram berteman baik?

Beberapa kali Dew menanyakan kedekatan hubungan keluargaku dengan Pram dan beberapa pejabat lain di perusahaan tempat kami bekerja. Juga menanyakan mengapa aku tidak langsung ditunjuk sebagai manajer atau direktur karena hubungan baik tersebut. Aku bilang, aku bahkan menolak bekerja di perusahaan ini pada mulanya. Dew mengangguk-anggukkan kepala dan setelah cerita-cerita lain, dia bilang tak apa-apa jika suatu hari aku ditunjuk untuk menempati posisi tertentu dan meninggalkan dia tetap sebagai seorang staf. Tapi kita semua tahu, selalu ada apa-apa dibalik tak apa-apa.

Dew memang memiliki perasaan yang sensitif, aku harus memilih kata-kata yang tepat agar tidak melukai perasaannya. Barangkali sifat sensitif itulah yang membuat dia menjadi penulis yang baik. Selain bekerja di perusahaan yang sekarang, ia juga menulis kolom di sebuah majalah. Dan aku suka cara Dew memotret kejadian-kejadian sederhana ke dalam kata-kata yang luar biasa.

Sementara itu, aku lebih blak-blakan. Lebih to the point dan senantiasa mengutarakan apa yang ada di kepalaku. Tapi lama-lama aku sadar, Dew membuatku belajar. Bahwa untuk mengutarakan pendapat yang bertentangan, tidak harus dengan cara-cara yang terkesan mengintimidasi. Barangkali ini juga yang membuat aku selalu menjadi pihak yang menyesuaikan diri. You don’t mess with sensitive people. Hehe..

Tidak, aku tidak sedang berbicara hal yang buruk mengenai sahabatku. Bagaimanapun juga, aku menyayangi Dew. Dia adalah satu-satunya sahabat yang masih ada ketika teman-temanku yang lain mulai sibuk dengan kehidupan barunya setelah menikah.

“Anya.”

Dew menepuk bahuku. Membuat aku kehilangan gambaran tentang bagaimana kami bertemu pertama kali, karena tahu-tahu kami akrab dengan cepat. Jodoh, yang orang pikir selalu identik dengan suami/istri sampai mati, bagiku juga identik dengan orang-orang yang ada di sekitar kita pada satu waktu tertentu. Dan bila Tuhan memang hanya memberikan satu jodoh untuk satu orang, maka Dew sudah pasti adalah jodohku saat ini.

Tapi aku tahu Tuhan tidak sepelit itu.

“Kenapa?”

“Tuh.” Dew menunjuk ke arah kapal dan dari kejauhan aku lihat kapten kapal kami menunjuk ke arah jam tangannya. Artinya kami sudah harus kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan.

“Aaahh…” Aku sedikit mengeluh. Rasanya belum lama kami di sini. Dan aku baru saja berpindah dari bawah pohon ke pinggir pantai untuk berjemur karena matahari sudah beranjak turun.

Dengan malas aku membenarkan letak kacamata hitamku dan menyambar tas kecil di belakang kami. Butiran pasir putih di pantai ini masih diselingi butir pasir merah. Seperti biji stroberi yang tak hancur ketika diblender sehalus apapun. Kaki kami menyentuh air laut yang dingin meski sinar matahari masih terasa hangat. Seorang awak perahu kecil membantu kami naik, mengantar kami menuju kapal di tengah laut. Jangkar tak boleh sampai merusak pantai dan terumbu karang, kata mereka. Aku mengerti dan tak keberatan. Empat hari di atas perahu, mendengar cerita mengenai berbagai tempat, merapat ke berbagai pulau, berjemur di banyak pantai, snorkeling, dan bermain dengan ikan-ikan, membuat aku memahami mengapa seorang pelancong harus turut menjaga tempat wisata yang mereka kunjungi.

Bahkan aku tak akan keberatan jika kami harus tidur di atas perahu agar tak perlu melempar jangkar untuk mencari penginapan di darat. Aku akan dengan senang hati menghabiskan malam di tengah laut, tidur telentang di ujung kapal, melipat kedua tangan di belakang kepala, menghitung bintang sampai hitungan yang aku lupa keberapa dan mengulang lagi dari awal dengan senang hati. Rasanya tak ingin wisata ini segera berakhir.

*

Aku tak tahu berapa lama Anya menyimpan kabar ini hingga ia mengakui semuanya segera setelah kami menginjakkan kaki di bandara di Jakarta. Aku kecewa, tentu saja. Aku tak ingin menemui Anya, kalau bisa untuk selamanya. Beberapa kali, Anya mencariku di lantai sembilan tetapi ia tak pernah berani lebih dekat dari pintu ruanganku.

*

Di lantai dua belas, orang-orang bekerja terlalu keras, terlalu serius. Aku merindukan suasana santai di lantai sembilan. Tapi aku tak bisa pergi ke sana. Dinding itu masih berdiri kokoh. Dan aku tak tahu dari mana aku mulai mencungkil dinding itu hingga roboh.

Hal ini jugalah yang membuat aku malas menginjakkan kaki di ruanganku yang baru. Satu minggu tetapi rasanya seperti satu tahun. You don’t mess with bestfriend for too long. Aku menggumamkan kalimat itu berulang kali, berharap Dew mendengarkan itu. Aku mengempaskan diri di kursi dan menyambar gelas besar bertangkai melingkar. Ada yang berbeda dengan jus stroberiku pagi ini. Aku menegakkan punggung, menarik kartu ucapan yang terselip di bawah gelasku. Ada gambar senyum di sana dan ketika aku mendongak, Dew sudah berdiri di pintu ruanganku. Dengan senyum yang sama dengan yang tergambar di kartu itu.

You don’t mess with your bestfriend for too long, katanya.

***

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .

Advertisements

4 thoughts on “Jus Stroberi di Gelas Besar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s