Pelajaran Pertama Tentang Perempuan

Aku menemukan satu buket mawar merah di atas meja kayu di beranda rumah, dan pikiranku langsung tertuju pada laki-laki bertubuh tegap dengan tatapan mata seteduh langit pukul 6.30 pagi. Kamu, tentu saja. Seandainya kamu menyerahkan bunga ini secara langsung, dengan senyummu yang bagiku kaku tapi lucu, kamu akan berkata. “Mawar yang cantik untuk perempuan tercantik.”

Kamu masih tidak romantis, tentu saja. Dan sekadar mengingatkan, bahwa kata-kata itu tidak datang dari inisiatifmu, melainkan aku. Dua bulan sejak kita memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, tak sengaja aku menyeletuk karena sebuah adegan ketika kita menonton film drama pilihanku, “Sudah lama, nih, aku tak merasakan diberi bunga.”

Itu bukan sengaja.  Sungguh. Kalimat itu terucapkan begitu saja. Meski orang bilang yang terucapkan secara tak sengaja adalah sebenar-benarnya isi hati, tapi untuk yang satu itu aku berani bertaruh tak ada keinginanku untuk membuatmu melakukan apa yang aku katakan. Dan ketika kamu datang dengan satu buket bunga mawar di tangan, mengenakan kemejamu yang paling aku suka, pada malam ketika bulan  bulat sempurna dan bintang-bintang sewarna perak, mau tak mau aku merasa malu. Terima kasih, ya.

“Ini pasti gara-gara celetukanku, ya.” Kataku ketika itu.

“Sejujurnya, iya.” Kamu menunduk, menyembunyikan senyum kaku yang aku suka itu.

“Cuma bunga, nih? Nggak ada kata-kata apa gitu?” Dasar perempuan yang tak pernah merasa puas. Aku tertawa dalam hati. Gemar membuatmu kikuk.

“Kamu mau apa?”

“Kata-kata romantis apa gitu.”

Kamu diam, tentu saja. Setelah aku mengajarimu bagaimana caranya mendekati perempuan—yang kemudian malah kamu praktikkan padaku, aku juga harus mulai mengajarimu bagaimana membuat perempuan merasa tersanjung dan diperhatikan. Dan entah aku yang terlalu pandai mengajari atau kamu yang terlalu tekun belajar. Kata-kata yang aku ucapkan sebagai candaan, kamu anggap sebaliknya. Aku bisa membayangkan ketika kamu mendatangi toko bunga dan tergagap mengatakan hendak membeli satu buket bunga. Apa kamu bertanya pada mereka mengenai bunga apa yang cocok untuk diberikan kepada kekasihmu? Kalau iya, pastinya mereka bertanya lebih lanjut. Misalnya, tentang apakah kamu sedang merayakan momen tertentu bersama kekasihmu. Kamu akan menjawab dengan gelengan kepala. Dan untuk menghindari mereka mengajukan pertanyaan lain—karena kamu pasti tak tahu harus menjawab apa, kamu menyebut ‘mawar’ dengan cepat. Bunga sejuta umat.

“Mawar yang cantik untuk perempuan tercantik.” Kataku.

Kamu menatapku dengan kening berkerut. Secangkir kopi sudah tersaji di antara kita, di meja kayu yang memisahkan dua kursi di beranda rumah ini. Aromanya sejenak mengalahkan aroma parfummu yang aku cium ketika kamu mengecup pipiku.

“Itu kata-kata yang perempuan suka. Agak terdengar gombal, sih. Tetapi perempuan suka juga digombali sesekali. Tugasmu adalah belajar mengucapkannya dengan tulus.”

Selalu ada yang pertama kali untuk segala hal, dan kamu berhasil melewati pertama kalinya memberiku bunga. Pantas dirayakan. Karena setiap keberhasilan, sekecil apa pun, harus dirayakan. Apa yang ingin kamu lakukan sebagai perayaan? Aku akan menemani apa pun yang kamu mau. Asal jangan mengajakku duduk berjam-jam di perpustakaan untuk membaca. Kamu tahu, aku tak tahan berada di perpustakaan. Aku membaca sesekali, tetapi tak pernah di perpustakaan. Lagipula, apa sih yang menarik dari perpustakaan? Kuno. Lebih baik mengambil tikar, menyiapkan bekal, lalu pergi ke taman kota, danau atau pantai. Membaca akan terasa lebih menyenangkan bila dilakukan di luar ruangan.

Ternyata kamu mengajakku makan malam. Syukurlah. Makan malam jauh lebih baik daripada membaca, di luar ruangan sekalipun.

“Mau makan apa?”

“Terserah.”

“Apa yang harus laki-laki lakukan ketika perempuannya menjawab ‘terserah’?”

Aku hendak marah karena menganggapmu tak peka. Tetapi melihat wajah seriusmu, aku menyadari bahwa kamu hendak belajar satu hal lagi tentang perempuan. Untuk mata pelajaran yang ini, aku menyerah. Jangankan laki-laki, perempuan yang sering mengatakan terserah terkadang tak tahu apa yang ia maksud dengan itu. Barangkali terserah adalah sahabat karib perempuan. Sahabat karib, sahabat baik. Terserah bisa digunakan untuk menutupi keraguan yang ada pada perempuan, sekaligus sebagai ajang untuk menguji pasangannya. Menguji apa? Entahlah. Di lain waktu, terserah bisa digunakan untuk mencari gara-gara. Kamu harus tahu, perempuan juga suka cari gara-gara.

“Ketika perempuan menjawab dengan terserah, sebenarnya ia sudah memiliki beberapa pilihan. Tugas laki-laki adalah menebak pilihan-pilihan tersebut lalu memutuskan satu di antaranya.”

