#NulisRandom2015 – Mental

Hal lain yang saya kagumi dari Maria adalah semangatnya dalam banyak hal. Salah satunya dalam hal belajar. Dulu, bisnisnya hanya melibatkan orang lokal, tetapi beberapa bulan belakangan ini dia mulai memikirkan untuk mengembangkan bisnisnya. Melibatkan orang-orang asing untuk diajak bekerja sama. Dan ini memotivasi Maria untuk memanggil guru privat bahasa Inggris.

Kemarin, saya mendatangi Maria di rumahnya dan mendapati dia sedang menikmati sore dengan santai. Sebuah buku di tangan kanan sementara tangan kirinya sedang memegang secangkir kopi, sedikit lagi bibir cangkir akan menyentuh bibirnya.

“Wow, kamu baca novel berbahasa Inggris. Kalau saya, mana mungkin mengerti (isi bukunya).” Saya mengintip dari balik punggungnya.

“Aduh, baru datang sudah menunjukkan mental pecundang.”

Saya kaget. Sudah lama Maria tidak menggunakan kata yang keras. Tegas. Dia kemudian menurunkan kakinya dari meja kecil di depannya dan meletakkan cangkir kopinya di meja yang memisahkan kursi kami.

“Bagaimana bisa ketidakmengertian akan buku berbahasa Inggris menjadikan saya pecundang?”

Maria menutup bukunya dan melihat saya.

“Bukan tentang kamu tidak bisa membaca buku berbahasa Inggris, tapi cara kamu merendahkan diri sendiri di kalimat tadi.”

Dalam hati saya mengulangi mengucapkan kalimat tadi.

“Kebanyakan orang berhasil karena punya mental juara. Bukannya sedikit-sedikit merasa diri tidak mampu.”

Saya terdiam.

“Coba besok-besok, ketika datang kemari dan mendapati saya sedang membaca buku ini, kamu akan bilang apa?”

Saya menjawab dengan takut-takut, “Waah, baca buku berbahasa Inggris. Saya juga pengin bisa tapi rasanya belum mampu.”

“Lumayan. Ada peningkatan. Ada harapan. Tinggal usahanya saja.”

Maria tersenyum. Saya juga.

“Kalau sudah punya mental juara, jangan takut sama situasi buruk di luaran sana. Mau harga-harga melonjak atau jalanan semakin macet. Kritik, protes, boleh. Tapi jangan merendahkan diri dengan merasa tak mampu melewati situasi seperti itu. Pantang.”

Maria menepuk bahu saya. Dan sentuhan itu sempat membuat saya merasa kasihan pada diri sendiri karena kerap merendahkan diri. Lalu saya teringat orang-orang mengeluh di sekitar saya, mendadak saya merasa kasihan pada mereka. Lama-lama rasa kasihan itu menjadi rasa cemas. Kalau isi kepala mereka mewakili isi kepala sebagian besar rakyat Indonesia, barangkali situasi buruk ini (lengkap dengan keluhan orang-orang) merupakan hasil dari mental pecundang yang mereka pertahankan dalam kepala.

***

Advertisements

One thought on “#NulisRandom2015 – Mental

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s