Menulis Berantai #TimMoveOn #4 – LIFTED UP

 *
Sebelumnya:
LIFTED UP #1 : Abduraafi Adrian (@raafian) – [LIFTED UP 1]
LIFTED UP #2 : Bimo Rafandha (@bimorafandha) – [LIFTED UP 2]
LIFTED UP #3 : Andhika Citra (@andhkctra) – [LIFTED UP 3]
*

*

Aku mengantar Luna hingga ke pintu gerbang rumahnya. Kami tidak banyak bicara selama perjalanan tadi. Luna menjadi pendiam, aku juga. Begitu ia menghilang di balik pagar, segera kulajukan kendaraanku pulang.

“Luna, kamu mau jadi pacarku?” Kejadian tadi kembali berputar di otakku.

”Nggak.” Luna menjawab cepat. Seperti tanpa berpikir. Seolah sudah menunggu-nunggu aku menanyakannya dan itulah jawaban yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari.

“Kenapa?”

“Karena kamu nggak benar-benar menginginkan aku, Fi.”

Aku menunduk, diam menunggu penjelasannya.

“Dari cerita-cerita kamu tentang kekasihmu itu, aku bisa merasa kalau kamu belum bisa melupakan dia. Jangankan melupakan, kamu bahkan belum bisa memaafkan dia.”

“A-aku…”

“Kamu tahu, untuk bisa melupakan, kamu harus memaafkan dia terlebih dahulu. Kalau nggak, kamu nggak akan bisa move on.”

Luna diam. Aku mendongak pelan untuk menatapnya.

“Atau jangan-jangan, bukan memaafkan dia, tetapi memaafkan diri kamu sendiri.”

Deg!

Kata-kata Luna sama seperti tatapan matanya. Menusuk. Ada rasa sakit yang justru membuatku sadar bahwa kata-kata Luna benar.

Aku harus bisa memaafkan terlebih dahulu sebelum melupakan.

*

Setelah pembicaraan itu, selama beberapa hari ini aku menghindari Luna di kantor. Kejadian itu masih mengusikku, membuatku merasakan perasaan aneh. Lega dan bersalah pada saat yang bersamaan. Lega karena Luna menolak menjadi kekasihku—karena sejujurnya aku belum siap menjalani hubungan baru dengan Tiffany yang masih sering bermain-main di kepalaku. Bersalah karena Luna benar bahwa aku hanya menganggap dia sebagai pelarian.

Aku lebih memilih untuk makan siang di kantin gedung sebelah daripada memperbesar kemungkinan bertemu Luna di tempat kami biasa makan siang. Meskipun begitu, pesan dari Luna masih terus berdatangan. Mulai dari mengingatkan makan siang, mengingatkan agar hati-hati ketika pulang malam, atau sekadar mengatakan halo.

Bukannya aku membenci Luna karena mengatakan hal yang benar meskipun menyakitkan. Tetapi aku rasa aku perlu waktu untuk sendiri. Untuk berpikir. Dan memutuskan jalan mana yang akan aku tempuh. Membiarkan Tiffany dengan kehidupan barunya sementara luka masih ada di dadaku sambil berharap waktu yang menyembuhkan. Atau memberanikan diri untuk bertemu Tiffany dengan risiko terbawa emosi lalu Tiffany melihatku terluka lalu menertawaiku. Harga diriku…

“Kamu nggak bisa terus-terusan sembunyi. Berpikir nggak harus sendirian.” Pesan dari Luna masuk lagi.

“Kita tetap berteman, kan?” Katanya lagi beberapa waktu kemudian.

“Kalau perlu apa-apa, jangan ragu untuk hubungi aku.”

Pesan terakhir masuk ketika aku sedang duduk menghilangkan penat setelah lembur. Malam ini juga aku telah memutuskan sesuatu. Aku memilih garden-bistro yang sama dengan tempat aku mengajak Luna makan malam waktu itu. Tempat aku melihat Tiffany dan Gilang makan malam berdua. Dengan bahagia. Setelah sekian lama.

Aku memainkan ponsel sembari menunggu pesananku tiba. Berulang kali meyakinkan hati ini untuk siap dengan langkah yang akan kuambil selanjutnya. Nomor itu masih tersimpan dengan nama yang sama dan aku berharap ia tidak mengganti nomor ponselnya—yang aku pilihkan—hanya karena kini kami tak lagi berdua. Aku menekan tombol ‘panggil’. Bersamaan dengan itu, jus alpukat pesananku tiba.

“Halo.” Suara itu.

“A-ada yang mau aku omongin sama kamu.”

“Ra—Raafi?” Suara Tiffany masih seperti lagu nina bobo di telingaku.

 

*

 

Simak kelanjutan Lifted Up #5 oleh Mirna Andriani (@Mirnasisiemon) di Aineblume.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s