Kamu menggumam.

“Tenang saja, sangat sedikit laki-laki yang bisa memutuskan dengan benar.”

“Jadi?”

“Jadi terima saja apa yang akan terjadi setelah kata terserah.”

Kamu mendesah. “Jadi, malam ini kamu mau makan apa?”

Giliranku mendesah. Baiklah.

“Udang bakar madu di Seafood Hall.”

*

Setelah buket bunga mawar pertama itu, aku menerima beberapa buket lagi di kemudian hari. Apabila kamu memberikannya secara langsung, kalimat itu tak pernah lupa terucap.

“Mawar yang cantik untuk perempuan tercantik.”

Awalnya memang terdengar agak kaku, tapi lama kelamaan tidak lagi. Entah karena terbiasa, entah hanya ingin membuatku bahagia. Tapi kali lain ketika kamu menyerahkannya melalui tangan orang lain, seperti hari ini, aku toh tersenyum juga membaca kalimat itu pada sebuah kartu. Tulisan tanganmu sendiri. Sembari membayangkan kamu ketika menuliskannya. Barangkali jemari itu gemetar karena takut salah menulis namaku, atau takut kebohonganmu akan terbaca karena untuk sekali ini kamu sedang tidak mood mengatakannya. Atau apakah kamu justru lebih nyaman mengungkapkannya melalui tulisan? Untuk yang terakhir, aku benar-benar harus mencari tahu.

Tetapi dari semua hal romantis yang kamu pelajari dan akhirnya kamu lakukan, tetap saja yang lebih romantis adalah tindakan-tindakan spontan. Setidaknya, aku tak pernah ingat mengajarimu hal-hal tertentu. Misalnya, datang ke pikiranku tiba-tiba, mengucapkan rindu pada waktu sembarang, tersenyum pada setiap leluconku, menatapku dengan serius ketika aku bercerita, menjemputku di bandara atau stasiun lalu memelukku pada kesempatan pertama—aku bisa merasakan tatapan orang-orang yang tidak terbiasa melihat kemesraan semacam itu dan selalu kukatakan dalam hati bahwa sebenarnya mereka pun ingin diperlakukan sama.

Ada banyak hal baru yang kamu tahu, dan ada banyak hal lain yang kamu lakukan tanpa tahu bahwa itu adalah tindakan yang baik. Sesekali perbuatanmu membuatku merenung mengapa hal-hal itu tak pernah terpikirkan olehku. Setiap kali kamu membuatku merasa nyaman, aku bersyukur sekaligus  merasa berkewajiban untuk membuatmu merasakan apa yang aku rasakan di lain kesempatan. Tidak banyak perempuan yang mempunyai laki-laki sebaik kamu. Selain itu, bukankah hubungan yang baik adalah hubungan yang saling.

Hari semakin gelap tetapi aku belum beranjak dari beranda. Langit hampir kehilangan jingga, dan aku membayangkan kamu berada di pesawat yang sedang terbang menuju Bali. Bali. Tempat yang aku inginkan untuk kita datangi bersama tetapi hingga saat ini belum terwujud. Entah kamu yang sibuk, entah aku yang mendadak dipanggil untuk mengerjakan sesuatu yang mendesak. Aku kembali justru ketika kamu sedang pergi. Dan setiap kali aku pulang dan menemukan rumah dalam keadaan kosong, rasanya ingin pergi lagi dan kembali nanti ketika kamu pun sudah kembali.

Berapa lama kamu di Bali? Satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Tak apa pergi lama, asal jangan lupa pulang. Karena ketika kamu kembali nanti, hal pertama yang akan kita lakukan adalah mengganti setiap detik yang kita lalui tanpa satu sama lain. Aku akan mendengarkan ceritamu tentang Bali sesuai yang kamu tahu dan sebaliknya, aku juga menceritakan tentang Bali dari kacamataku. Tidak ada bahasan mengenai politik, kebijakan pemerintah, perang di belahan bumi sana, atau topik-topik lain yang ramai dibicarakan para pengamat dadakan itu. Kenapa? Karena topik itu terlalu besar untuk dunia kecil yang hanya berisi kita.

Aku akan melihat lagi senyummu yang kaku dan malu-malu itu. Dan aku akan membuatmu tertawa dengan menceritakan lagi lelucon yang kamu suka. Lelucon yang tak pernah kehilangan kelucuannya meski diceritakan berulang-ulang. Bila pasangan kekasih lainnya berpelukan untuk meredakan tangis, maka kita berpelukan ketika sama-sama tertawa. Katamu, energi yang timbul pada saat kita tertawa tak boleh ke mana-mana. Harus kita simpan dalam diri satu sama lain melalui pelukan. Dari mana kamu mempelajari gombalan seperti itu?

Ah, betapa sempurnanya. Dan setiap kali memikirkan konsep tentang kamu, aku berpura-pura lupa bahwa yang sempurna hanya ada di kepala dan di beranda ini tak ada apa-apa.

***

Advertisements

One thought on “Pelajaran Pertama Tentang Perempuan

  1. Apresiasi Cerpen Indonesia says:

    Salam, kakak. Jadi lelaki susah juga ya? Mimin merasa laki-laki harus pintar main tebak-tebak berhadiah untuk mengetahui apa yang diinginkan perempuan, hihihi 🙂
    Mimin sebenarnya suka cerpen ini, tapi paragraf terakhir membuat Mimin sedikit ragu: apakah lelaki yang dibicarakan oleh tokoh utama benar ada? Atau hanya angan si tokoh utama saja? Terima kasih, kakak, Salam Apresiana 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s