#NulisRandom2015 – Media Sosial

Setelah lama tidak aktif di Facebook, akhirnya saya mulai aktif lagi sekitar bulan Maret kemarin. Buat apa? Buat promosi 4 Musim Cinta. Haha..

  
Dan, ternyata Facebook banyak berubah ya … tampilannya. Kalau orang-orangnya, sih, masih sama.

Berhubung ini postingan sembarang, maka pikiran sembarang datang dalam bentuk pertanyaan. Apakah ada yang merasa–selain saya tentunya–kalau di Facebook kita ‘dipaksa’ berteman? Kalau ada orang yang meminta berteman dengan saya dan saya tidak mau, bagaimana? Kan semacam bertepuk sebelah tangan.

Lalu, setelah pertemanan yang ‘terpaksa’ itu, kita lagi-lagi ‘dipaksa’ membaca apa yang mereka sampaikan. Pujian, makian, pesimisme, optimisme, sindiran, prestasi, pamer, dan sebagainya. Ya bagus kalau kita memang tertarik untuk tahu tentang hidup mereka. Kalau tidak?

Berapa banyak dari kita yang ngedumel sendiri ketika buka Facebook dan membaca yang tidak kita inginkan? Kabar gembira untuk kalian, sekarang ada tombol follow/unfollow.

Di Twitter juga kurang lebih sama. Meski kita bisa memilih ‘membaca’ siapa, informasi apa yang ingin kita dapatkan, tetapi pasti ada kalanya orang yang kita follow sedang berakting menyebalkan.

Bicara tentang memilih orang untuk di-follow, di Twitter barangkali peribahasa ‘you are what you eat‘ sekarang bergeser menjadi ‘you are who you follow‘. Apakah kamu adalah orang yang kocak atau justru butuh hiburan? Apakah kamu adalah orang yang bersemangat atau justru butuh motivasi? Apakah kamu adalah orang yang banyak teman atau justru butuh menjalin pertemanan? Apakah kamu orang yang senang berbagi atau justru butuh berita terbaru? Atau gabungan semuanya? Bisa jadi.

‘Hidup’ di dunia maya alias media sosial, bisa terasa lingkungannya berdasarkan apa yang kita baca melalui siapa yang kita follow. Lingkungan yang panas, dingin, ramai, sepi, penuh gunjingan atau jadi ajang pamer makanan dan tempat-tempat nongkrong. Mau stres atau kesal atau tertawa atau damai. Silakan pilih.

Itu awal-awal saya Twitter-an. Semakin ke sini, saya memilih menjadikan Twitter sebagai media untuk menjaga semangat menulis. Follow akun penerbit, dan senangnya bertemu banyak orang yang juga punya hobi sama.

Lalu, muncul Instagram. Awalnya malas bikin akun di Instagram karena buat apa? Terlalu banyak media sosial bikin bingung. Bingung mau berbagi informasi apa di media sosial yang mana. Curhat, di Facebook pun sudah cukup. Lebih dari cukup malah. Karakter tidak dibatasi. Bahkan curhat berbentuk cerpen sepanjang 1.500 kata pun bisa di (kolom) update status di Facebook. Pamer foto, apalagi. Di Facebook, semua foto saya adalah untuk pamer. Di Twitter juga bisa twitpic.

Tapi lama kelamaan, tergoda juga untuk bikin akun di Instagram. Hehe.. Sebelum buat akun dan unggah foto pertama, tentukan tema dulu. Tidak ingin akun Instagram berisi foto-foto keseharian karena, sekali lagi, sudah ada Facebook dan Twitter untuk itu. Saya putuskan, mengisi akun Instagram dengan hal-hal terkait buku. Sampai sekarang, sih, akun Instagram saya berisi hanya kutipan buku. Entah nanti. Kalaupun beragam, semoga tetap konsisten isinya tentang buku.

Well, setelah semua media sosial itu, sampai sekarang, saya sama sekali belum tertarik bikin akun di Path. Entah kenapa. Nah, coba yang pakai Path, apa kelebihan Path dibandingkan media sosial lainnya? Coba pengaruhi saya. Coba. 😀

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s